Makalah 3

STRES DAN DISFUNGSI SEKSUAL

Pror. Dr. dr. M. Fanani, Sp.KJ(K)

PENDAHULUAN

Salah satu aspek penting yang ikut menentukan kualitas hidup manusia ialah kehidupan seksual. Karena itu aktivitas seksual menjadi salah satu bagian dalam penilaian kualitas hidup manusia. Kehidupan seksual yang menyenangkan memberikan pengaruh positif bagi kualitas hidup. Sebaliknya, kalau kehidupan seksual tidak menyenangkan, maka kualitas hidup terganggu (Pangkahila, 2007).

Dalam perkawinan, fungsi seksual mempunyai beberapa peran, yaitu sebagai sarana untuk reproduksi (memperoleh keturunan), sebagai saranan untuk memperoleh kesenangan atau rekreasi, serta merupakan ekspresi rasa cinta dan sebagai saranan komunikasi yang penting bagi pasangan suami-istri. Fungsi seksual merupakan bagian yang turut menentukan warna, kelekatan dan kekompakan pasangan suami-istri (Elvira, 2006).

Suatu penelitian di Amerika. Pada wanita, dilaporkan 33% mengalami penurunan hasrat seksual, 19% kesulitan dalam lubrikasi, dan 24% tidak dapat mencapai orgasme. Statistik pada pria juga bermakna. Kesulitan yang umum dilaporkan pada pria meliputi ejakulasi dini (29%), kecemasan terhadap kemampuan seksual (17%), dan rendahnya hasrat seksual (16%). Selain itu 10% dari pria yang disurvei melaporkan kesulitan ereksi bermakna, angka prevalensi menurut usia-lebih dari 20% pria berusia di atas 50 tahun melaporkan masalah ereksi (Cyranoswki et al., 2009).

Etiologi penyebab disfungsi seksual secara umum dibagi tiga yaitu fisiologis atau biologis, psikologis dan hubungan interpersonal. Stres dapat mempengaruhi ketiga hal di atas karena stres menimbulkan gejala dan tanda baik fisik, kognisi, dan emosi sehingga dapat menimbulkan disfungi seksual dalam setiap fase respons seksual. Di Amerika, stres menjadi masalah besar karena 43% orang dewasa mengalami gangguan kesehatan akibat dari stres, 75-90% kunjungan ke pusat kesehatan berkaitan dengan stres dan 60-80% kecelakaan industri berkaitan dengan masalah stress (Jaffe-Gill et al., 2007; Cyranoswki et al., 2009).

STRES

Istilah stres telah akrab bagi masyarakat. Sebenarnya istilah stres pertama kali digunakan oleh Hans Selye tahun 1936 dalam laporan penelitiannya, didefinisikan sebagai “respon tidak spesifik dari tubuh terhadap tuntutan perubahan”. Dwight Carlson mengatakan bahwa stres adalah suatu “perasaan ragu terhadap kemampuannya untuk mengatasi sesuatu, suatu anggapan bahwa persediaan yang ada tidak dapat memenuhi permintaan yang didapat.” Menurut The American Institute of Stress tahun 2006, stres adalah “perasaan tidak mempunyai kendali atau hanya sedikit kendali”. Stresor atau sumber stress, dapat dalam berbagai bentuk meliputi fisik, psikologis dan social-budaya; masa lalu, sekarang dan masa datang; positif dan negatif; serta akut dan kronis (The American Institute of Stress, 2006).

Selye, seorang endokrinologis yang telah  memperkenalkan stres berdasarkan suatu riset ilmiah, merumuskan bahwa ada tiga tingkat respon individu terhadap stres yang disebut “general adaptation syndrome” yang meliputi: (1) tingkat alarm yang mengaktifkan respon individu terhadap lawan atau membentuk defense mechanism; (2) tingkat resistensi, di mana kemampuan organism untuk merespon dapat ditingkatkan dan (3) tingkat kelelahan, di mana respon untuk beradaptasi sangat merosot tajam. Menurut Selye, istilah stres dapat digunakan baik untuk pengertian secara positif (eustress) maupun negative (distress) (The American Institute of Stress, 2006).

GEJALA DAN TANDA STRES

Stres mempengaruhi manusia baik secara fisik, kognitif, emosi dan perilaku sehingga gejala dan tanda stres dapat dibagi berdasarkan fisik, kognitif, emosi dan perilaku. Gejala dan tanda ini berbeda-beda untuk setiap orang karena faktor biologis dan pembawaan yang berbeda dari setiap individu (Jaffe-Gill et al., 2007).

Gejala dan tanda fisik dapat berupa nyeri kepala atau nyeri punggung, ketegangan atau kekakuan otot, mual, pusing, sulit tidur, mencret atau sembelit, gangguan tidur, nyeri dada, jantung berdebar cepat, penambahan atau pengurangan berat badan, gangguan kulit, hilangnya dorongan seksual, sering meriang (Jaffe-Gill et al., 2007).

Gejala dan tanda kognitif dapat berupa gangguan daya ingat, kesulitan konsentrasi, sulit berpikir jernih, sulit mengambil keputusan, hanya berpikiran yang buruk, pikiran kecemasan, kekawatiran yang menetap, kehilangan objektivitas, antisipasi ketakutan (Jaffe-Gill et al., 2007).

Gejala dan tanda emosional dapat berupa tergantung mood, marah, gampang emosi, gampang terpancing, tidak sabar, tidak dapat tenang, merasa di ujung tanduk, merasa terancam, merasa sendiri dan tersingkir, sedih (Jaffe-Gill et al., 2007)..

Tanda perilaku dapat berupa tidur berlebihan atau kurang, menghindari orang lain, menolak bertanggung jawab, penggunaan zat untuk santai, gugup, menggertakkan gigi, aktivitas berlebihan, bersikap berlebihan terhadap suatu masalah, bertengkar dengan orang lain (Jaffe-Gill et al., 2007).

PERBEDAAN PSIKOLOGIS ANTARA WANITA DAN PRIA

Menurut hasil survei komunitas di Amerika Serikat, wanita dibandingkan pria selama perjalanan hidupnya secara bermakna lebih tinggi kemungkinannya untuk mengalami gangguan panik (7,7% dan 2,9%), Generalized Anxiety Disorders (6,6% dan 3,6%), atau Post Traumatic Stress Disorders (12,5% dan 6,2%). Meskipun kurang nyata seperti yang disebutkan di atas, survei juga menunjukkan ada perbedaan menurut jenis kelamin dalam risiko mengalami  Obsessive Compulsive Disorders (3,1% wanita dan 2.0% pria) dan SAD (15,5% wanita dan 11,1% pria). Penyebab meningkatnya risiko pada wanita untuk mengalami gangguan kecemasan dalam hidupnya belum dimengerti (Kinrys dan Wygant, 2005).

Wanita dengan gangguan kecemasan memiliki gejala berat lebih tinggi dan cenderung disertai dengan satu atau lebih kondisi komorbid dibandingkan pria. Perbedaan ini dapat menyebabkan komplikasi gangguan dan dapat mengahasilkan perjalanan penyakit yang lebih kronis serta hambatan fungsional yang lebih besar pada wanita. Bukti berbagai penelitian menunjukkan bahwa faktor genetik dan hormon reproduksi wanita mempunyai peranan penting dalam menghasilkan perbedaan menurut jenis kelamin ini (Kinrys dan Wygant, 2005).

Hormon reproduksi  wanita dan siklus  yang berhubungan mempunyai peranan potensial dalam timbulnya, perjalanan, dan akibat gangguan anxietas wanita. Data menunjukkan jenis kelamin berbeda dalam absorpsi, bioavailibilitas, dan distribusi obat psikotropik, yang akan memainkan peranan penting pada metode pengobatan di masa mendatang untuk wanita dengan gangguan kecemasan. Penemuan terbaru penelitian pencitraan otak menunjukkan bahwa korteks cingulat anterior pada wanita lebih besar dan aktif dalam respon ketakutan dan penghindaran terhadap ancaman dibandingkan pria dengan karekteristik serupa (Kinrys dan Wygant, 2005).

SIKLUS RESPON SEKSUAL

Siklus respons seksual yang normal, merupakan suatu rangkaian proses, yang dialami setiap orang, baik perempuan maupun laki-laki pada saat melakukan hubungan seksual dengan pasangannya (Elvira, 2006). DSM IV-TR menggambarkan 4 siklus fase respon yaitu hasrat/birahi (desire), perangsangan (excitement), orgasme, dan resolusi.

Fase satu yaitu hasrat. Ditandai oleh khayalan seksual dan hasrat untuk melakukan aktivitas seksual. Berbeda dari tiap fase lainnya yang dikenali semata-mata melalui fisiologi. Mencerminkan permasalahan dasar psikiatrik tentang motivasi, dorongan, dan kepribadian (DSM IV-TR).

Fase dua yaitu perangsangan. Disebabkan oleh stimuli psikologis atau stimulasi fisiologis atau kombinasi keduanya. Mengandung perasaan kenikmatan subjektif. Perangsangan awal dapat berlangsung beberapa menit sampai beberapa jam. Rangsangan yang meninggi berlangsung 30 detik sampai beberapa menit. Fase dua pada laki-laki, ditandai kekakuan penis yang menyebabkan ereksi, puting payudara mengeras, testis bertambah besar 50% dan terangkat, kontraksi volunter kelompok otot-otot besar terjadi, kecepatan denyut jantung dan pernapasan meningkat, tekanan darah naik. Fase dua pada wanita, ditandai lubrikasi vagina, puting payudara mengeras, klitoris mengeras dan membesar, labiya mayora menjadi lebih tebal, kontriksi saluran vagina 1/3 luar (pelataran orgasme/orgasm platform), klitoris terangkat dan beretraksi ke belakang simfisis pubis, ukuran payudara membesar 25%, labia mayora menjadi berwarna merah terang atau gelap, kontraksi volunter kelompok otot-otot besar, kecepatan denyut jantung dan pernapasan meningkat, tekanan darah naik (DSM IV-TR).

Fase tiga yaitu orgasme. Mengandung puncak kenikmatan seksual. Pelepasan ketegangan seksual. Kontraksi ritmik pada otot-otot perineal dan organ reproduktif pelvis. Kontraksi involunter pada sfingter internal dan eksternal. Semua kontraksi selama orgasme terjadi dengan interval 0,8 detik. Gerakan volunter dan involunter pada kelompok otot-otot besar (seringai wajah dan spasme karpopedal). Tekanan darah meningkat 20-40 mm (baik sistolik maupun diastolik), kecepatan denyut jantung naik sampai 160 denyutan permenit. Orgasme berlangsung 3-25 detik dan disertai sedikit pengaburan kesadaran. Fase tiga pada laki-laki ditandai dengan perasaan subjektif ejakulasi mencetuskan orgasme diikuti semprotan semen yang kuat dan disertai 4-5 kali spasme ritmik pada prostat, vesikula seminalis, vas, dan uretra. Fase tiga pada wanita ditandai 3-15 kali kontraksi involunter pada 1/3 bagian bawah vagina dan kontraksi uterus yang kuat dan lama, berjalan dari fundus turun ke serviks (DSM IV-TR).

Periode refrakter. Pada laki-laki mungkin berlangsung beberapa menit sampai berjam-jam; dalam periode ini tidak dapat dirangsang untuk orgasme lebih lanjut. Bertambah panjang dengan bertambahnya umur. Pada wanita tidak terjadi sehingga mampu mengalami orgasme multipel dan berurutan. Beberapa wanita mampu mencapai 20-30 orgasme bila rangsangan terus berlanjut (DSM IV-TR).

DISFUNGSI SEKSUAL

Disfungsi seksual atau malfungsi seksual adalah kesulitan selama stadium aktivitas seksual (termasuk minat, rangsangan, orgasme dan resolusi) yang menghalangi individu atau pasangan dalam menikmati hubungan seksual (Wikipedia, 2009). Bila didefiniskan secara luas, disfungsi seksual adalah ketidakmampuan untuk menikmati secara penuh hubungan seks. Secara khusus, disfungsi seksual adalah gangguan yang terjadi pada salah satu atau lebih dari keseluruhan siklus respons seksual yang normal (Elvira, 2006).

Pada pria, disfungsi seksual diklasifikasikan sebagai berikut: 1) Gangguan dorongan seksual, berupa dorongan seksual hipoaktif dan gangguan aversi seksual; 2) Gangguan ereksi, berupa disfungsi ereksi dan ereksi berkepanjangan; 3) Gangguan ejakulasi, berupa ejakulasi dini dan ejakulasi terhambat; 4) Hambatan orgasme. Klasifikasi disfungsi seksual pada wanita sebagai berikut: 1) Gangguan dorongan seksual, berupa dorongan seksual hipoaktif dan ganggua aversi seksual; 2) Gangguan bangkitan seksual; 3) Hambatan orgasme; 4) Gangguan sakit seksual, berupa dispareunia dan vaginismus serta gangguan sakit seksual non koitus (Pangkahila, 2007).

STRESS DAN DISFUNGSI SEKSUAL

Respon seksual pada orang dewasa ditandai oleh perasaan subjektif dari hasrat atau nafsu seksual dan perubahan fisiologis pada tubuh, termasuk sistem kardiovaskuler dan genetalia, dan kecendrungan, khususnya pada pria, untuk mendapatkan stimulasi seksual sampai terjadi orgasme. Proses ini merupakan interaksi yang rumit antara kognitif (pemrosesan informasi), mekanisme saraf pusat, termasuk hasrat seksual dan keadaan emosional lainnya, dan proses fisiologis perifer seperti ereksi penis pada pria. Untuk kemudahan maka hal ini disebut “psychosomatic circle” di mana kepekaan terhadap perubahan pada genetalia memberikan umpan balik  untuk mempengaruhi proses saraf pusat baik pada dalam bentuk mencetuskan, meningkatkan atau mengahambat. Aktifasi dari sistem psikosomatis ini dapat dimulai pada titik yang bervariasi dari siklus, seperti terjadinya pikiran yang membangkitkan seksualitas, gambar yang merangsang secara seksual, atau perangsangan rabaan terhadap bagian tubuh yang sensitif secara erotis. Komponen pemrosesan informasi mengidentifikasikan  seksualitas, suatu proses yang sanga dipengaruhi oleh faktor pembelajaran dan budaya. Mekanisame saraf pusat mengaktifkan sinyal saraf yang berjalan turun melalui batang spinal, sepanjang jalur yang meliputi pusat reflek pada tingkat tertentu dari batang spinal, untuk mencetuskan respon seksual perifer. Input sensoris dari respons perifer ini dan rangsangan perabaan lebih lanjut, menghasilkan peningkatan derajat hasrat di saraf pusat dan memicu sampai pada titik di mana orgasme dapat dicetuskan. Sebaliknya, jika proses yang sedang berlangsung diinterpretasikan sebagai bentuk negative seperti penyiksaan, bahaya, ketakutan pada kegagalan, atau beberapa dampak negatif lainnya, maka proses ini akan menyebabkan penghambatan terhadap respons seksual selanjutnya (Bancroft J, 2002).

Faktor multipel telah diajukan untuk menjelaskan etiologi dari gangguan fungsi seksual. Saat ini, hampir semua peneliti dan klinisi menyepakati pendekatan interaksional untuk memahami perkembangan dan menetapnya disfungsi seksual. Kemungkinan faktor etiologi dapat dikelompokkan dalam tiga kategori umum: fisiologis, psikologis, dan interpersonal. Faktor fisiologis atau biologis telah lama dipandang berperan penting dalam menyebabkan disfungsi seksual, khususnya pada pria. Faktor risiko biologis meliputi penyakit kronis, seperti diabetes mellitus, nyeri kronis, dan penyakit paru obstruktif menahun, begitu juga, kanker, penyakit kardiovaskuler, dan penyakit ginjal. Daftar untuk faktor psikologis cukup panjang, meliputi masalah pendidikan dalam keluarga, trauma seksual, dan variasi kepribadian (contohnya erotofobia-erotofilia, rasa bersalah terhadap hubungan seks), dan lain sebagainya. Faktor hubungan interpersonal sebagian besar lebih difokuskan pada konflik pernikahan atau pasangan dan distres (Cyranoswki et al., 2009).

Sudah jelas, banyak literatur yang membahas etiologi yang potensial memberi kontribusi terhadap disfungsi seksual. Banyak yang berpendapat bahwa peran berbagai faktor meliputi: (a) predisposisi atau yang sesuatu yang menyebabkan berkembangnya disfungsi seksual di kemudian hari, (b) presipitasi atau sesuatu yang menjadi onset disfungsi seksual, (c) menetap atau sesuatu yang menyebabkan disfungsi seksual terus terjadi. Sebagai contoh, faktor psikologis seperti gangguan neurotik atau perasaan berdosa terhadap seks telah dibahas sebagai faktor predisposisi untuk berkembangnya kesulitan seksual. Sebaliknya, kejadian interpersonal akut atau fisiologis akut seperti masalah pernikahan dan penyakit fisik sebagai pemicu terjadinya disfungsi seksual. Akhirnya, faktor psikologis seperti adanya anxietas dan gangguan proses kognitif serta perhatian telah terbukti mempunyai dampak sebagai faktor yang dapat menyebabkan tidak sembuhnya disfungsi seksual atau menyebabkan kambuhnya disfungsi seksual (Cyranoswki et al., 2009).

PENGOBATAN DISFUNGSI SEKSUAL

Tatalaksana disfungsi seksual diberikan sesuai dengan penyebabnya, apakah faktor organik, faktor psikologik, atau gabungan antara keduanya. Tatalaksana terhadap disfungsi seksual harus bersifat menyeluruh, yaitu memperhatikan berbagai aspek yang mempengaruhi terjadinya disfungsi seksual tersebut, artinya bukan hanya memperhatikan salah satu faktor semata (Elvira, 2006; Pangkahila, 2007).

Tatalaksana tersebut terdiri atas beberapa jenis yaitu farmakoterapi (obat-obatan), operasi, psikoterapi dan terapi seks. Untuk farmakoterapi disesuaikan dengan penyebabnya, apakah biologik atau psikologik. Operasi hanya bila penyebabnya adalah faktor organik yang hanya dapat disembuhkan dengan operasi, misalnya terdapat tumor pada leher rahim. Psikoterapi adalah pengobatan yang dilakukan dengan cara-cara psikologik, dapat diberikan secara individual atau bersama dengan pasangan tergantung kepada permasalahannya. Terapi seks tujuannya adalah dicapainya rasa nyaman dan puas dalam melakukan hubungan seksual pada pasangan suami istri (Elvira, 2006; Pangkahila, 2007).

DISFUNGSI EREKSI

Disfungsi ereksi merupakan suatu gangguan yang sangat umum dari sekian banyak keluhan seksual pada laki-laki. Data epidemiologis terpercaya menunjukkan bahwa 1 dari 3 laki-laki dewasa menderita berbagai derajat disfungsi ereksi. Prevalensi dan beratnya disfungsi ereksi meningkat sesuai umur, walaupun tidak ada usia di mana dianggap normal untuk menderita disfungsi ereksi (Grispoon dan Seely E, 2006). Setelah umur 40, sekitar 90% laki-laki pernah mengalami kesulitan mencapai atau mempertahankan ereksi yang cukup untuk penetrasi paling sedikit satu kali. Setelah umur 50, lebih dari 50% laki-laki melaporkan disfungsi ereksi ringan sampai sedang (BABCP, 2008). Disfungsi ereksi jumlahnya sekitar 80-85% dari pasien yang mencari bantuan medis untuk disfungsi seksual.

Disfungsi ereksi didefinisikan sebagai ketidakmampuan untuk mencapai atau mempertahankan ereksi untuk waktu yang cukup dan kokoh untuk memberikan kepuasan menyeluruh saat hubungan seksual melalui penetrasi vagina. Kriteria ini menggarisbawahi fakta bahwa laki-laki normal juga terkadang mengalami kegagalan ereksi (Guay, 2003). Disfungsi ereksi merupakan kondisi yang sering terjadi dan dikenal sebagai penanda penting untuk keadaan penyakit vaskular atau penyakit lain yang mendasari. Gangguan depresi berat dan kecemasan sering berperan pada disfungsi ereksi. Intervensi multifaktorial sering dibutuhkan untuk penyembuhan maksimal dari gejala. (Kevan, 2007).

Dahulu dipercaya bahwa 90% penyebab disfungsi ereksi adalah faktor psikogenik. Anggapan ini berubah sejak banyak ditemukan alat penditeksi kelainan organik penyebab disfungsi ereksi. Diperkirakan bahwa kurang lebih 50% penyebabnya adalah organik (Purnomo, 2007, cit. Wibowo dan Gofir, 2007). Jika masalah ereksi tidak pulih dalam enam bulan, laki-laki (dan pasangan) menjadi terperangkap dalam lingkaran kecemasan antisipatorik, kegagalan kemampuan, dan penghindaran seksual (BABCP, 2008). Ini memberikan kenyataan bahwa hampir semua laki-laki dengan disfungsi ereksi memiliki kondisi campuran yang dapat berupa predominan fungsional atau predominan fisik (Dean dan Lue, 2005).

Penyebab terjadinya disfungsi ereksi adalah penuaan, gangguan psikologis (depresi, ansietas), gangguan neurologis (penyakit serebral, trauma spinal, penyakit medula spinalis, neuropati, trauma nervus pudendus), penyakit hormonal/libido menurun (hipogonadism, hiperprolaktinemi, hiper/hipotiroidism, sindrom Cushing’s, penyakit Addison), penyakit vaskuler (ateroskeloris, penyakit jantung iskemik, penyakit vaskuler perifer, inkompetensi vena, penyakit kavernosus), obat-obatan (antihipertensi, antidepresan, estrogen, antiandrogen, digoxin), kebiasaan (pemakai marijuana, alkohol, narkotik, merokok), penyakit-penyakit lain (diabetes melitus, gagal ginjal, hiperlipidemi, hipertensi, penyakit paru obstruksi kronis) (Fazio dan Brock, 2004, cit.Wibowo dan Gofir, 2007).

Dua kategori utama disfungsi ereksi adalah psikologis dan organik. Sering disfungsi merupakan campuran dari dua kategori penyebab ini, kedua faktor ini sama pentingnya. Semua laki-laki yang mempunyai masalah dengan fungsi ereksi berkembang menjadi bentuk kecemasan, dan memisahkan apakah faktor psikologis merupakan masalah utama atau hanya masalah sampingan menjadi sulit (Andre T, 2003). Banyak klasifikasi telah dibuat untuk Disfungsi Ereksi. Beberapa berdasarkan penyebab (diabetik, iatrogenik, traumatik) dan beberapa berdasarkan mekanisme neurovaskuler dari proses ereksi (kegagalan untuk memulai [neurogenik], kegagalan untuk mengisi [arterial], dan kegagalan untuk menyimpan [vena])(Dean dan Lue, 2005). Klasifikasi yang lain membagi dalam dua kelompok besar berdasarkan kategori penyebab yaitu psikogenik dan organik, organik dibagi menjadi neurogenik, vaskuler, hormonal, farmakologis, traumatik atau pasca operasi (Miller, 2000, cit. Wibowo dan Gofir, 2007).

TERAPI DISFUNGSI EREKSI

Berdasarkan penyebab disfungsi ereksi yang beragam, pengobatan disfungsi ereksi harus ditujukan kepada penyebab terjadinya. Tanpa pengobatan terhadap penyebab, pengobatan disfungsi ereksi tidaklah rasional dan tidak mengatasi masalah sebenarnya. Setelah dilakukan pengobatan terhadap penyebab, langkah selanjutnya adalah pengobatan untuk membantu terjadinya ereksi, yang dapat dilakukan melalui tiga tahap, yaitu pengobatan lini pertama, kedua dan ketiga (Pangkahila, 2007).

Peengobatan lini pertama adalah terapi seks, obat minum, dan pompa vakum. Terapi seks adalah suatu bentuk pengobatan yang memadukan komponen biomedik, psikososial, dan cultural. Dalam pelaksanaannya, terapi seksual antara lain berupa latihan seksual yang ditujukan untuk mengatasi disfungsi seksual yang disebabkan oleh faktor psikis atau kalau faktor psikisnya sangat dominan. Pada kelompok lini kedua termasuk injeksi bahan yang mengaktifkan pembuluh darah yang disuntikkan langsung pada penis atau melalui saluran kencing. Pengobatan yang termasuk lini ketiga ialah operasi pemasangan protesis (Pangkahila, 2007).

GANGGUAN DORONGAN SEKSUAL

Gangguan dorongan seksual (GDS) dapat berupa dorongan seksual hipoaktif dan munculnya perasaaan tidak senang atau takut terhadap aktivitas seksual sehingga cenderung menolak (gangguan aversi seksual) (Pangkahila, 2007). Dorongan seksual hipoaktif didefinisikan sebagai “berkurangnya (atau hilangnya) hasrat atau pikiran atau fantasi seksual yang menetap atau berulang untuk melakukan aktivitas seksual yang menyebabkan distres pada seseorang”. Gangguan aversi seksual didefinisikan sebagai “ketakutan tidak normal yang menetap atau berulang sehingga menyebabkan penolakan terhadap aktivitas seksual dengan pasangan yang menyebabkan distres pada seseorang” (Brown dan Luisi, 2006).

Dorongan seksual dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu hormon seks, faktor psikis, keadaan kesehatan tubuh, dan pengalaman seksual sebelumnya. Bila faktor-faktor tersebut mendukung, maka dorongan seksual akan tetap berfungsi, tetap bertahan, bahkan mungkin semakin baik. Sebaliknya bila faktor-faktor tersebut tidak mendukung bahkan menghambat, maka dorongan seksual akan menurun atau bahkan lenyap sama sekali. Keadaan kesehatan tubuh yang tidak baik, seperti dalam keadaan lelah dan astenia, dapat menyebabkan dorongan seksual menurun bahkan lenyap. Wanita yang tidak pernah mencapai orgasme berarti mempunyai pengalaman seksual yang tidak menyenangkan. Kalau ini terus berlangsung dapat menyebabkan dorongan seksual wanita menjadi hilang dan wanita menjadi tidak senang melakukan hubungan seksual. Dalam keadaan begini wanita sama sekali tidak tertarik untuk melakukan aktivitas seksual apapun. Karena hambatan psikis, wanita mungkin kehilangan dorongan seksual terhadap suaminya, tetapi tidak demikian terhadap pria lain. Kejemuan terhadap suasana yang monoton dapat juga menekan dorongan seksual (Pangkahila, 2007).

TERAPI GANGGUAN DORONGAN SEKSUAL

Penanganan  gangguan dorongan seksual harus sesuai dengan jenisnya dan ditujukan terhadap penyebabnya. Untuk mengembalikan fungsi seksual, dapat dilakukan dengan cara konseling, pemberian obat, alat bantu, dan terapi seks (Pangkahila, 2007).

Terapi kognitif perilaku dapat diberikan  pada perempuan yang mempunyai pikiran atau pandangan irasional tentang seks atau fungsi seks dalam perkawinan, atau karena adanya persepsi yang kurang tepat tentang hubungan seksual. Terapi dengan pendekatan psikodinamik diberikan bila yang mendasari disfungsi seksualnya adalah kepribadian yang terlalu kaku atau kurang fleksibel atau kurang matang atau mempunyai konflik masa lalu yang belum terselesaikan. Apabila problem utamanya adalah hubungan interpersonal antara suami dan istri, antara lain dalam komunikasi, kedekatan psikologik, kurangnya toleransi karena pelbagai perbedaan, maka dapat diberikan konseling perkawinan atau terapi marital sebelum atau bersamaan dengan terapi seks (Elvira, 2006).

Teknik terapi seks yang digunakan terdiri atas sensate focus, edukasi, stimulus control, cognitive restructuring, dan latihan komunikasi. Sensate focus pada prinsipnya membantu perempuan dan pasangannya mengembangkan kesadaran akan dan berfokus pada sensasi dan tidak pada keberhasilan. Edukasi atau pemberian informasi yang dilakukan antara lain mengenai anatomi dan fisiologi organ seksual, tentang fungsi seksual dalam perkawinan, juga melakukan koreksi secara bertahap mitos-mitos yang tidak tepat mengenai fungsi seks dalam perkawinan, baik yang disadari maupun yang tidak disadari oleh perempuan. Stimulus control yaitu upaya untuk mempersiapkan atau menyediakan lingkungan yang nyaman, santai dan bersifat erotis, yang kondusif untuk pengekspresian seks dan meminimalisasi gangguan dari lingkungan atau hal-hal yang terkait. Cognitive restructuring untuk mengubah pandangan dan perilaku negatif, juga menurunkan pikiran-pikiran yang mempengaruhi. Latihan komunikasi untuk menyingkirkan masalah komunikasi seperti mudahnya beralih topik pembicaraan, menerka maksud tanpa konfirmasi, mendengarkan tetapi tetap menyalahkan, saling berargumentasi tanpa pemecahan (Elvira, 2006).

KESIMPULAN

Stres dapat menyebabkan disfungsi seksual baik melalui gejala dan keluhan fisik maupun kognitif dan emosional serta perilaku. Disfungsi seksual sendiri dapat menyebabkan stres yang selanjutnya akan memperberat disfungsi seksual itu sendiri dan menciptakan lingkaran setan bagi yang penderitanya.

Penanganan disfungsi seksual dilakukan secara holistik tidak hanya memperhatikan faktor tertentu saja. Pengobatan yang diberikan disesuaikan dengan penyebabnya dan keluhan yang menyertainya.