Makalah 2

JIWA SEHAT, SEKS OK

Aris Sudiyanto

PUSAT STUDI KESEHATAN SEKSUAL LPPM UNS

Pendahuluan

Gangguan kesehatan jiwa menjadi masalah kesehatan global yang serius dan mahal, mempengaruhi semua lapisan umur dan budaya serta status sosial ekonomi  masyarakat. Depresi major berada di urutan ke empat dalam menyebabkan ketidakmampuan menjalani kehidupan dan segera akan menjadi urutan ke dua karena semakin meluas. Diperkirakan 450 juta orang di dunia mengalami gangguan jiwa dan hanya kurang dari separuhnya yang mendapat pengobatan yang memadai.  Gangguan jiwa tidak dibedakan berdasarkan budaya atau usia, dan kesehatan jiwa individu merupakan aspek integral dari seluruh kesehatan dan keberadaan manusia. Worl Health Organization (WHO) menyatakan bahwa kesehatan individu dan komunitasnya dipengaruhi oleh faktor kontribusi yang luas. Baik atau buruknya kesehatan ditentukan oleh lingkungan dan situasi  apa yang terjadi dan apa yang telah terjadi terhadap individu atau komunitas.

Kesehatan jiwa dapat mempengaruhi kehidupan seksual. Terdapat beberapa faktor psikologik yang dapat memicu terjadinya gangguan dalam kehidupan seksual seseorang, antara lain kepribadian yang kaku, adanya problem psikologik masa lampau, atau sedang mengalami stres, depresi, cemas berlebihan tentang hubungan seksual, atau mengalami problem citra tubuh dan harga diri, atau merupakan akibat menyalahgunakan zat psikoaktif (napza) yang dialami setelah penggunaan jangka waktu tertentu.

Pernyataan bahwa “tidak ada kesehatan tanpa jiwa yang sehat” telah dibuktikan melalui penelitian mendalam dan klinis selama lebih dari 50 tahun. Kehidupan seksual yang menyenangkan hanya dapat dinikmati bila seseorang memiliki tubuh dan jiwa yang sehat, tidak ada kehidupan seksual yang menyenangkan tanpa jiwa yang sehat. Ini berarti jika jiwa sehat maka kehidupan seksual pun “OK”.

Kehidupan seksual merupakan salah satu aspek penting dalam kualitas hidup manusia. Kehidupan seksual yang memuaskan memberi pengaruh positif bagi kualitas hidup. Sebaliknya, kalau kehidupan seksual tidak memuaskan, maka kualitas hidup terganggu. Karena itu aktivitas seksual menjadi salah satu bagian dalam penilaian kualitas hidup manusia.

Kesehatan Jiwa

Menurut pengertian kesehatan yang diberikan WHO, kesehatan adalah keadaan sejahtera dari badan, jiwa, dan sosial yang memungkinkan setiap orang hidup produktif secara sosial dan ekonomis, tidak sekedar bebas dari penyakit, cacat, atau kelemahan. Atas dasar definisi “kesehatan” tersebut, maka manusia selalu dilihat sebagai satu kesatuan yang utuh yang terdiri dari unsur badan (organo-biologik), jiwa (psiko-edukatif), sosial (sosio-kultural), yang tidak dititik beratkan pada penyakit tetapi pada kualitas hidup ( well being) dan produktivitas sosial ekonomi (produktivitas). Jadi tersirat bahwa “kesehatan jiwa” adalah suatu bagian yang tidak terpisahkan dari “kesehatan” atau bagian yang integral serta merupakan unsur utama dalam menunjang terwujudnya kualitas hidup manusia yang utuh.

Kesehatan jiwa merupakan suatu kondisi mental yang sejahtera (mental wellbeing) yang memungkinkan hidup harmonis dan produktif, sebagai bagian yang utuh dari kualitas hidup seseorang dengan memperhatikan semua segi kehidupan manusia. Upaya kesehatan jiwa diselenggarakan untuk mewujudkan jiwa yang sehat secara optimal baik intelektual maupun emosional. Individu dipandang sehat dari aspek ke jiwaan jika mereka berhubungan dengan realitas dan cukup bebas dari kekhawatiran sehingga mereka secara bermakna memiliki kemampuan fungsional, sosial, atau biologis untuk periode waktu yang cukup panjang.

Karakteristik apa yang ditemukan dalam diri seseorang yang sehat jiwanya? Pertama, tentu saja kemampuan untuk berfungsi secara fisik, intelek, dan emosi dalam kapasitas sepenuhnya. Mempertahankan keseimbangan dalam kehidupan akan mendatangkan kesehatan jiwa. Karakteristik kedua yang penting adalah kemampuan untuk beradaptasi terhadap situasi yang berubah dengan kontrol diri dan disiplin. Orang yang memiliki kepribadian yang kuat memiliki kemampuan untuk menahan stres dan menghadapi berbagai situasi lingkungan. Orang yang sehat menunjukkan bahwa mereka mampu berhubungan dengan realitas dengan bereaksi terhadap semua situasi secara realistis. Meskipun kita semua menghadapi stres dan berubah dari waktu ke waktu, orang yang jiwanya sehat mampu bereaksi dengan tepat dengan mempraktekkan pengendalian diri. Karena mampu menerima apa yang tidak dapat diubah, mereka terlepas dari kekhawatiran yang berlebihan dan berlangsung lama saat menghadapi perubahan. Karakteristik ketiga seseorang yang jiwanya sehat adalah sikap keyakinan, yang biasanya disertai dengan perasaan humor. Tentu saja keyakinan seperti itu harus berakar pada kehidupan keagamaan yang sehat. Karakteristik yang lain yang ditemukan dalam diri orang-orang yang sehat secara mental adalah tujuan yang kokoh dalam kehidupannya.

Orang-orang yang sehat secara kejiwaan dapat menjalin relasi dengan berbagai orang dengan baik. Karena mereka dapat menerima otoritas dari orang-orang atau lembaga yang sah, mereka mampu berprestasi dalam pekerjaan mereka. Mereka dapat menjalin dan mempertahankan  persahabatan,  mengasihi dan dikasihi. Kamampuan  menjalin keakraban dalam hubungan antarpribadi yang intim merupakan pertanda kesehatan jiwa. Karakteristik kesehatan jiwa lainnya yang penting adalah keseimbangan. Kemampuan untuk berfungsi dalam peranan yang dependen dan independen, untuk diperhatikan dan memperhatikan orang lain, untuk mengikuti pimpinan dan memimpin (tergantung situasinya) merupakan pertanda kesehatan. Tanda lainnya adalah keseimbangan antara persaingan dan kompromi, antara kemampuan untuk mengejar tujuan seorang diri dan bekerja sama dengan orang lain secara efektif. Orang yang sehat  jiwanya tahu bagaimana menciptakan keseimbangan antara menuruti aturan dengan bersikap kreatif.  Tanda kesehatan jiwa yang lain adalah sikap dapat diandalkan. Orang harus dapat dipercaya. Standar  pribadi  yang diperlukan adalah harus mampu menahan tekanan dari lingkungan yang kadang-kadang melanggar moral atau bertindak secara impulsif. Kriteria kesehatan jiwa lainnya adalah kemampuan bersama dan berpusat pada orang lain. Orang yang terlalu tenggelam dan asik dalam “dunia” dan keinginan sendiri yang egois, kemarahan, kecemburuan, kecurigaan, dan bermasalah sendiri, tidak dapat berperan atau memberikan sumbangsih yang berarti bagi orang lain.

Kemampuan untuk mengungkapkan dan mengendalikan emosi merupakan aspek lain dari kesehatan jiwa. Orang-orang yang dapat mengendalikan emosi  memiliki kekuatan ego yang baik. Orang yang sehat tidak menghindar dari situasi yang membangkitkan emosi yang kuat atau menggunakan mekanisme isolasi dan disosiasi untuk melindungi perasaannya. Emosi mereka tidak ditekan tetapi perilaku mereka tetap terkendali.

Seksualitas

Seks berasal dari bahasa latin sexus yang berarti pembagian. Seks dapat berarti pembagian jenis kelamin, laki-laki dan perempuan. Jenis kelamin dari sisi biologi molekuler hanyalah perbedaan dalam satu kromosom yaitu kromosom Y. Laki-laki  mempunyai dua seks kromosom, yaitu X dan Y sedangkan wanita mempunyai dua kromosom X. Bagian spesifik dari kromosom Y, SRY (bagian gen penentu seks pada kromosom Y) bertanggung jawab untuk diferensiasi laki-laki. Seks yang membagi laki-laki dan perempuan dan seks juga yang mempersatukan laki-laki dan perempuan. Diferensiasi biologis menjadi laki-laki dan perempuan memberikan kemampuan reproduksi seksual. Seks dapat diartikan secara luas berhubungan dengan fertilisasi sebagai proses reproduksi, orgasme, sampai hubungan antar indvidu. Ada juga peneliti yang memandang seks dan seksualitas manusia terutama lebih sebagai fungsi kenikmatan dibandingkan reproduksi.

Hasrat seksual merujuk kepada fenomena subjektif dan perilaku fantasi seksual, impian seksual, rangsangan awal sampai tercapainya orgasme, perilaku seksual awal dengan pasangan, penerimaan terhadap perilaku seksual, sensasi genital, dan tanggung jawab yang besar terhadap masalah erotis dalam masyarakat. Hasrat seksual menjadi semakin kompleks karena mempunyai tiga bagian utama yaitu biologi, psikologi, dan sosial yang secara berkesinambungan berinteraksi dalam bentuk yang berubah-ubah.

Dorongan seksual adalah aspek biologi dari hasrat seksual. Dorongan untuk melakukan aktivitas seksual tanpa stimulasi eksternal kemungkinan hasil dari aktivitas jaringan saraf pusat. Reseptor dopamin D4 diketahui berhubungan dengan perilaku seksual pada binatang dan varian dari gen ini pada manusia ditemukan mempunyai hubungan dengan tingkat hasrat dan keinginan seksual. Penemuan ini menyimpulkan bahwa perbedaan perilaku seksual pada manusia sebagian disebabkan variasi gen reseptor D4, dan sebab itu berhubungan dengan kadar protein D4 yang dikeluarkan pada area otak tertentu. Setelah masa peningkatan pada remaja dan dewasa muda, manifestasi dorongan seksual secara bertahap menghilang sampai hampir tidak tampak pada usia lanjut.

Motif seksual adalah aspek psikologis dari hasrat seksual. Motif diketahui sebagai keinginan seseorang untuk mendapatkan seks. Keinginan meliputi prakarsa, penerimaan, atau keduanya. Umumnya prakarsa secara stereotip merupakan karakteristik laki-laki dan penerimaan merupakan karakteristik wanita, setiap orang, menurut jenis kelamin, memiliki momen prakarsa dan penerimaan langsung dan tersirat. Motif secara sederhana adalah keinginan untuk menjadikan seseorang sebagai pasangan untuk tujuan seksual. Perbedaan motif dan dorongan secara klinis dapat dengan melihat adanya dorongan seksual pada seseorang tetapi tidak ingin melakukannya dengan yang bukan pasangannya, walaupun secara logika bisa diterima.

Harapan seksual adalah dimensi sosial dari hasrat seksual. Sejarawan, sosiolog, filsuf, rohaniawan, dan antropolog mengingatkan klinisi bahwa kehidupan seksual dipengaruhi oleh kekuatan yang mengelilingi seseorang dan lebih penting dari pada masalah biologi atau psikologis dari kehidupan seseorang. Semua perilaku seksual terjadi dalam lingkup sosial yang ditentukan oleh keluarga, pasangan, komunitas, agama, bangsa, dan waktu sejarah. Pengaruh sosial ini secara misteri menemukan jalannya pada harapan seseorang tentang perilaku seksual.

Cinta adalah hasrat seksual yang mengandung ketiga komponen di atas dan ketiga kompenen tersebut selaras. Dorongan seksual tanpa keinginan dan harapan seksual bukanlah cinta, tidak berbeda mahluk hidup rendah yang memuaskan dorongan biologisnya. Keinginan seksual tanpa dorongan seksual dan harapan seksual bukanlah cinta, hanya pikiran dan perasaan yang tidak diungkapkan. Harapan seksual tanpa dorongan seksual dan keinginan seksual hanyalah perilaku mengikuti norma tanpa memiliki jiwa.

Jiwa sehat, seks OK

Orang yang sehat biasanya puas dengan kejantanan dan keperempuanannya. Mereka secara relatif lepas/terbebas dari ketakutan dan kebencian yang tidak berdasar, termasuk dalam hal seksualitas dan jika menikah mereka mampu menikmati kehidupan seks yang aktif (memberi) dan pasif (menerima) secara memuaskan.

Faktor kejiwaan yang dapat menyebabkan masalah dalam seksualitas meliputi semua faktor dalam semua periode kehidupan yaitu periode masa anak-anak, remaja dan dewasa. Beberapa contoh faktor kejiwaan adalah trauma seksual pada masa anak-anak, pandangan keluarga yang negatif tentang seks, misalnya tentang perilaku masturbasi yang dilakukan oleh remaja, kecemasan, ketidakmengertian tentang seksualitas, kejemuan/kebosanan, tiadanya komunikasi, dan hilangnya daya tarik.

Kondisi emosi dan psikologik merupakan hal yang amat penting dan mempengaruhi rasa sejahtera dalam fungsi seksual seseorang. Stres emosional atau psikologik karena sebab apapun dapat menyebabkan terjadinya disfungsi seksual, walaupun seseorang tidak mengalami gangguan jiwa tertentu. Tidak ada tipe kepribadian tertentu yang lebih rentan mengalami disfungsi seksual. Namun tipe kepribadian yang cukup banyak mengalami masalah dalam seksualitas adalah tipe kepribadian anankastik (cenderung perfeksionis, moralis, taat aturan). Tipe kepribadian ini mengakibatkan mereka tidak mudah untuk memulai dan melakukan hubungan seks. Ciri yang mereka miliki antara lain: sangat rapi, bersih, teratur, dan tertata dalam segala hal. Bila hal ini masih cukup lentur (fleksibel) untuk menyesuaikan diri dalam hubungan sosial (termasuk penyesuaian dan penerimaan akan kepribadian pasangannya) tentu tidak akan menimbulkan disfungsi seksual, namun bila cenderung kaku dan sulit menyesuaikan diri, maka dapat timbul problem (disebut sebagai gangguan kepribadian anankastik); mereka sulit menerima dan menyesuaikan dengan kepribadian pasangannya. Bila pasangan mereka dapat menyesuaikan diri serta bersedia memenuhi permintaan mereka, tentu tidak timbul masalah. Problem akan muncul apabila pasangannya mempunyai kepribadian yang berbeda atau bahkan bertolak belakang namun kurang atau tidak dapat saling toleransi terhadap kepribadian pasangannya, misalnya seseorang yang cenderung tidak acuh, tidak memperdulikan kerapian atau kebersihan secara kaku dan mutlak.

Persepsi dan pandangan tentang seksualitas dan hubungan seks. Hal-hal konfliktual yang berasal dari pesan budaya dan agama yang dipelajari tentang seksualitas. Misalnya suatu pesan ditanamkan secara terus menerus sejak kecil dalam bentuk ancaman atau secara keras sehingga membuat seseorang merasa takut dan tertekan yang mengakibatkan timbulnya persepsi yang tidak tepat tentang seks dan fungsi seksual dalam perkawinan (misalnya pandangan banwa seks itu sesuatu yang tabu untuk dibicarakan, seks itu “kotor”, dll). Pandangan tentang citra tubuh, citra diri dan harga diri. Pembentukan citra diri dan citra tubuh berlangsung sejak dini, yaitu sejak masa bayi dan kanak serta berlangsung terus sampai dewasa. Pada seseorang yang pembentukan citra diri dan citra tubuhnya positif, akan merasa yakin pada diri sendiri dan merasa mampu berespons seksual secara optimal, namun sebaliknya seseorang dengan citra tubuh dan citra dirinya negatif, akan kurang yakin bahwa ia mampu berespons seksual secara optimal.

Pengalaman hidup tidak mengenakkan atau tidak menyenangkan atau traumatik (yaitu mengakibatkan stres)  tentang hubungan seks pada masa lalu (misalnya mengalami perkosaan atau pelecehan seksual), maka fungsi seksualnya pada masa kini dapat terganggu atau terpengaruh. Kebanyakan dari mereka akan mengalami kesulitan atau bahkan takut melakukan hubungan seksual.

Kondisi jiwa yang sedang dalam keadaan stres, atau mengalami gangguan tertentu (misalnya depresi, cemas). Stres dapat dialami oleh semua orang, bila stres bersifat eustres, artinya dapat memotivasi agar seseorang bersemangan mengatasi problemnya, justru diperlukan oleh seseorang sebagai pendorong dan pembangkit semangat; tetapi bila bersifat distres, yaitu membuat seseorang menjadi terganggu dan tidak dapat melakukan fungsi sosial dan pekerjaannya seperti biasanya, maka dapat mempengaruhi fungsi kehidupan yang lain, termasuk fungsi seksual.

Penyebab yang juga sering menimbulkan gangguan dalam fungsi seksual adalah problem dalam hubungan interpersonal suami-istri. Perbedaan kebiasaan, sifat dan kepribadian, perbedaan latar belakang keluarga dan budaya, merupakan hal yang dialami oleh hampir semua pasangan suami istri. Sebagia besar pasangan suami-istri dapat mengatasi perbedaan tersebut, dalam arti dapat memberikan toleransi dan dapat menerima pasangan dengan segala kelebihan dan kekurangannya, namun tidak sedikit pula pasangan yang sulit untuk saling memberikan toleransi, sehingga sering mengalami konflik, dan akhirnya dapat mempengaruhi pula hubungan seksual mereka. Sebagian pasangan mengalami kesulitan untuk mengekspresikan ketidaksetujuan, kejengkelan, kemarahan, bahkan rasa benci dan dendam mereka, dan menyimpannya dalam alam nirsadar. Secara nirsadar pula perasaan-perasaan tersebut dapat bermanifestasi dalam bentuk berkurangnya minat, berkurangnya bahkan sampai hilangnya perasaan terangsang secara seksual (yang ditandai dengan sedikit atau bahkan tidak timbulnya cairan lubrikasi) sehingga mengalami nyeri saat berhubungan seksual, atau hilangnya orgasme yang sebelumnya pernah dicapai.

Kesimpulan

Beberapa faktor dan kondisi psikologik yang telah diuraikan tersebut, dapat mempengaruhi kondisi fisik seseorang termasuk kehidupan seksualnya. Jiwa yang sehat akan memberikan kehidupan seksual yang memuaskan/menyenangkan dan selanjutnya dapat meningkatkan kualitas hidup seseorang