Posts tagged: lppm

Seks, Perkawian dan Selingkuh

SEKS, PERKAWINAN DAN SELINGKUH

Istar Yuliadi

PSKS LPPM UNS

istar_yuliadi@yahoo.com

Manusia sebagai makhluk sosial tentunya sangat membutuhkan orang lain dalam keberlangsungan hidupnya. Hal ini dilakukan karena kecenderungan manusia berusaha mempertahankan keadaan seimbang dalam tubuhnya (homeostasis). Kecenderungan ini disebabkan oleh keadaan organik individu yang sewaktu-waktu tidak seimbang dan kondisi ini memunculkan suatu motif pada diri individu yang disebut motif primer. Salah satu bentuk motif primer adalah kebutuhan akan seks, bahkan kebutuhan ini merupakan salah satu aspek penting dalam menentukan kualitas hidup manusia. Kebutuhan ini dapat tersalurkan berbagai cara, salah satunya melalui aktivitas seksual/hubungan seksual (dalam Yuliadi, 2014). Pada sebagian besar masyarakat, hubungan seksual dapat diperoleh melalui lembaga pernikahan atau perkawinan (dalam Desmita, 2010).

Perkawinan merupakan ikatan lahir batin dan persatuan antara dua individu yang berasal dari keluarga, sifat, kebiasaan dan budaya yang berbeda (dalam Anjani, 2006). Perkawinan merupakan salah satu tahap dalam kehidupan yang penting bagi semua individu karena ketika individu telah menyadari bahwa dirinya memiliki kebutuhan akan seks yang mengarah pada perkembangan hubungan seksual dengan lawan jenis yang dicintai maka perkawinan sangat dibutuhkan untuk melegalkan kebutuhan ini karena dianggap suci bagi sebagian besar masyarakat, sehingga ketika dua individu telah mengikat diri dalam ikatan perkawinan, keduanya dapat melakukan hubungan seksual yang sah. Kehidupan seksual di dalam perkawinan merupakan kehidupan seksual bersama antara suami istri sebagai satu pasangan sebagai bentuk komunikasi yang paling dalam (dalam Yuliadi, 2005). Oleh karena itu, seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, sebagai bentuk komunikasi antar pasangan maka kehidupan seksual individu yang menyenangkan akan memberikan pengaruh positif bagi kualitas hidupnya, begitupula sebaliknya (Pangkahila, 2007 dalam Yuliadi, 2014). Seksualitas dalam perkawinan bukan hanya sebagai pengukur kualitas hidup manusia, namun juga memiliki beberapa fungsi.

Fungsi seksualitas dalam perkawinan diantaranya sebagai sarana untuk reproduksi (prokreasi), sarana untuk memperoleh kesenangan (rekreasi), sarana mengekspresikan rasa cinta (ekspresi) dan sarana komunikasi bagi pasangan suami istri (institusi) (dalam Yuliadi, 2014). Oleh karena itu, fungsi seksual dalam perkawinan turut menetukan, warna, kelekatan dan kekompakan pasangan suami istri (Elvira, 2006 dalam Yuliadi, 2014).

Salah satu hasil penelitian mengenai pola penyesuaian perkawinan pada periode awal menunjukkan bahwa masalah seksual akan menjadi salah satu sumber masalah yang dapat mengancam rumah tangga seseorang (dalam Anjani, 2006). Hal ini dikarenakan masalah penyesuaian seksual dalam perkawinan menjadi salah satu penyebab pertengkaran atau ketidakbahagiaan pasangan (Hurlock, 2002).

Sosialisasi seksologi pada usia menjelang andropause dan menopause pada staff dan karyawan di lingkungan LPPM UNS

PROSES PENUAAN PRIA DAN DAMPAKNYA TERHADAP POTENSI SEKSUAL DAN REPRODUKSI

Dicky Moch Rizal

Departemen Fisiologi FK UGM

dickymd@yahoo.com

Pertambahan usia akan selalu berdampak pada penurunan kualitas hidup. Secara fisiologis atau normal, seiring pertambahan usia fungsi tubuh akan menurun. Daya ingat menurun, otot melemah, tulang keropos, dan kejadian lainnya yang pada akhirnya akan menyebabkan munculnya berbagai persoalan dalam kehidupan sehari-hari. Bila persoalan ini tidak dipahami, maka akan tyerus berlanjut menjadi persoalan sosial yang serius. Pengeluaran biaya untuk pengobatan berbagai keluhan masa tua sering kali menjadi persoalan yang pelik yang disebabkan oleh penghasilan yang juga menurun. Penurunan fungsi organ terjadi disemua sistem tubuh, tidak terkecuali sistem reproduksi. Tulisan ini akan menyajikan secara sederhana mengenai teori penuaan pria dan dampaknya terhadap sistem reproduksi.

Teori penuaan

Seringkali seorang yang mengalami penuaan dianggap sebagai sesuatu yang wajar dalam menyikapi munculnya penyakit degeneratif atau penyakit yang muncul karena proses penuaan alami tubuh. Tetapi bila penurunan fungsi dari organ tibuh ternyata tidak sesuai dengan usia yang ada, maka dianggap sebagai sesuatu yang tidak wajar. Secara umum dikenal adanya 2 jenis istilahh untuk menggambarkan usia ;

1. Usia biologis. Usia biologis adalah usia yang sesuai dengan fungsi tubuh. Jadi bila seseorang berusia 20-35 tahun atau usia reproduksi, maka seharusnya ini adalah saat paling optimal buat fungsi tubuh pada umumnya.

2. Usia kronologis. Usia kronologis adalah usia yang dihitung menurut awal kehidupannya. Ini adalah usia yang sering kali dicantumkan sebagai usia kita di berbagai surat keterangan.

Pada beberapa kondisi, muncul beerbagai keluhan yang terkait dengan penyakit degeneratif tetapi diusia yang masih sangat muda dimana seharusnya keluhan tersebut belum saatnya muncul, inilah yang sering disebut sebagai penuaan dini. Sebagai contoh adalah munculnya penyakit diabetes mellitus di usia 20-30 tahun, penyakit rematik atau hipertensi di usia 20-30th dan sebagainya. Jika hal ini terkait dengan seksualitas, keluhan yang muncul adalah disfungsi libido atau penurunan keinginan seksual yang dikaitkan dengan penurunan kadar hormon testosteron diusia kurang dari 40 tahun, dimana potensi seksual seharusmya masih optimal diusia tersebut. Bila dikaitkan dengan pengertian usia tersebut, yang terjadi adalah usia biologis tidak sesuai dengan usia biologisnya. Usia kronologisnya masih muda tetapi usia biologisnya seperti sudah kakek-kakek. Meskipun demikian apabila seorang bisa menjaga kesehatan dan kebiugaran dengan baik, maka bisa terjadi usia kronologisnya sudah lanjut tapi fungsi tubuhnya masih sangat baik seperti usia yang sangat muda.

Beberapa faktor yang terkait dengan penuaan

Berikut ini kami tuliskan beberapa faktor yang berkaitan dengan teori penyebab penuaan yang seringkali dikaitkan dengan penuaan pada sistem reproduksi dan seksualitas.

1. Penurunan hormon.

Hormon adalah pengatur bagi aktifitas tubuh manusia yang utama disamping sistem saraf. Bila seorang pria mengalami penurunan hormon testosteron yang terjadi karena berbagai hal, maka akan terjadi proses penurunan fungsi tubuh termasuk didalamnya adalah seksualitas. Hormon tetsosteron adalah hormon yang bertanggungjawab bagi fungsi reproduksi dan seks pria. Beberapa hal berikut ini dapat menyebabkan penurunan hormon testosteron :

a. Penyakit diabetes mellitus

b. Penyakit hormon tiroid

c. Infeksi pada testis

d. Kelainan bawaan testis

e. Benturan pada testis

Bagaimana mengetahui penurunan hormon testosteron ini? Secara medis seorang dokter akan menganjurkan pasien untuk memeriksakan kadar testosteron dalam darah di laboratorium. Sedangkan secara sederhana penurunan testosteron ini dapat dikenali melalui penilaian dengan emnggunakan ADAM Score, yaitu daftar pertanyaan yang mengarah pada pengetahuan keluhan atau kondisi yang terkait dengan penurunan hormon, antara lain :

· Penurunan libido

· Penurunan fungsi ereksi

· Penurunan daya ingat

· Penurunan tinggi badan

· Mengantuk saat setelah makan

· Perasaan hati yang mudah berubah

· Otot yang melemah

· Performa kerja yang menurun

Bila didapatkan penurunan libido dan disfungsi ereksi, maka besat kemungkinan mengalami penurunan testosteron.

Selain seksualitas penurunan testosteron juga berdampak pada munculnya penyakit lain seperti gangguan lemak, hipertensi, diabetes, stroke, pikun dan osteoporosis. Dengan demikian bisa mengganggu kualitas hidup seorang pria yang mengalaminya. Seiring dengan bertambahnya usia pria, maka penurunan alami hormon testosteron pasti terjadi meskipun secara perlahan.

2. Radikal bebas

Kehidupan sehari-hari kita saat ini dipenuhi dengan aktifitas yang terkait atau seringkali berhubungan langsung dengan pencemaran lingkungan. Ketahanan tubuh terhadap penyakit kurang baik sehingga tubuh mudah sakit. Sel tubuh bisa rusak karena faktor-faktor lingkungan, baik itu lingkungan luar berupa polusi ataupun gaya hidup serta asupan makanan yang tidak baik. Zat-zat beracun melalui pengawet makanan, pewarna makanan dsb dapat mengancam kesehatan tubuh. Jika hal ini berlangsung secara terus menerus dan tubuh tidak dapat mempertahankan diri dengan pertahanan tubuh yang baik, maka semakin lama sel-sel tubuh akan rusak. Dampaknya fungsi porgan tubuh juga akan menurun, bahkan bisa terjadi jauh lebih dini. Seringkali kita menganggap remeh dengan pencemaran udara akibat merokok, asap kendaraan, asap pabrik karena memang dampaknya bisa jangka panjang terhadap kerusakan organ tubuh. Air minum yang tercemar oleh limbah pabrik dan makanan cepat saji juga berkontribusi cukup besar terhadap proses degenerasi tubuh. Jika hal ini juga terjadi pada sel-sel penghasil hormon, maka sistem reproduksi dan seksualitas juga akan terganggu. Apabila hal ini mempengaruhi kesehatan pembuluh darah, maka seksualitaspun juga akan menurun misalnya dengan keluhan disfungsi ereksi. Makanan yang sehat bebas dari pengawet atau pewarna harus dicukupi karena dapat menjadi upaya atau benteng terhadap penumpukan radikal bebas di tubuh.

3. Stres psikologis

Problematika kehidupan akan memunculkan tekanan-tekanan terhadap pikiran untuk mendapatkan solusi yang tepat dan jitu. Selama kita masih bisa menghadapi permasalahan tersebut dengan baik, maka kita akan lepas dari masalah yang satu untuk kemudian bersiap menghadapi masalah yang lain. Stres kehidupan sebenarnya juga menyerang ketahanan organ tubuh manusia. Oleh sebab itu, dikenal istilah psikosomatis, yaitu kondisi gangguan fungsi tubuh yang terkait dengan ketidak mampuan mengatasi stres psikologis. Banyak penelitian yang sudah dilakukan didunia kedokteran yang berhasil membuktikan keterkaitan yang erat antara stres psikologis dengan gangguan fungsi tubuh. Dimulai dengan adanya stres, maka akan mengakibatkan peningkatan hormon yang bernama kortisol yang seharusnya dapat merespon stres tersebut. Tetapi bila stres ini berat, maka kortisol akan meningkat tajam dan mengganggu fungsi organ tubuh. Bagaimana dengan kondisi seksualitas dan reproduksi pria terkait dengan stres? Adanya peningkatan hormon kortisol juga dapat menyebabkankan penurunan hormon testosteron. Sehingga bila seorang pria usia muda mengalaminya, maka pria tersebut dapat mengalami penurunan potensi seksual lebih dini seolah mempunyai potensi seksual seorang pria usia tua. Penurunan hormon testosteron akan diikuti dnegan penurunan libido dan akhirnya benar-benar tidak mampu menjalani kehidupan seksual yang baik. Demikian pula dengan potensi produksi sperma juga akan mengalami penurunan, sehingga kondisi ini mirip dengan potensi kesuburan diusia tua yang memang seharusnya sudah menurun secara alami.

Usia bukanlah satu-satunya yang harus dijadikan sebagai tertuduh dalam memahami penurunan fungsi tubuh termasuk fungsi reproduksi dan seksualitas seorang pria. Pertambahan usia akan memngakibatkan penurunan potensi seks dan reproduksi secara umum tetapi hal ini seharusnya berjalan secara bertahap. Kesehatan dan kebugaran tubuh sangat berpengaruh terhadap ketahan tubuh terhadap penurunan ini. Bila tubuh gagal dalam menjaga kesehatan dan kebugarannya, maka fungsi organ akan menurun, meskipun usia belum menunjukkan lanjut. Sebaliknya bila kita dapat menjaga kesehatan dan kebugaran tubuh, maka penurunan potensi akan berjalan sedikit demi sedikit bahkan gangguan kesehatan yang lainpun dapat kita hindari lebih jauh akibat buruknya.

ISTAR YULIADI

STRES DAN DISFUNGSI SEKSUAL

SUATU TINJAUAN PSIKONEUROIMUNOLOGI

Stress merupakan suatu keadaan yang alami dan sudah tidak asing lagi bagi kalangan masyarakat di seluruh dunia. Setiap orang kemungkinan pernah mengalami stress dalam berbagai bentuk dan tingkatan. Stres dapat mempengaruhi tubuh, pikiran dan perilaku.Ia menimbulkan perasaan gelisah, was-was, tidak nyaman, sulit tidur, tertekan hingga gangguan fisik (Hawari, 2008).

Stres mengaktifkan peringatan di otak, di mana responnya dapat berupa persiapan tubuh untuk tindakan pertahanan.Sistem saraf menjadi waspada dan hormon dikeluarkan untuk mempertajam pengindraan, mempercepat denyutan, memperdalam respirasi, dan ketegangan otot.Respon ini (disebut juga respon fight or flight) penting karena membantu untuk pertahanan terhadap situasi yang mengancam. Respon setiap orang hampir sama terhadap stresor tetapi bila situasi stresor tidak teratasi, tubuh tetap mempertahankan keadaan aktivasi, dengan peningkatan derajat ketakutan dan kewaspadaan terhadap sistem biologis. Terutama, kelelahan atau menghasilkan kerusakan tubuh, dan kemampuan tubuh untuk memperbaiki diri dan mempertahankan diri dapat menjadi tidak mampu mengimbangi dengan baik.Hasil akhirnya adalah peningkatan risiko sakit atau luka (NIOSH, 2008).

Prevalensi stress semakin meningkat baik dalam kalangan masyarakat yang tinggal di perkotaan, maupun yang tinggal di pedesaan. Bahkan di zaman global ini, stress cenderung lebih banyak menyerang masyarakat dengan tingkat perekonomian tinggi daripada masyarakat dengan tingkat perekonomian rendah, meskipun demikian terdapat perbedaan dari tingkatan-tingkatan stress yang dialami oleh masing-masing golongan masyarakat tersebut (Kisker,1997). Di Amerika, stres menjadi masalah besar karena 43% orang dewasa mengalami gangguan kesehatan akibat dari stres, 75-90% kunjungan ke pusat kesehatan berkaitan dengan stres.

Penelitian menunjukkan bahwa stress memberi kontribusi 50 sampai 70 persen terhadap timbulnya sebagian besar penyakit seperti penyakit kardiovaskuler, hipertensi, kanker, penyakit kulit, infeksi, penyakit metabolik, dan yang berat akan memperlihatkan tanda-tanda mudah lelah, sakit kepala, hilang nafsu, mudah lupa, bingung, gugup, kehilangan gairah seksual, kelainan pencernaan, dan tekanan darah tinggi (Hawari, 2008).

Stres emosional atau psikologik karena sebab apapun dapat menyebabkan terjadinya disfungsi seksual, walaupun seseorang tidak mengalami gangguan jiwa tertentu (Elvira, 2006). Faktor psikologis seperti adanya anxietas dan gangguan proses kognitif serta perhatian telah terbukti mempunyai dampak sebagai faktor yang dapat menyebabkan tidak sembuhnya disfungsi seksual atau menyebabkan kambuhnya disfungsi seksual (Cyranoswki dkk, 2009). Disfungsi dalam seksualitas mencakup gairah, bangkitan, orgasme, dan gangguan nyeri seksual (Amidu, 2010).Disfungsi seksual dan infertilitas adalah dua gangguan yang dapat saling berhubungan.Keduanya dapat menimbulkan distress pada pasangan dan mengurangi kepuasan dalam perkawinan (Tao, 2012).Disfungsi seksual terdiri dari berbagai macam gangguan yang secara klinis signifikan dalam kemampuan seseorang untuk berespon seksual atau untuk merasakan kesenangan seksual (American Psychiatric Association, 2013).

Para ahli perilaku telah mempelajari hubungan perilaku dengan sistem kekebalan tubuh yang sangat kompleks dan salah satu isu menarik adalah hubungan antara stress dengan sistem kekebalan tubuh. Akhir-akhir ini berkembang penelitian tentang hubungan antara perilaku, kerja saraf, fungsi endokrin dan imunitas.Penelitian-penelitian tersebut telah mendorong munculnya konsep baru yaitu psikoneuroimunologi. Responsivitas sistem imun terhadap stress menjadi konsep dasar psikoneuro-imunologi. Mekanisme hubungan tersebut diperantarai oleh mediator kimiawi seperti glukokortikoid, zat golongan amin dan berbagai polipeptida melalui aksis limbik hipotalamus-hipofisis-adrenal yang dapat menurunkan respon imun seperti aktifitas sel natural killer (NK), interleukin (IL-2R mRNA), TNF-dan produksi interferon gama (IFN) (Notosoedirdjo, 1999).

Remaja dan Permasalahannya

ISTAR YULIADI, dr, M.Si


REMAJA
dan permasalahannya

Pendahuluan

MASA REMAJA

Masa remaja adalah masa transisi antara masa kanak-kanak dengan dewasa dan relatif belum mencapai tahap kematangan mental dan sosial sehingga mereka harus menghadapi tekanan-tekanan emosi dan sosial yang saling bertentangan.

— Karakteristik masa remaja

— Periode penting

— Masa peralihan

— Periode perubahan

— Usia bermasalah

— Pencarian identitas

— Usia yang ditakutkan

— Tidak realistik

— Ambang dari masa dewasa

Mata Rantai
Permasalahan Sex

PERMASALAHAN DALAM REMAJA SEBAGIAN BESAR SELALU BERKAITAN DENGAN SEKS PRA NIKAH ATAU SEKS BEBAS
(FREE SEKS) !!!!!

Seks Bebas (Free Sex)

Epidemiologi Seks Bebas (1)

Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) à 63% remaja di beberapa kota besar melakukan hubungan seks pranikah

(BKKBN, 2011)

EPIDEMIOLOGI SEKS BEBAS (2)

Penyebab Seks Bebas : Faktor Biologis

Penyebab Seks Bebas :
Faktor Keluarga dan Sosio Kultural

Penyebab Seks Bebas :
Pengaruh Psikologis dan Perilaku

Penyebab Seks Bebas :
Pengaruh Psikologis dan Perilaku

Dampak Nonmedis Seks Pranikah

Dampak Medis Seks Pranikah

Kehamilan tidak diinginkan dan abosi

— 37,5% kehamilan di dunia merupakan kehamilan tidak diinginkan

— 50 juta dari 75 juta kehamilan yang tidak diinginkan dilakukan pengguguran; 20 juta dengan cara aborsi yang tidak aman

(WHO, 2012)

Dampak Medis Seks Pranikah : Penularan Penyakit Menular Seksual (PMS) (1)

— Gonore disebabkan oleh bakteri Neisseria gonorrhoeae

— timbul dalam waktu 2 – 7 hari setelah terinfeksi

— Gejalanya berawal sebagai rasa tidak enak pada urethra dan kemudian diikuti oleh nyeri ketika berkemih serta keluarnya nanah dari penis (Daili et al, 2003; CDC, 2012)

Dampak Medis Seks Pranikah : Penularan Penyakit Menular Seksual (PMS) (2)

— Sifilis adalah penyakit kelamin menular yang disebabkan oleh Treponema pallidum (Daili et al, 2003; CDC, 2012)

— Gejala bervariasi luas dan disebut sebagai “Peniru Besar”, semakin lanjut tahapannya bisa menyebabkan komplikasi dan berakibat fatal (Daili et al, 2003; CDC, 2012)

Dampak Medis Seks Pranikah : Penularan Penyakit Menular Seksual (PMS) (3)

— Herpes genitalis disebabkan oleh infeksi dari Herpes Simplex Virus (HSV) (Daili et al, 2003; CDC, 2012)

Dampak Medis Seks Pranikah : Penularan Penyakit Menular Seksual (PMS) (4)

— Kutil Genitalis (Condiloma Accuminata) merupakan kutil di dalam atau di sekeliling vagina, penis atau dubur, yang ditularkan melalui hubungan seksual

— Disebabkan Human Papiloma Virus tipe 16 dan 18

— Bisa menyebabkan kanker leher rahim (Daili et al, 2003; CDC, 2012)

Dampak Medis Seks Pranikah : Penularan Penyakit Menular Seksual (PMS) (5)

— Infeksi Chlamydia trachomatis sering tidak menimbulkan gejala

— Dapat menyebabkan kehamilan ektopik, infertilitas dan abortus

— Penyebab limfogranuloma venereum (Daili et al, 2003; CDC, 2012)

Dampak Medis Seks Pranikah :
Penularan HIV/AIDS (1)

— Human Immunodeficiency Virus (HIV) dan Acquired Immune Deficiency Syndrome (AIDS)

— Virus HIV ditemukan dalam cairan tubuh manusia, dan paling banyak ditemukan pada :

— darah,

— cairan sperma

— cairan vagina

Dampak Medis Seks Pranikah :
Penularan HIV/AIDS (2)

— 75-85% penularan terjadi melalui hubungan seks

— 5-10% diantaranya melalui hubungan homoseksual,

— 5-10% akibat alat suntik yang tercemar (terutama pada pemakai narkotika suntik),

— 3-5% melalui transfusi darah yang tercemar

— > 80% diderita oleh kelompok usia produktif (15-49 tahun) terutama laki-laki, tetapi proporsi penderita wanita cenderung meningkat (Daili et al, 2003; CDC, 2012)

MACAM-MACAM GANGGUAN ORIENTASI SEKSUAL

MEROKOK

tobacco’s effect is “always to destroy life.“ : Rev. Orin S. Fowler, Disquisition on the Evils of Using Tobacco, and the Necessity of Immediate and Entire Reformation (Providence: S. R. Weeden, 1833), cigarette smoke is composed of over 4,000 chemicals

ROKOK DAN PENYAKIT

— Kanker kandung kemih

— Kanker perut

— Kanker usus dan rahim

— Kanker mulut

— Kanker esofagus

— Kanker tenggorokan

— Kanker pankreas

ROKOK DAN PENYAKIT (lanjutan)

Penyakit yang paling umum menyerang perokok:

vPenyakit Kardiovaskular

vKanker

vChronic Obstructive Pulmonary Diseases (COPD)

vImpotensi

ROKOK DAN PENYAKIT (lanjutan)

vPenyakit Kardiovaskular

Merokok → Me ↑ proses pengerasan dan penyempitan arteri; terjadi lebih awal dan gumpalan darah terjadi 2 – 4 kali lebih cepat. Penyakit kardiovaskular dapat terjadi dengan berbagai bentuk tergantung pembuluh darah mana yang terlibat.

— ROKOK DAN PENYAKIT (lanjutan)

vKanker

Khususnya kanker paru, kanker kerongkongan dan kanker mulut, yang biasanya jarang terjadi pada non-perokok.

Kanker lainnya:

— kanker kandung kencing

— kanker pada oesophagus

— kanker pada ginjal

— kanker pada pankreas

— kanker serviks

— ROKOK DAN PENYAKIT (lanjutan)

— ROKOK DAN PENYAKIT (lanjutan)

Mekanisme umum kerusakan paru yang diakibatkan asap rokok

Kerusakan paru dapat melalui 3 mekanisme yaitu:

* Cedera akibat oksidasi

* Karsinogenesis

* Aktivasi imunologik

— ROKOK DAN PENYAKIT (lanjutan)

— ROKOK DAN PENYAKIT (lanjutan)

v Chronic Obstructive Pulmonary Diseases (COPD)

— emfisema – disebabkan kerusakan alveoli

— bronkhitis kronik

Rokokà Penyempitan diameter saluran napas à peningkatan produksi mukus à bronkokonstriksià hambatan aliran udara  sulit bernafas

— ROKOK DAN PENYAKIT (lanjutan)

Impotensi

Nikotin :

menyempitkan arteri yang menuju penis

mengurangi aliran darah dan tekanan darah menuju penis.

Masalah ereksi à peringatan awal bahwa rokok telah merusak area lain dari tubuh .

Contoh:pembuluh darah yang mensuplai jantung.

— Gaya hidup sehat

OTAK YANG SEHAT

Sportif

Kerja keras

Jujur

Cerdas

Teguh

Pantang menyerah

Percaya diri

Loyal

Selalu berdzikir

Sulit marah

Mudah memaafkan

Tinggi budi

Rendah hati

Pemberani

Disiplin

Tanggung jawab

Mengalah

,dll

KESIMPULAN

— Melakukan pergaulan yang sehat

— Hindarilah rangsangan seksual

— Meningkatkan iman dan takwa

— Memilih tempat/ lingkungan kos/

tempat tinggal yang baik.

— Mengisi waktu kosong dengan kegiatan bermanfaat.

— Pergaulan yang baik.

— Mempelajari ilmu kesehatan

— Menanamkan rasa takut pada Tuhan

Sumber

— Ajen Dianawati, 2003, Pendidikan Seks Untuk Remaja. Cetakan 1, Kawan Pustaka,Jakarta

— Hurlock, EB. 2002. Psikologi Perkembangan. Jakarta : Erlangga

— Papalia, dkk. 2008. Human Development. Jakarta : Salemmba Humanika

— Sarwono, 2003. Psikologi Remaja.Penerbit Raja Grafindo Persada, Jakarta

— Singgih D. Gunarsa dan Yulia , 2001,Psikologi Praktis Anak, Remaja Dan Keluarga,Cetakan 6, Gunung Mulia, Jakarta

— Ulwan, AN. 2009. pendidikan Seks untuk anak. Surakarta : Pustaka Iltizam

— Willis, S. S. 2005. Remaja Dan Masalahnya. Bandung: Alfabeta

Sosialiasai Seksologi Pada Usia Menjelang Andropause dan Menopause Pada Staff dan Karyawan di Lingkungan LPPM UNS


ANATOMI DAN FISIOLOGI SISTEM REPRODUKSI MANUSIA

ANATOMI DAN FISIOLOGI SISTEM REPRODUKSI MANUSIA

dr.Isna Qadrijati,MKes

Disampaikan pada acara SIMPOSIUM REPRODUCTIVE HEALTH WOMEN DURING THE LIFE CYCLE, Aula PKU RS.Muhammadiyah Surakarta, tanggal 19 September 2011

PENDAHULUAN

Pengetahuan tentang Anatomi dan Fisiologi sistem reproduksi pada manusia merupakan ilmu yang paling dasar/basic bagi setiap pelaku kesehatan reproduksi khususnya para wanita. Dalam makalah ini akan dibahas dua hal yaitu  tentang  ANATOMI SISTEM REPRODUKSI MANUSIA yng menerngkan tentang Anatomi Saluran Reproduksi Laki-laki dan Anatomi Saluran Reproduksi Wanita. Selain itu juga dibahas mengenai  FISIOLOGI SISTEM REPRODUKSI MANUSIA yang meliputi : Pubertas pada Anak laki-laki,Pubertas pada Anak wanita,Fisiologi reproduksi laki-laki,Siklus mestruasi,Respon Seksual Manusia,Fertlisasi dan terjadinya kehamilan, serta Menopause.

ANATOMI SISTEM REPRODUKSI MANUSIA

Organ reproduksi membentuk traktus genetalis yang berkembang setelah traktus urinarius. Kelamin laki-laki maupun wanita semenjak lahir sudah dapat ditentukan, tetapi sifat-sifat kelamin belum dapat dikenal (Syaifudin,1997).

1. Anatomi Saluran Reproduksi Laki-laki

TESTIS

Testis merupakan sepasang struktur berbentuk oval,agak gepeng dengan panjang sekitar 4 cm dan diameter sekitar2.5 cm. Testis berada didalam skrotum bersama epididimis yaitu kantung ekstraabdomen tepat dibawah penis. Dinding pada rongga yang memisahkan testis dengan epididimis disebut tunika vaginalis. Tunika vaginalis dibentuk dari peritoneum intraabdomen yang bermigrasi ke dalam skrotum primitive selama perkembangan genetalia interna pria, setelah migrasi ke dalam skrotum, saluran tempat turunnya testis (prosesus vaginalis) akan menutup.

EPIDIDIMIS

Merupakan suatu struktur berbentuk koma yang menahan batas posterolateral testis. Epididimis dibentuk oleh saluran yang berlekuk-lekuk secara tidak teratur yang disebut duktus epididimis. Panjang duktus epididimis sekitar 600 cm. Duktus ini berawal dari puncak testis (kepala epididimis) dan berjalan berliku-liku, kemudian berakhir pada ekor epididimis yang kemudian menjadi vas deferens. Epididimis merupakan tempat terjadinya maturasi akhir sperma.

SCROTUM

Skrotum pada dasarnya merupakan kantung kulit khusus yang melindungi testis dan epididimis dari cedera fisik dan merupakan pengatur suhu testis. Spermatozoa sangat sensitive terhadap suhu karena testis dan epididimis berada di luar rongga tubuh, suhu di dalam testis biasanya lebih rendah daripada suhu di dalam abdomen.

VAS DEFERENS

Vas deferens merupakan lanjutan langsung dari epididimis. Panjangnya 45 cm yang berawal dari ujung bawah epididimis, naik disepanjang aspek posterior testis dalam bentuk gulungan-gulungan bebas, kemudian meninggalkan bagian belakang testis, duktus ini melewati korda spermatika menuju abdomen.

VESICULA SEMINALIS

Merupakan sepasang struktur berongga dan berkantung-kantung pada dasar kandung kemih di depan rectum. Masing-masing vesicular memiliki panjang 5 cm dan menempel lebih erat pada kandung kemih daripada pada rectum. Pasokan darah ke vas deferens dan vesikula seminalis berasal dari arteri vesikulkaris inferior. Arteri ini berjalan bersama vas deferens menuju skrotum beranastomosis dengan arteri testikukar, sedangkan aliran limfatik berjalan menuju ke nodus iliaka interna dan eksterna. Vesikula seminalis memproduksi sekitar 50-60 % dari total volume cairan semen. Komponen penting pada semen yang berasal dari vesukula seminalis adalah fruktosa dan prostaglandin.

KELENJAR PROSTAT

Kelenjar prostat merupakan organ  dengan sebagian strukturnya merupakan kelenjar dan sebagian lagi otot dengan ukuran sekitar 2,3 x 3,5 x 4,5 cm. Organ ini mengililingi uretra pria, yang terfiksasi kuat oleh lapisan jaringan ikat di belakang simpisis pubis. Lobus media prostat secara histologis sebagai zona transisional berbentuk baji, mengelilingi uretrra dan memisahkannya dengan duktus ejakulatorius. Saat terjadi hipertropi, lobus media dapat menyumbat aliran urin. Hipertropi lobus media banyak terjadi pada pria usia lanjut.

PENIS

Penis terdiri jaringan kavernosa (erektil) dan dilalui uretra. Ada dua permukaan yaitu permukaan posterior penis teraba lunak (dekat uretra) dan permukaan dorsal. Jaringan erektil penis tersusun dalam tiga kolom longitudinal, yaitu sepasang korpus kavernosum dan sebuah korpus spongiousum di bagian tengah. Ujung penis disebut glans. Glands penis ini mengandung jaringan erektil dan berlanjut ke korpus spongiosum. Glans dilapisi lapisan kulit tipis berlipat, yang dapat ditarik ke proksimal disebut prepusium (kulit luar), prepusium ini dibuang saat dilkukan pembedahaan (sirkumsisi). Penis berfungsi sebagai penetrasi. Penetrasi pada wanita memungkinkan terjadinya deposisi semen dekat serviks uterus.

1.       Anatomi Saluran Reproduksi Wanita

Organ reproduksi wanita secara umum dibagi dua, yaitu organ reproduksi wanita yang terdapat di luar dan di dalam tubuh. Organ reproduksi wanita ada di dalam rongga pelvis.

RONGGA PELVIS

Terletak di bawah,berhubungan dengan rongga abdomen, dibentuk oleh os iski dan os pubis pada sisi samping dan depan, os sakrum dan os koksigis membentuk batas belakang dan pinggiran pelvis dibentuk oleh promontorium sakrum di belakang iliopektinal sebelah sisi samping dan depan dari tulang sakrum (Syaifudin,1997).

PINTU KELUAR PELVIS (PINTU BAWAH)

Dibatasi oleh os koksigis dibelakang simfisis pubis, di depan lengkung os pubis,os iski, serta ligamentum yang berjalan dari os iski dan os sakrum disetiap sisi, pintu keluar ini membentuk lantai pelvis (Syaifudin,1997).

ISI PELVIS

Kandung kemih dan dua buah ureter terletak dibelakang simfisis, kolon sigmoid sebelah kiri fosa iliaka dan rektum terletak di sebelah belakang rongga mengikuti lengkung sakrum. Kelenjar limfe, serabut saraf fleksus lumbosakralis untuk anggota gerak bawah cabang pembuluh darah a.iliaka interna dan v.iliaka interna berada di dalam pelvis (Syaifudin,1997).

Genetalia pada wanita terpisah dari urethra, dan mempunyai saluran tersendiri. Alat reproduksi wanita dibagi menjadi 2 bagian yaitu :

a.       ALAT GENITALIA LUAR (VULVA)

Vulva terbagi atas sepertiga bagian bawah vagina,klitoris, dan labia.Hanya mons dan labia mayora yang dapat terlihat pada genetalia eksterna wanita. Arteri pudenda interna mengalirkan darah ke vulva. Arteri ini berasal dari arteri iliaka interna bagian posterior, sedangkan aliran limfatik dari vulva mengalir ke nodus inguinalis.

Alat genetalia luar terdiri dari :

1). Mons veneris/pubis (Tundun)

Bagian yang menonjol berupa tonjolan lemak yang besar terletak di di atas  simfisis pubis. Area ini mulai ditumbuhi bulu pada masa pubertas (Syaifudin, 1997).

2). Labia Mayora (bibir besar)

Dua lipatan dari kulit diantara kedua paha bagian atas. Labia mayora banyak mengandung urat syaraf (Syaifudin, 1997). Labia mayora merupakan struktur terbesar genetalia eksterna wanita dan mengelilingi organ lainnya, yang berakhir pada mons pubis.

3) Labia Minora (bibir kecil)

Berada di sebelah dalam labia mayora. Jadi untuk memeriksa labia minora, harus membuka labia mayora terlebih dahulu.

4). Klitoris (Kelentit)

Sebuah jaringan ikat erektil kecil kira-kira sebesar biji kacang hijau yang dapat mengeras dan tegang (erectil) yang mengandung urat saraf (Syaifudin, 1997), jadi homolog dengan penis dan merupakan organ perangsang seksual pada wanita.

5). Vestibulum (serambi)

Merpakan rongga yang berada di antara bibir kecil (labia minora), muka belakang dibatasi oleh klitoris dan perineum. Dalam vestibulum terdapat muara-muara dari : liang senggama (introitus vagina),urethra,kelenjar bartolini, dan kelenjar skene kiri dan kanan (Syaifudin, 1997).

6). Himen (selaput dara)

Lapisan/membran tipis yang menutupi sebagian besar dari liang senggama, ditengahnya berlubang supaya kotoran menstruasi dapat mengalir keluar, letaknya mulut vagina pada bagian ini, bentuknya berbeda-beda ada yang seperti bulan sabit. Konsistensinya ada yang kaku, dan ada yang lunak, lubangnya ada yang seujung jari, ada yang dapat dilalui satu jari (Syaifudin,1997). Himen mungkin tetap ada selama pubertas atau saat hubungan seksual pertama kali.

7). Perineum (kerampang)

Merupakan bagian terendah dari badan berupa sebuah garis yang menyambung kedua tuberositas iski, daerah depan segitiga kongenital dan bagian belakang segitiga anal, titik tengahnya disebut badan perineum terdiri dari otot fibrus yang kuat di sebelah depan anus

Terletak diantara vulva dan anus, panjangnya lebih kurang 4 cm (Syaifudin, 1997).

“Penyuluhan Pegaruh Gizi terhadap Daya Tahan Pekerja Batik di Kota Surakarta”

ABSTRAK

Penyuluhan Pegaruh Gizi terhadap Daya Tahan Pekerja Batik di Kota Surakarta

Ipop Syarifah*, Cr. Siti Utari*, Istar Yuliadi*, Sri Hartati H.*

Tujuan Pengabdian ini adalah mengadakan penyuluhan untuk meningkatkan pengetahuan para pekerja perajin batik tulis dalam hal kesehatan pada umumnya dan gizi pada khususnya, seperti kita ketahui untuk produksi satu lembar batik tulis memerlukan suatu proses yang cukup lama, karena memerlukan penanganan khusus dan cermat, pekerjaan yang lama seperti ini jika tidak diimbangi dengan perhatian dari segi gizi dapat mempengaruhi tingkat kesehatan. Salah satu tolok ukur tingkat atau derajat kesehatan manusia adalah dengan mengetahui kadar hemoglobin (Hb), adanya anemia karena kekurangan Hb dapat menurunkan produktivitas dari pekerja.

Metode yang digunakan dalam pengabdian ini adalah berupa penyuluhan tentang pentingnya memperhatikan gizi pekerja.

Diharapkan dengan pengabdian ini dapat diperoleh gambaran secara umum keadaan gizi para pekerja perajin batik tulis.di Surakarta. Diharapkan juga dengan penyuluhan ini dapat dihasilkan rekomendasi untuk memperbaiki keadaan tersebut.

Kata kunci : Pekerja, status gizi, daya tahan pekerja.

“Hubungan antara Kadar Hb dengan Lama Kerja pada Karyawan Pabrik Batik Tulis di Surakarta”

ABSTRAK

Hubungan antara Kadar Hb dengan Lama Kerja pada Karyawan Pabrik Batik Tulis di Surakarta

Ipop Syarifah*, Cr. Siti Utari*, Istar Yuliadi*, Sri Hartati H.*

Tujuan Penelitian ini adalah mengetahui secara kuantitatif hubungan antara kadar Hb dengan lama kerja pada karyawan pabrik tulis di Surakarta, seperti kita ketahui untuk produksi satu lembar batik tulis memerlukan suatu proses yang cukup lama, karena memerlukan penanganan khusus dan cermat, pekerjaan yang lama seperti ini jika tidak diimbangi dengan perhatian dari segi gizi dapat mempengaruhi tingkat kesehatan. Salah satu tolok ukur tingkat atau derajat kesehatan manusia adalah dengan mengetahui kadar hemoglobin (Hb).

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah observasional, dengan pengambilan sampel berupa kadar Hb darah pekerja dikorelasikan dengan lamanya bekerja seorang karyawan.

Diharapkan dengan penelitian ini dapat diketahui adakah hubungan antara kadar Hb dengan lama kerja pada karyawan pabrik batik tulis di Surakarta. Diharapkan dengan adanya data tersebut dapat dihasilkan rekomendasi untuk memperbaiki keadaan tersebut.

Dari hasil penelitian diperoleh bahwa tidak terdapat korelasi yang bermakna antara lama kerja dan kadar Hb (p = 0.317). Dengan nilai koefisien korelasi (r) = -0.127, hal tersebut menunjukkan adanya korelasi yang negatif antara lama kerja dengan kadar Hb. Semakin besar nilai lama kerja maka semakin kecil kadar Hb.

Saran yang dapat diberikan berupa perlu dilakukannya penelitian lanjutan dengan memperhatikan confounding factor yang tidak dianalisis oleh peneliti pada penelitian ini atau dengan jumlah sampel yang lebih besar.

Kata kunci : Pekerja, kadar Hb, lama kerja

Penelitian Mandiri 2

Hubungan Antara Stres dengan Tingkat Penghasilan pada Pria Andropause

Abstraksi

Istar Yuliadi. 2011. Hubungan Antara Stres dengan Tingkat Penghasilan pada Pria Andropause. Penelitian Mandiri. Pusat Studi Kesehatan Seksual (PSKS) Lembaga Penelitian dan Pengabdian pada Masyarakat, Universitas Sebelas Maret Surakarta.

Tujuan Penelitian:

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara stres dengan tingkat penghasilan pada pria andropause.

Metode Penelitian:

Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif epidemiologi observasi analitik dengan pendekatan cross sectional. Penelitian ini dilakukan di Desa Kemiri, Kecamatan Kebakkramat, Kabupaten Karanganyar, subjek penelitian diambil berdasarkan kriteria inklusi (pria usia >40 tahun, memiliki istri yang sah, telah andropause, lama perkawinan minimal > 15 tahun, anak minimal 2, tinggal di Desa Kemiri) dan kriteria ekslusi yang telah ditetapkan. Pengambilan sampel dengan cara purposive sampling yang dilanjutkan random sampling. Screening andropause menggunakan screening stres menggunakan GHQ (General Health Questionnaire), ADAM (Androgen Deficiency in the Aging Male) Questionnaire dan kuesioner untuk mengetahui tingkat penghasilan.

Hasil penelitian:

Dari penelitian di dapatkan 58 subjek penelitian yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi, dari 58 subjek penelitian yang telah andropause di dapatkan 52 orang (89,66%) positif stres dan 6 orang (10,34%) negatif stres berdasarkan screening GHQ. Data hasil penelitian diuji secara statistik dengan Uji Korelasi Spearman (SPSS 17.0 for Windows). Uji statistik dengan tingkat tingkat keyakinan 95%, di dapatkan nilai r tabel= -0,262 dan p=0,047.

Kesimpulan:

Ada hubungan berkebalikan dan signifikan secara statistik antara stres dengan tingkat penghasilan pada pria andropause, dimana semakin rendah tingkat penghasilan maka semakin tinggi skor GHQ (stres) atau semakin tinggi tingkat penghasilan maka semakin rendah skor GHQ (stres).

Kata kunci: Stres, Penghasilan, Pria Andropause

Penelitian Mandiri 1

Hubungan Antara Stres dengan Lama Perkawinan pada Pria Andropause

Abstraksi

Istar Yuliadi. 2011. Hubungan Antara Stres dengan Lama Perkawinan pada Pria Andropause. Penelitian Mandiri. Pusat Studi Kesehatan Seksual (PSKS) Lembaga Penelitian dan Pengabdian  pada Masyarakat, Universitas Sebelas Maret Surakarta.

Tujuan Penelitian:

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara stres dengan lama perkawinan pada pria andropause.

Metode Penelitian:

Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif epidemiologi observasi analitik dengan pendekatan cross sectional. Penelitian ini dilakukan di Desa Kemiri, Kecamatan Kebakkramat, Kabupaten Karanganyar, subjek penelitian diambil berdasarkan kriteria inklusi (pria usia >40 tahun, memiliki istri yang sah, telah andropause, lama perkawinan minimal > 15 tahun, anak minimal 2, tinggal di Desa Kemiri) dan kriteria ekslusi yang telah ditetapkan. Pengambilan sampel dengan cara purposive sampling yang dilanjutkan random sampling. Screening andropause menggunakan screening stres menggunakan GHQ (General Health Questionnaire),  ADAM (Androgen Deficiency in the Aging Male) Questionnaire dan kuesioner untuk mengetahui lama perkawinan.

Hasil penelitian:

Dari penelitian di dapatkan 58 subjek penelitian yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi, dari 58 subjek penelitian yang telah andropause di dapatkan 52 orang (89,66%) positif stres dan 6 orang (10,34%) negatif stres berdasarkan screening GHQ. Data hasil penelitian diuji secara statistik dengan Uji Korelasi Pearson Product Moment (SPSS 17.0 for Windows). Uji statistik dengan tingkat tingkat keyakinan 95%, di dapatkan nilai r tabel= 0,543 dan p=0,000.

Kesimpulan:

Ada hubungan positif dan signifikan secara statistik antara stres dengan lama perkawinan pada pria andropause, dimana semakin pendek lama perkawinan maka semakin rendah skor GHQ (stres) atau semakin panjang lama perkawinan maka semakin tinggi skor GHQ (stres).

Kata kunci: Stres, Lama Perkawinan, Pria Andropause