Free Sex, Masturbasi/Onani, dan Gangguan Orientasi Seksual pada Remaja

Oleh: dr. Istar Yuliadi

Disampaikan dalam Seminar Sehari “Sex Untuk Remaja” 21 Maret 2010

dalam rangka memperingati Dies Natalis UNS ke-34

PENDAHULUAN

Seksualitas adalah bagian yang integral dalam kehidupan manusia. Seksualitas tidak hanya berhubungan dengan reproduksi tetapi juga terkait dengan masalah kebiasaan, agama, seni, moral, dan hukum. Masyarakat adalah suatu yang dinamis dan akan selalu berubah karena memang tidak ada masalah sosial yang statis. Pada era global saat ini, hampir semua informasi dapat diakses oleh siapapun di internet. Hal ini tidak hanya terbatas di Negara-negara maju tetapi di Negara-negara yang berkembang seperti Indonesia juga terjadi.

Melalui internet manusia menyebarkan budaya apapun yang kadang-kadang merefleksikan nilai-nilai yang berbeda dengan pemakainya. Misalnya, ide tentang kebebasan sexual ditayangkan secara explisit dan sangat jelas tanpa ada sensor apapun yang adekuat untuk anak-anak. Penelitian Djaelani yang dikutip Saifuddin (1999) menyatakan, 94 persen remaja menyatakan butuh nasihat mengenai seks dan kesehatan reproduksi. Tetapi sebagian besar remaja justru tidak dapat mengakses sumber informasi yang tepat.

Dipaparkan Elizabeth B Hurlock, informasi tentang sex mereka coba penuhi dengan cara membahas bersama teman-teman, buku-buku tentang seks, atau mengadakan percobaan dengan jalan masturbasi, bercumbu atau berhubungan seksual. Kebanyakan masih ada anggapan, seksualitas dan kesehatan reproduksi dinilai masih tabu untuk dibicarakan remaja. Padahal hal ini salah dan sudah saatnya kita belajar dengan benar tentang seksologi agar terhindar dari seks bebas yang dapat menjerumuskan remaja kapanpun.

FREE SEX

Seksualitas merupakan hal yang sulit untuk didefinisikan karena menyangkut banyak aspek kehidupan dan diekspresikan dalam bentuk perilaku yang beraneka ragam. Sedangkan kesehatan seksual telah didefinisikan oleh WHO (1975) sebagai “pengintegrasian aspek somatik, emosional, intelektual, dengan cara yang positif, memperkaya dan meningkatkan kepribadian, komunikasi, dan cinta”.

Apakah sex dan seksualitas merupakan sesuatu yang sama ?

Ternyata kebanyakan orang memahami sexualitas sebatas istilas sex, padahal antara sex dengan sexualitas merupakan hal yang berbeda. Menurut Zawid (1994), kata sex sering digunakan dalam dua hal, yaitu: (a) aktivitas sexsual genital, dan (b) sebagai label jender (jenis kelamin).

Sedangkan seksualitas memiliki arti yang lebih luas karena meliputi bagaimana seseorang merasa tentang bagaimana seseoarang merasa tentang diri mereka dan bagaimana mereka mengkomunikasikan perasaan tersebut terhadap orang lain melalui tindakan yang dilakukannya seperti, sentuhan, ciuman, pelukan, senggama, atau melalui perilaku yang lebih halus  seperti isyarat gerak tubuh, etiket, berpakaian, dan perbendaharaan kata. Persepsi salah inilah, dan sikap coba-coba untuk mengetahuinya yang menyebabkan terjadinya free sex pada remaja. Dan ketika sudah mencoba hal tersebut, biasanya akan menimbulkan ketagihan atau adiksi untuk mengulanginya lagi.

Michael et al (1994) membagi sikap dan keyakinan individu tentang seksualitas menjadi 3 kategori:

1.       Tradisional : keyakinan keagamaan selalu dijadikan pedoman bagi perilaku seksual mereka. Dengan demikian homoseksual, aborsi, dan hubungan seks pranikah dan diluar nikah selalu dianggap sebagai sesuatu yang salah.

2.       Relasional : berkeyakinan bahwa sex harus menjadi bagian dari hubungan saling mencintai, tetapi tidak harus dalam ikatan pernikahan.

3.       Rekreasional : menyatakan bahwa kebutuhan seks tidak ada kaitannya dengan cinta.

Menurut Wahyudi (2000) perilaku seksual merupakan perilaku yang muncul karena adanya dorongan seksual atau kegiatan mendapatkan kesenangan organ seksual melalui berbagai perilaku. Perilaku seksual yang sehat dan dianggap normal adalah cara heteroseksual, vaginal, dan dilakukan suka sama suka, dan tentu saja dalam ikatan suami istri. Sedangkan yang tidak normal (menyimpang) antara lain Sodomi, homoseksual,lesbian,dll.

Selama ini perilaku seksual sering disederhanakan sebagai hubungan seksual berupa penetrasi dan ejakulasi. Padahal menurut Wahyudi (2000), perilaku seksual secara rinci dapat berupa:

ü  Berfantasi : merupakan perilaku membayangkan dan mengimajinasikan aktivitas seksual yang bertujuan untuk menimbulkan perasaan erotisme.

ü  Pegangan Tangan : Aktivitas ini tidak terlalu menimbulkan rangsangan seksual yang kuat namun biasanya muncul keinginan untuk mencoba aktivitas yang lain.

ü  Cium Kering : Berupa sentuhan pipi dengan pipi atau pipi dengan bibir.

ü  Cium Basah : Berupa sentuhan bibir ke bibir

ü  Meraba : Merupakan kegiatan bagian-bagian sensitif rangsang seksual, seperti leher, breast, paha, alat kelamin dan lain-lain.

ü  Berpelukan : Aktivitas ini menimbulkan perasaan tenang, aman, nyaman disertai rangsangan seksual  (terutama bila mengenai daerah aerogen/sensitif)

ü  Masturbasi (wanita) atau Onani (laki-laki) : perilaku merangsang organ kelamin untuk mendapatkan kepuasan seksual.

ü  Oral Seks : merupakan aktivitas seksual dengan cara memaukan alat kelamin ke dalam mulut lawan jenis.

ü  Petting : merupakan seluruh aktivitas non intercourse (hingga menempelkan alat kelamin).

ü  Intercourse (senggama) : merupakan aktivitas seksual dengan memasukan alat kelamin laki-laki ke dalam alat kelamin wanita.

Perilaku diatas biasanya bertahap dan progresif tingkatannya, jadi jika kita ingin menghindari sex bebas dari awal, mulailah dari pikiran kita.

Sedangkan faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku seksual, menurut Purnawan (2004) yang dikutip dari berbagai sumber antara lain:

a.       Faktor Internal

1.       Tingkat perkembangan seksual (fisik/psikologis)

Perbedaan kematangan seksual akan menghasilkan perilaku seksual yang berbeda pula. Misalnya anak yang berusia 4-6 tahun berbeda dengan anak 13 tahun.

2.       Pengetahuan mengenai kesehatan reproduksi

Anak yang memiliki pemahaman secara benar dan proporsional tentang kesehatan reproduksi cenderung memahami resiko perilaku serta alternatif cara yang dapat digunakan untuk menyalurkan dorongan seksualnya

3.       Motivasi

Perilaku manusia pada dasarnya berorientasi pada tujuan atau termotivasi untuk memperoleh tujuan tertentu. Hersey & Blanchard cit Rusmiati (2001) perilaku seksual seseorang memiliki tujuan untuk memperoleh kesenangan, mendapatkan perasaan aman dan perlindungan, atau untuk memperoleh uang (pada gigolo/WTS)

b.      Faktor Eksternal

1.       Keluarga

Menurut Wahyudi (2000) kurangnya komunikasi secara terbuka antara orang tua dengan remaja dapat memperkuat munculnya perilaku yang menyimpang

2.      Pergaulan

Menurut Hurlock perilaku seksual sangat dipengaruhi oleh lingkungan pergaulannya, terutama pada masa pubertas/remaja dimana pengaruh teman sebaya lebih besar dibandingkan orangtuanya atau anggota keluarga lain.

ONANI/MASTURBASI DAN GANGGUAN ORIENTASI SEKSUAL PADA REMAJA

Sebagaimana kita ketahui dari definisi diatas, bahwa masturbasi (wanita) atau onani (laki-laki) adalah perilaku merangsang organ kelamin untuk mendapatkan kepuasan seksual. Onani/masturbasi adalah hal yang sangat sering dilakukan oleh remaja untuk mendapatkan kepuasan dari hasrat yang biasanya terpendam. Hal ini dianggap lebih aman karena tidak berhubungan dengan lawan jenis, sehingga resiko tertular penyakit seksual juga rendah, tetapi sama seperti efek dari dari perilaku seksual yang lain, ini meneyebabkan ketagihan atau adiksi jika tidak dikendalikan. Onani/masturbasi ini sekarang dianggap lumrah dilakukan di kalangan remaja pada khususnya, diperkirakan 95% pria pernah melakukannya dan 60% pada wanita, tetapi trend pada wanita untuk melakukan masturbasi terus meningkat dari tahun ke tahun, diperkirakan saat ini mencapai angka 80% atau mungkin lebih.

Media yang biasa digunakan untuk melakukan masturbasi/onani adalah media visual, entah itu berupa film ataupun gambar, yang kesemuanya dapat kita kategorikan dalam pornografi.

Dalam seminar mengenai dampak pornografi terhadap perilaku penimpangan seksual dan kerusakan otak di Jakarta, ahli bedah syaraf dari Rumah Sakit San Antonio, Amerika Serikat, Donald L. Hilton Jr, MD mengatakan bahwa adiksi (kecanduan) mengakibatkan otak bagian tengah depan yang disebut Ventral Tegmental Area (VTA) secara fisik mengecil.

“Gangguan orientasi seksual pada remaja saat ini paling banyak disebabkan oleh pornografi yang saat ini begitu mudah di dapat, terutama lewat dunia maya, padahal gangguan ini menimbulkan perubahan konstan pada neorotransmiter dan melemahkan fungsi kontrol. Ini yang membuat orang-orang yang sudah kecanduan tidak bisa lagi mengontrol perilakunya,” kata Hilton serta menambahkan adiksi pornografi juga menimbulkan gangguan memori.

Kondisi itu tidak terjadi secara cepat dalam waktu singkat namun melalui beberapa tahap yakni kecanduan yang ditandai dengan tindakan impulsif, ekskalasi kecanduan, desensitisasi dan akhirnya penurunan perilaku.

“Dan kerusakan otak akibat kecanduan pornografi adalah yang paling berat, lebih berat dari kecanduan kokain,”

Ada 12 fatamorgana tentang pornografi yang terlanjur tercipta secara tidak sengaja oleh otak kita:

1.       Pornografi membuat seseorang terpicu untuk lebih suka melayani diri sendiri dibanding orang lain.

Masturbasi/onani adalah contohnya. Ini adalah tindakan pemenuhan nafsu pribadi yang bisa membuat seseorang sulit menerima dan membari cinta yang sebenarnya pada orang lain. Pornografi biasanya membuat orang kecanduan masturbasi/onani.

2.       Pornografi membuat cara berpikir seseorang menjadi penuh dengan seks semata.

Pikiran seks akan menguasai alam bawah sadar mereka. Gambar berbau seks akan melekat pada otak mereka, sehingga pada saat seseorang memutuskan untuk berhenti melihat pornografi-pun, gambar-gambar yang pernah ia lihat dimasa lalu akan bertahan sampai beberapa tahun bahkan selama-lamanya.

3.       Pornografi menjadi ajang promosi terhadap praktik seksual yang menyimpang.

Contohnya, situs porno internet biasnya terhubung dengan situs porno yang lebih progresif seperti homoseks, pornografi anak, seks dengan hewan, perkosaan, seks dengan kekerasan dan lainnya. Ini akan membuat orang-orang tertentu terganggu secara mental dan tertantang untuk mencoba. Dengan demikian, makin banyaklah perilaku seks menyimpang di masyarakat.

4.       Pornografi akan membawa seseorang terhadap penggunaan waktu dan uang dengan sangat buruk. Sedikit ada waktu luang atau uang lebih, akan dihabiskan untuk memuaskan hawa nafsunya. Padahal situs porno, film, atau majalah porno, biasanya mendukung perkembangan industri pornografi yang dikelola oleh “kejahatan terorganisir” yang mencari dana dengan cara haram.

5.       Pornografi dapat merusak hubungan seksual dengan pasangan karena terbiasa membayangkan orang lain dalam hubungan seksual dan imajinasi adalah salah satu efek pornografi yang sangat kuat. Nilai dan kemurnian seksual sesungguhnya menjadi rusak.

Selain itu terdapat bermacam-macam gangguan orientasi seksual, antara lain:

1.       Homoseksual

Homosexual adalah kelaianan di mana seseorang menyukai ornag lain sesama jenis. Pada laki-laki disebut gay dan pada wanita disebut lesbian / lesbi.

2.       Sadomasokisme dan Masokisme

Sadomasokisme adalah penyimpangan seksual yang mendapat kenikmatan seks setelah menyakiti pasangan seksnya. Sedangkan Masokisme adalah kelianan seks yang menikmati seks jika terlebih dahulu disiksa oleh pasangannya.

3.       Ekshibisionisme
Adalah penyimpangan seks yang senang memperlihatkan alat vital / alat kelamin kepada orang lain. Penderita penyimpangan seksual ini akan suka dan terangsang jika orang lain takjub, terkejut, takut, jijik, dan lain sebagainya.

4.       Fetishisme

Fetishisme adalah suatu perilaku seks meyimpang yang suka menyalurkan kepuasan seksnya dengan cara onani / masturbasi dengan benda-benda mati seperti gaun, bando, selendang sutra, bh, sempak, kancut, kaus kaki, dsb.

5.       Voyeurisme
Pelaku penyimpangan seks ini mendapatkan kepuasan seksual dengan melihat atau mengintip orang lain yang sedang melakukan hubungan suami isteri (Scoptophilia), sedang telanjang, sedang mandi, dan sebagainya.

6.       Pedophilia
Adalah orang dewasa yang suka melakukan hubungan seks / kontak fisik yang merangsang dengan anak di bawah umur.

7.       Gerontophilia

Adalah orang dewasa yang lebih suka dengan orang yang umurnya lebih tua.

8.       Bestially
Bestially adalah manusia yang suka melakukan hubungan seks dengan binatang seperti kambing, kerbau, sapi, kuda, ayam, bebek, anjing, kucing, dan lain sebagainya.

9.       Incest
Adalah hubungan seks dengan sesama anggota keluarga sendiri non suami istri seperti antara ayah dan anak perempuan dan ibu dengan anak cowok.

10.   Necrophilia
Adalah orang yang suka melakukan hubungan seks dengan orang yang sudah menjadi mayat / orang mati.

11.   Sodomi
Sodomi adalah pria yang suka berhubungan seks melalui dubur pasangan seks baik pasangan sesama jenis (homo) maupun dengan pasangan perempuan.

12.   Frotteurisme
Yaitu suatu bentuk kelainan sexual di mana seseorang laki-laki mendapatkan kepuasan seks dengan jalan menggesek-gesek / menggosok-gosok alat kelaminnya ke tubuh perempuan di tempat publik / umum seperti di kereta, pesawat, bis, dll.

Sehingga dapat kita simpulkan dari apa yang telah diuraikan diatas bahwa untuk mempelajari tentang seksualitas, kita harus mendapat dari sumber yang benar, informasi yang kita dapatkan benar, sehingga hasil yang kita dapatkan juga benar.