Posts tagged: stress

ISTAR YULIADI

STRES DAN DISFUNGSI SEKSUAL

SUATU TINJAUAN PSIKONEUROIMUNOLOGI

Stress merupakan suatu keadaan yang alami dan sudah tidak asing lagi bagi kalangan masyarakat di seluruh dunia. Setiap orang kemungkinan pernah mengalami stress dalam berbagai bentuk dan tingkatan. Stres dapat mempengaruhi tubuh, pikiran dan perilaku.Ia menimbulkan perasaan gelisah, was-was, tidak nyaman, sulit tidur, tertekan hingga gangguan fisik (Hawari, 2008).

Stres mengaktifkan peringatan di otak, di mana responnya dapat berupa persiapan tubuh untuk tindakan pertahanan.Sistem saraf menjadi waspada dan hormon dikeluarkan untuk mempertajam pengindraan, mempercepat denyutan, memperdalam respirasi, dan ketegangan otot.Respon ini (disebut juga respon fight or flight) penting karena membantu untuk pertahanan terhadap situasi yang mengancam. Respon setiap orang hampir sama terhadap stresor tetapi bila situasi stresor tidak teratasi, tubuh tetap mempertahankan keadaan aktivasi, dengan peningkatan derajat ketakutan dan kewaspadaan terhadap sistem biologis. Terutama, kelelahan atau menghasilkan kerusakan tubuh, dan kemampuan tubuh untuk memperbaiki diri dan mempertahankan diri dapat menjadi tidak mampu mengimbangi dengan baik.Hasil akhirnya adalah peningkatan risiko sakit atau luka (NIOSH, 2008).

Prevalensi stress semakin meningkat baik dalam kalangan masyarakat yang tinggal di perkotaan, maupun yang tinggal di pedesaan. Bahkan di zaman global ini, stress cenderung lebih banyak menyerang masyarakat dengan tingkat perekonomian tinggi daripada masyarakat dengan tingkat perekonomian rendah, meskipun demikian terdapat perbedaan dari tingkatan-tingkatan stress yang dialami oleh masing-masing golongan masyarakat tersebut (Kisker,1997). Di Amerika, stres menjadi masalah besar karena 43% orang dewasa mengalami gangguan kesehatan akibat dari stres, 75-90% kunjungan ke pusat kesehatan berkaitan dengan stres.

Penelitian menunjukkan bahwa stress memberi kontribusi 50 sampai 70 persen terhadap timbulnya sebagian besar penyakit seperti penyakit kardiovaskuler, hipertensi, kanker, penyakit kulit, infeksi, penyakit metabolik, dan yang berat akan memperlihatkan tanda-tanda mudah lelah, sakit kepala, hilang nafsu, mudah lupa, bingung, gugup, kehilangan gairah seksual, kelainan pencernaan, dan tekanan darah tinggi (Hawari, 2008).

Stres emosional atau psikologik karena sebab apapun dapat menyebabkan terjadinya disfungsi seksual, walaupun seseorang tidak mengalami gangguan jiwa tertentu (Elvira, 2006). Faktor psikologis seperti adanya anxietas dan gangguan proses kognitif serta perhatian telah terbukti mempunyai dampak sebagai faktor yang dapat menyebabkan tidak sembuhnya disfungsi seksual atau menyebabkan kambuhnya disfungsi seksual (Cyranoswki dkk, 2009). Disfungsi dalam seksualitas mencakup gairah, bangkitan, orgasme, dan gangguan nyeri seksual (Amidu, 2010).Disfungsi seksual dan infertilitas adalah dua gangguan yang dapat saling berhubungan.Keduanya dapat menimbulkan distress pada pasangan dan mengurangi kepuasan dalam perkawinan (Tao, 2012).Disfungsi seksual terdiri dari berbagai macam gangguan yang secara klinis signifikan dalam kemampuan seseorang untuk berespon seksual atau untuk merasakan kesenangan seksual (American Psychiatric Association, 2013).

Para ahli perilaku telah mempelajari hubungan perilaku dengan sistem kekebalan tubuh yang sangat kompleks dan salah satu isu menarik adalah hubungan antara stress dengan sistem kekebalan tubuh. Akhir-akhir ini berkembang penelitian tentang hubungan antara perilaku, kerja saraf, fungsi endokrin dan imunitas.Penelitian-penelitian tersebut telah mendorong munculnya konsep baru yaitu psikoneuroimunologi. Responsivitas sistem imun terhadap stress menjadi konsep dasar psikoneuro-imunologi. Mekanisme hubungan tersebut diperantarai oleh mediator kimiawi seperti glukokortikoid, zat golongan amin dan berbagai polipeptida melalui aksis limbik hipotalamus-hipofisis-adrenal yang dapat menurunkan respon imun seperti aktifitas sel natural killer (NK), interleukin (IL-2R mRNA), TNF-dan produksi interferon gama (IFN) (Notosoedirdjo, 1999).