Pola Konsumsi Makanan Terhadap Perkembangan seksualitas sekunder Pada Siswa SMA di Pedesaan dan Perkotaan Karasidenan Surakarta

TIM PENGUSUL

Pusat Studi Kesehatan Seksual (No ID RG : P19154046)

Istar Yuliadi, dr., M.Si., FIAS / NIDN : 0010076011 (Ketua)

Khotijah, SKM., M.Kes / NIDN : 0005108202 (Anggota)

Debree septiawan, dr, SpKj, M.Kes (Anggota)


RINGKASAN

Riset ini bertujuan untuk mengetahui perkembangan seksual sekunder dalam masa pubertas siswa SMA pedesaan dan perkotaan yang dipengaruhi oleh pola konsumsi makanan sehari-hari mereka. Pubertas adalah periode penting selama perkembangan. Pubertas merupakan fase pematangan seksual yang menandai perubahan dari anak menjadi dewasa. Hubungan waktu antara ketersediaan nutrisi dan perkembangan otak tidak hanya berhubungan dengan perkembangan prenatal, tetapi juga perkembangan postnatal. Periode perkembangan otak selama postnatal merupakan periode yang lebih sensitif dibandingkan periode perluasan fungsi. Penelitian ini penting untuk dilakukan karena nutrisi sangat berperan dalam proses yang kompleks dari perkembangan otak. Nutrisi merupakan faktor lingkungan yang mewakili berbagai bentuk pengaruh faktor lingkungan, nutrisi dapat secara langsung mengubah struktur gen dan memperantarai ekpresi faktor genetik dengan menyediakan molekul tertentu yang memungkinkan gen untuk menunjukkan potensinya atau efek sasarannya pada pertumbuhan dan perkembangan otak. Selanjutnya, nutrisi dapat mempengaruhi secara langsung ekspresi gen pada otak. Jadi nutrisi memainkan peran kritis pada pertemuan dari faktor biologi dan asuhan yang memediasi perkembangan dan pertumbuhan otak. Penelitian ini adalah penelitian observasional analitik yang dilakukan selama 2 bulan dengan rancangan cross sectional dengan sampel remaja siswa SMA di pedesaan dan perkotaan, wilayah karisidenan surakarta. Hasil penelitian menunjukkan, ada perbedaan pertumbuhan seksualitas sekunder pada siswa laki-laki SMA antara pedesaan dengan perkotaan dengan nilai signifikannya 0,001. Demikian pula pada siswi perempuan ada perbedaan pertumbuhan seksualitas sekunder dengan nilai signifikannya 0,00. Hasil penelitian ini akan dapat merekomendasikan pola konsumsi makanan yang sehat untuk diimplementasikan di masyarakat sehingga dapat digunakan sebagai salah satu metode promosi kesehatan yang efektif dan prediktif untuk gangguan seksual yang merupakan penyebab infertilitas di Indonesia, dan dunia.

PENDAHULUAN

Pubertas adalah periode penting selama perkembangan. Pubertas merupakan fase pematangan seksual yang menandai perubahan dari anak menjadi dewasa. Selama pubertas, peningkatan availabilitas steroid seks menyebabkan perkembangan karakteristik seksual sekunder. Periode pubertas bertumpah tindih dengan remaja, tetapi biasanya merujuk pada periode selama perilaku, kognitif, dan emosi berubah (Peper et al 2009).

Perkembangan fisik dan pertumbuhan pubertal merupakan hasil aktivasi aksis hipotalik-pituitari-gonadal pada akhir masa kanak. Sebelum pubertas, kadar hormon pituitari dan gonadal rendah. Pada wanita, FSH merangsang pematangan ovarium, fungsi sel granulosa, dan sekresi estradiol.Kadar estradiol meningkat secara progresif, menghasilkan pematangan saluran genital wanita dan perkembangan payudara.Pada pria, LH merangsang sel interstisil testis untuk menghasilkan testosteron. Selama pubertas, kadar testosteron yang bersirkulasi meningkat lebih dari 20 kali lipat. Kadar testosteron berhubungan dengan tahapan fisik pubertas dan derajat pematangan tulang (Hay et al 2009).

Hubungan waktu ini antara ketersediaan nutrisi dan perkembangan otak tidak hanya berhubungan dengan perkembangan prenatal, tetapi juga perkembangan postnatal.Bagaimanapun, perkembangan otak postnatal menjadi dasar dan kerangka waktu secara umum yang menjadi onset awal, juga panjang pendeknya waktu. Periode perkembangan otak selama postnatal merupakan periode yang lebih sensitif dibandingkan periode perluasan fungsi (Rosales et al., 2009).

Penelitian ini penting untuk dilakukan karena nutrisi sangat berperan dalam proses yang kompleks dari perkembangan otak. Nutrisi merupakan faktor lingkungan yang mewakili berbagai bentuk pengaruh faktor lingkungan, nutrisi dapat secara langsung mengubah struktur gen dan memperantarai ekpresi faktor genetik dengan menyediakan molekul tertentu yang memungkinkan gen untuk menunjukkan potensinya atau efek sasarannya pada pertumbuhan dan perkembangan otak. Selanjutnya, nutrisi dapat mempengaruhi secara langsung ekspresi gen pada otak. Jadi nutrisi memainkan peran kritis pada pertemuan dari faktor biologi dan asuhan yang memediasi perkembangan dan pertumbuhan otak.

Remaja merupakan fase peralihan dari fase anak ke fase dewasa. Dan nutrisi memiliki peran penting dalam menunjang pertumbuhan dan perkembangan fisik seseorang dan juga dalam terjadinya kematangan fisiologinya. Perubahan pada masa remaja akan mempengaruhi kebutuhan, absorbsi, serta cara penggunaan zat gizi tersebut. Pertumbuhan yang pesat dan masa pubertas pada remaja tergantung pada berat dan komposisi tubuh seseorang. Hal ini menunjukkan bahwa status gizi memegang peranan penting dalam menentukan status kematangan fisiologi seseorang. Kecepatan pertumbuhan dan kebutuhan gizi bervariasi pada masing-masing individu remaja. Ini menunjukkan bahwa dibandingkan usia, tingkat kematang seksual yang didasarkan pada munculnya tanda seksual sekunder lebih mempunyai makna sebagai indikator dalam menentukan kebutuhan gizi.

Pada perkembangan zaman seperti yang sekarang, pemenuhan gizi pada remaja tidaklah sulit. Namun demikian, dalam pemenuhan gizi ini kontribusi zat-zat yang terkandung dalam makanan tentunya juga memiliki peranan penting dalam mengiringi perkembangan kematangan seksual sekunder pada remaja ini. Tidak dipungkiri bahwa pada remaja perkotaan, variasi makanan jauh lebih bervariasi dibandingkan dengan pedesaan dan berkembangnya variasi makanan ini juga diikuti oleh zat-zat yang terdapat dalam makanan menjadi lebih banyak, misalnya zat yang dapat merubah hormon dalam tubuh manusia agar cepat berkembang sebelum waktunya. Namun demikian, dalam nutrisi yang dikonsumsi oleh remaja pedesaan juga tidak menutup kemungkinan bahwa kandungan yang ada dalam makanan yang mereka konsumsi setiap hari juga sama dengan yang ada di perkotaan.

Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah ada perbedaan perkembangan seksual sekunder pada siswa SMA di pedesaan dengan di perkotaan dengan melihan nutrisi yang mereka konsumsi seharai-hari?