Sosialisasi seksologi pada usia menjelang andropause dan menopause pada staff dan karyawan di lingkungan LPPM UNS

PROSES PENUAAN PRIA DAN DAMPAKNYA TERHADAP POTENSI SEKSUAL DAN REPRODUKSI

Dicky Moch Rizal

Departemen Fisiologi FK UGM

dickymd@yahoo.com

Pertambahan usia akan selalu berdampak pada penurunan kualitas hidup. Secara fisiologis atau normal, seiring pertambahan usia fungsi tubuh akan menurun. Daya ingat menurun, otot melemah, tulang keropos, dan kejadian lainnya yang pada akhirnya akan menyebabkan munculnya berbagai persoalan dalam kehidupan sehari-hari. Bila persoalan ini tidak dipahami, maka akan tyerus berlanjut menjadi persoalan sosial yang serius. Pengeluaran biaya untuk pengobatan berbagai keluhan masa tua sering kali menjadi persoalan yang pelik yang disebabkan oleh penghasilan yang juga menurun. Penurunan fungsi organ terjadi disemua sistem tubuh, tidak terkecuali sistem reproduksi. Tulisan ini akan menyajikan secara sederhana mengenai teori penuaan pria dan dampaknya terhadap sistem reproduksi.

Teori penuaan

Seringkali seorang yang mengalami penuaan dianggap sebagai sesuatu yang wajar dalam menyikapi munculnya penyakit degeneratif atau penyakit yang muncul karena proses penuaan alami tubuh. Tetapi bila penurunan fungsi dari organ tibuh ternyata tidak sesuai dengan usia yang ada, maka dianggap sebagai sesuatu yang tidak wajar. Secara umum dikenal adanya 2 jenis istilahh untuk menggambarkan usia ;

1. Usia biologis. Usia biologis adalah usia yang sesuai dengan fungsi tubuh. Jadi bila seseorang berusia 20-35 tahun atau usia reproduksi, maka seharusnya ini adalah saat paling optimal buat fungsi tubuh pada umumnya.

2. Usia kronologis. Usia kronologis adalah usia yang dihitung menurut awal kehidupannya. Ini adalah usia yang sering kali dicantumkan sebagai usia kita di berbagai surat keterangan.

Pada beberapa kondisi, muncul beerbagai keluhan yang terkait dengan penyakit degeneratif tetapi diusia yang masih sangat muda dimana seharusnya keluhan tersebut belum saatnya muncul, inilah yang sering disebut sebagai penuaan dini. Sebagai contoh adalah munculnya penyakit diabetes mellitus di usia 20-30 tahun, penyakit rematik atau hipertensi di usia 20-30th dan sebagainya. Jika hal ini terkait dengan seksualitas, keluhan yang muncul adalah disfungsi libido atau penurunan keinginan seksual yang dikaitkan dengan penurunan kadar hormon testosteron diusia kurang dari 40 tahun, dimana potensi seksual seharusmya masih optimal diusia tersebut. Bila dikaitkan dengan pengertian usia tersebut, yang terjadi adalah usia biologis tidak sesuai dengan usia biologisnya. Usia kronologisnya masih muda tetapi usia biologisnya seperti sudah kakek-kakek. Meskipun demikian apabila seorang bisa menjaga kesehatan dan kebiugaran dengan baik, maka bisa terjadi usia kronologisnya sudah lanjut tapi fungsi tubuhnya masih sangat baik seperti usia yang sangat muda.

Beberapa faktor yang terkait dengan penuaan

Berikut ini kami tuliskan beberapa faktor yang berkaitan dengan teori penyebab penuaan yang seringkali dikaitkan dengan penuaan pada sistem reproduksi dan seksualitas.

1. Penurunan hormon.

Hormon adalah pengatur bagi aktifitas tubuh manusia yang utama disamping sistem saraf. Bila seorang pria mengalami penurunan hormon testosteron yang terjadi karena berbagai hal, maka akan terjadi proses penurunan fungsi tubuh termasuk didalamnya adalah seksualitas. Hormon tetsosteron adalah hormon yang bertanggungjawab bagi fungsi reproduksi dan seks pria. Beberapa hal berikut ini dapat menyebabkan penurunan hormon testosteron :

a. Penyakit diabetes mellitus

b. Penyakit hormon tiroid

c. Infeksi pada testis

d. Kelainan bawaan testis

e. Benturan pada testis

Bagaimana mengetahui penurunan hormon testosteron ini? Secara medis seorang dokter akan menganjurkan pasien untuk memeriksakan kadar testosteron dalam darah di laboratorium. Sedangkan secara sederhana penurunan testosteron ini dapat dikenali melalui penilaian dengan emnggunakan ADAM Score, yaitu daftar pertanyaan yang mengarah pada pengetahuan keluhan atau kondisi yang terkait dengan penurunan hormon, antara lain :

· Penurunan libido

· Penurunan fungsi ereksi

· Penurunan daya ingat

· Penurunan tinggi badan

· Mengantuk saat setelah makan

· Perasaan hati yang mudah berubah

· Otot yang melemah

· Performa kerja yang menurun

Bila didapatkan penurunan libido dan disfungsi ereksi, maka besat kemungkinan mengalami penurunan testosteron.

Selain seksualitas penurunan testosteron juga berdampak pada munculnya penyakit lain seperti gangguan lemak, hipertensi, diabetes, stroke, pikun dan osteoporosis. Dengan demikian bisa mengganggu kualitas hidup seorang pria yang mengalaminya. Seiring dengan bertambahnya usia pria, maka penurunan alami hormon testosteron pasti terjadi meskipun secara perlahan.

2. Radikal bebas

Kehidupan sehari-hari kita saat ini dipenuhi dengan aktifitas yang terkait atau seringkali berhubungan langsung dengan pencemaran lingkungan. Ketahanan tubuh terhadap penyakit kurang baik sehingga tubuh mudah sakit. Sel tubuh bisa rusak karena faktor-faktor lingkungan, baik itu lingkungan luar berupa polusi ataupun gaya hidup serta asupan makanan yang tidak baik. Zat-zat beracun melalui pengawet makanan, pewarna makanan dsb dapat mengancam kesehatan tubuh. Jika hal ini berlangsung secara terus menerus dan tubuh tidak dapat mempertahankan diri dengan pertahanan tubuh yang baik, maka semakin lama sel-sel tubuh akan rusak. Dampaknya fungsi porgan tubuh juga akan menurun, bahkan bisa terjadi jauh lebih dini. Seringkali kita menganggap remeh dengan pencemaran udara akibat merokok, asap kendaraan, asap pabrik karena memang dampaknya bisa jangka panjang terhadap kerusakan organ tubuh. Air minum yang tercemar oleh limbah pabrik dan makanan cepat saji juga berkontribusi cukup besar terhadap proses degenerasi tubuh. Jika hal ini juga terjadi pada sel-sel penghasil hormon, maka sistem reproduksi dan seksualitas juga akan terganggu. Apabila hal ini mempengaruhi kesehatan pembuluh darah, maka seksualitaspun juga akan menurun misalnya dengan keluhan disfungsi ereksi. Makanan yang sehat bebas dari pengawet atau pewarna harus dicukupi karena dapat menjadi upaya atau benteng terhadap penumpukan radikal bebas di tubuh.

3. Stres psikologis

Problematika kehidupan akan memunculkan tekanan-tekanan terhadap pikiran untuk mendapatkan solusi yang tepat dan jitu. Selama kita masih bisa menghadapi permasalahan tersebut dengan baik, maka kita akan lepas dari masalah yang satu untuk kemudian bersiap menghadapi masalah yang lain. Stres kehidupan sebenarnya juga menyerang ketahanan organ tubuh manusia. Oleh sebab itu, dikenal istilah psikosomatis, yaitu kondisi gangguan fungsi tubuh yang terkait dengan ketidak mampuan mengatasi stres psikologis. Banyak penelitian yang sudah dilakukan didunia kedokteran yang berhasil membuktikan keterkaitan yang erat antara stres psikologis dengan gangguan fungsi tubuh. Dimulai dengan adanya stres, maka akan mengakibatkan peningkatan hormon yang bernama kortisol yang seharusnya dapat merespon stres tersebut. Tetapi bila stres ini berat, maka kortisol akan meningkat tajam dan mengganggu fungsi organ tubuh. Bagaimana dengan kondisi seksualitas dan reproduksi pria terkait dengan stres? Adanya peningkatan hormon kortisol juga dapat menyebabkankan penurunan hormon testosteron. Sehingga bila seorang pria usia muda mengalaminya, maka pria tersebut dapat mengalami penurunan potensi seksual lebih dini seolah mempunyai potensi seksual seorang pria usia tua. Penurunan hormon testosteron akan diikuti dnegan penurunan libido dan akhirnya benar-benar tidak mampu menjalani kehidupan seksual yang baik. Demikian pula dengan potensi produksi sperma juga akan mengalami penurunan, sehingga kondisi ini mirip dengan potensi kesuburan diusia tua yang memang seharusnya sudah menurun secara alami.

Usia bukanlah satu-satunya yang harus dijadikan sebagai tertuduh dalam memahami penurunan fungsi tubuh termasuk fungsi reproduksi dan seksualitas seorang pria. Pertambahan usia akan memngakibatkan penurunan potensi seks dan reproduksi secara umum tetapi hal ini seharusnya berjalan secara bertahap. Kesehatan dan kebugaran tubuh sangat berpengaruh terhadap ketahan tubuh terhadap penurunan ini. Bila tubuh gagal dalam menjaga kesehatan dan kebugarannya, maka fungsi organ akan menurun, meskipun usia belum menunjukkan lanjut. Sebaliknya bila kita dapat menjaga kesehatan dan kebugaran tubuh, maka penurunan potensi akan berjalan sedikit demi sedikit bahkan gangguan kesehatan yang lainpun dapat kita hindari lebih jauh akibat buruknya.