Category: Rilis

ISTAR YULIADI

STRES DAN DISFUNGSI SEKSUAL

SUATU TINJAUAN PSIKONEUROIMUNOLOGI

Stress merupakan suatu keadaan yang alami dan sudah tidak asing lagi bagi kalangan masyarakat di seluruh dunia. Setiap orang kemungkinan pernah mengalami stress dalam berbagai bentuk dan tingkatan. Stres dapat mempengaruhi tubuh, pikiran dan perilaku.Ia menimbulkan perasaan gelisah, was-was, tidak nyaman, sulit tidur, tertekan hingga gangguan fisik (Hawari, 2008).

Stres mengaktifkan peringatan di otak, di mana responnya dapat berupa persiapan tubuh untuk tindakan pertahanan.Sistem saraf menjadi waspada dan hormon dikeluarkan untuk mempertajam pengindraan, mempercepat denyutan, memperdalam respirasi, dan ketegangan otot.Respon ini (disebut juga respon fight or flight) penting karena membantu untuk pertahanan terhadap situasi yang mengancam. Respon setiap orang hampir sama terhadap stresor tetapi bila situasi stresor tidak teratasi, tubuh tetap mempertahankan keadaan aktivasi, dengan peningkatan derajat ketakutan dan kewaspadaan terhadap sistem biologis. Terutama, kelelahan atau menghasilkan kerusakan tubuh, dan kemampuan tubuh untuk memperbaiki diri dan mempertahankan diri dapat menjadi tidak mampu mengimbangi dengan baik.Hasil akhirnya adalah peningkatan risiko sakit atau luka (NIOSH, 2008).

Prevalensi stress semakin meningkat baik dalam kalangan masyarakat yang tinggal di perkotaan, maupun yang tinggal di pedesaan. Bahkan di zaman global ini, stress cenderung lebih banyak menyerang masyarakat dengan tingkat perekonomian tinggi daripada masyarakat dengan tingkat perekonomian rendah, meskipun demikian terdapat perbedaan dari tingkatan-tingkatan stress yang dialami oleh masing-masing golongan masyarakat tersebut (Kisker,1997). Di Amerika, stres menjadi masalah besar karena 43% orang dewasa mengalami gangguan kesehatan akibat dari stres, 75-90% kunjungan ke pusat kesehatan berkaitan dengan stres.

Penelitian menunjukkan bahwa stress memberi kontribusi 50 sampai 70 persen terhadap timbulnya sebagian besar penyakit seperti penyakit kardiovaskuler, hipertensi, kanker, penyakit kulit, infeksi, penyakit metabolik, dan yang berat akan memperlihatkan tanda-tanda mudah lelah, sakit kepala, hilang nafsu, mudah lupa, bingung, gugup, kehilangan gairah seksual, kelainan pencernaan, dan tekanan darah tinggi (Hawari, 2008).

Stres emosional atau psikologik karena sebab apapun dapat menyebabkan terjadinya disfungsi seksual, walaupun seseorang tidak mengalami gangguan jiwa tertentu (Elvira, 2006). Faktor psikologis seperti adanya anxietas dan gangguan proses kognitif serta perhatian telah terbukti mempunyai dampak sebagai faktor yang dapat menyebabkan tidak sembuhnya disfungsi seksual atau menyebabkan kambuhnya disfungsi seksual (Cyranoswki dkk, 2009). Disfungsi dalam seksualitas mencakup gairah, bangkitan, orgasme, dan gangguan nyeri seksual (Amidu, 2010).Disfungsi seksual dan infertilitas adalah dua gangguan yang dapat saling berhubungan.Keduanya dapat menimbulkan distress pada pasangan dan mengurangi kepuasan dalam perkawinan (Tao, 2012).Disfungsi seksual terdiri dari berbagai macam gangguan yang secara klinis signifikan dalam kemampuan seseorang untuk berespon seksual atau untuk merasakan kesenangan seksual (American Psychiatric Association, 2013).

Para ahli perilaku telah mempelajari hubungan perilaku dengan sistem kekebalan tubuh yang sangat kompleks dan salah satu isu menarik adalah hubungan antara stress dengan sistem kekebalan tubuh. Akhir-akhir ini berkembang penelitian tentang hubungan antara perilaku, kerja saraf, fungsi endokrin dan imunitas.Penelitian-penelitian tersebut telah mendorong munculnya konsep baru yaitu psikoneuroimunologi. Responsivitas sistem imun terhadap stress menjadi konsep dasar psikoneuro-imunologi. Mekanisme hubungan tersebut diperantarai oleh mediator kimiawi seperti glukokortikoid, zat golongan amin dan berbagai polipeptida melalui aksis limbik hipotalamus-hipofisis-adrenal yang dapat menurunkan respon imun seperti aktifitas sel natural killer (NK), interleukin (IL-2R mRNA), TNF-dan produksi interferon gama (IFN) (Notosoedirdjo, 1999).

ANATOMI DAN FISIOLOGI SISTEM REPRODUKSI MANUSIA

ANATOMI DAN FISIOLOGI SISTEM REPRODUKSI MANUSIA

dr.Isna Qadrijati,MKes

Disampaikan pada acara SIMPOSIUM REPRODUCTIVE HEALTH WOMEN DURING THE LIFE CYCLE, Aula PKU RS.Muhammadiyah Surakarta, tanggal 19 September 2011

PENDAHULUAN

Pengetahuan tentang Anatomi dan Fisiologi sistem reproduksi pada manusia merupakan ilmu yang paling dasar/basic bagi setiap pelaku kesehatan reproduksi khususnya para wanita. Dalam makalah ini akan dibahas dua hal yaitu  tentang  ANATOMI SISTEM REPRODUKSI MANUSIA yng menerngkan tentang Anatomi Saluran Reproduksi Laki-laki dan Anatomi Saluran Reproduksi Wanita. Selain itu juga dibahas mengenai  FISIOLOGI SISTEM REPRODUKSI MANUSIA yang meliputi : Pubertas pada Anak laki-laki,Pubertas pada Anak wanita,Fisiologi reproduksi laki-laki,Siklus mestruasi,Respon Seksual Manusia,Fertlisasi dan terjadinya kehamilan, serta Menopause.

ANATOMI SISTEM REPRODUKSI MANUSIA

Organ reproduksi membentuk traktus genetalis yang berkembang setelah traktus urinarius. Kelamin laki-laki maupun wanita semenjak lahir sudah dapat ditentukan, tetapi sifat-sifat kelamin belum dapat dikenal (Syaifudin,1997).

1. Anatomi Saluran Reproduksi Laki-laki

TESTIS

Testis merupakan sepasang struktur berbentuk oval,agak gepeng dengan panjang sekitar 4 cm dan diameter sekitar2.5 cm. Testis berada didalam skrotum bersama epididimis yaitu kantung ekstraabdomen tepat dibawah penis. Dinding pada rongga yang memisahkan testis dengan epididimis disebut tunika vaginalis. Tunika vaginalis dibentuk dari peritoneum intraabdomen yang bermigrasi ke dalam skrotum primitive selama perkembangan genetalia interna pria, setelah migrasi ke dalam skrotum, saluran tempat turunnya testis (prosesus vaginalis) akan menutup.

EPIDIDIMIS

Merupakan suatu struktur berbentuk koma yang menahan batas posterolateral testis. Epididimis dibentuk oleh saluran yang berlekuk-lekuk secara tidak teratur yang disebut duktus epididimis. Panjang duktus epididimis sekitar 600 cm. Duktus ini berawal dari puncak testis (kepala epididimis) dan berjalan berliku-liku, kemudian berakhir pada ekor epididimis yang kemudian menjadi vas deferens. Epididimis merupakan tempat terjadinya maturasi akhir sperma.

SCROTUM

Skrotum pada dasarnya merupakan kantung kulit khusus yang melindungi testis dan epididimis dari cedera fisik dan merupakan pengatur suhu testis. Spermatozoa sangat sensitive terhadap suhu karena testis dan epididimis berada di luar rongga tubuh, suhu di dalam testis biasanya lebih rendah daripada suhu di dalam abdomen.

VAS DEFERENS

Vas deferens merupakan lanjutan langsung dari epididimis. Panjangnya 45 cm yang berawal dari ujung bawah epididimis, naik disepanjang aspek posterior testis dalam bentuk gulungan-gulungan bebas, kemudian meninggalkan bagian belakang testis, duktus ini melewati korda spermatika menuju abdomen.

VESICULA SEMINALIS

Merupakan sepasang struktur berongga dan berkantung-kantung pada dasar kandung kemih di depan rectum. Masing-masing vesicular memiliki panjang 5 cm dan menempel lebih erat pada kandung kemih daripada pada rectum. Pasokan darah ke vas deferens dan vesikula seminalis berasal dari arteri vesikulkaris inferior. Arteri ini berjalan bersama vas deferens menuju skrotum beranastomosis dengan arteri testikukar, sedangkan aliran limfatik berjalan menuju ke nodus iliaka interna dan eksterna. Vesikula seminalis memproduksi sekitar 50-60 % dari total volume cairan semen. Komponen penting pada semen yang berasal dari vesukula seminalis adalah fruktosa dan prostaglandin.

KELENJAR PROSTAT

Kelenjar prostat merupakan organ  dengan sebagian strukturnya merupakan kelenjar dan sebagian lagi otot dengan ukuran sekitar 2,3 x 3,5 x 4,5 cm. Organ ini mengililingi uretra pria, yang terfiksasi kuat oleh lapisan jaringan ikat di belakang simpisis pubis. Lobus media prostat secara histologis sebagai zona transisional berbentuk baji, mengelilingi uretrra dan memisahkannya dengan duktus ejakulatorius. Saat terjadi hipertropi, lobus media dapat menyumbat aliran urin. Hipertropi lobus media banyak terjadi pada pria usia lanjut.

PENIS

Penis terdiri jaringan kavernosa (erektil) dan dilalui uretra. Ada dua permukaan yaitu permukaan posterior penis teraba lunak (dekat uretra) dan permukaan dorsal. Jaringan erektil penis tersusun dalam tiga kolom longitudinal, yaitu sepasang korpus kavernosum dan sebuah korpus spongiousum di bagian tengah. Ujung penis disebut glans. Glands penis ini mengandung jaringan erektil dan berlanjut ke korpus spongiosum. Glans dilapisi lapisan kulit tipis berlipat, yang dapat ditarik ke proksimal disebut prepusium (kulit luar), prepusium ini dibuang saat dilkukan pembedahaan (sirkumsisi). Penis berfungsi sebagai penetrasi. Penetrasi pada wanita memungkinkan terjadinya deposisi semen dekat serviks uterus.

1.       Anatomi Saluran Reproduksi Wanita

Organ reproduksi wanita secara umum dibagi dua, yaitu organ reproduksi wanita yang terdapat di luar dan di dalam tubuh. Organ reproduksi wanita ada di dalam rongga pelvis.

RONGGA PELVIS

Terletak di bawah,berhubungan dengan rongga abdomen, dibentuk oleh os iski dan os pubis pada sisi samping dan depan, os sakrum dan os koksigis membentuk batas belakang dan pinggiran pelvis dibentuk oleh promontorium sakrum di belakang iliopektinal sebelah sisi samping dan depan dari tulang sakrum (Syaifudin,1997).

PINTU KELUAR PELVIS (PINTU BAWAH)

Dibatasi oleh os koksigis dibelakang simfisis pubis, di depan lengkung os pubis,os iski, serta ligamentum yang berjalan dari os iski dan os sakrum disetiap sisi, pintu keluar ini membentuk lantai pelvis (Syaifudin,1997).

ISI PELVIS

Kandung kemih dan dua buah ureter terletak dibelakang simfisis, kolon sigmoid sebelah kiri fosa iliaka dan rektum terletak di sebelah belakang rongga mengikuti lengkung sakrum. Kelenjar limfe, serabut saraf fleksus lumbosakralis untuk anggota gerak bawah cabang pembuluh darah a.iliaka interna dan v.iliaka interna berada di dalam pelvis (Syaifudin,1997).

Genetalia pada wanita terpisah dari urethra, dan mempunyai saluran tersendiri. Alat reproduksi wanita dibagi menjadi 2 bagian yaitu :

a.       ALAT GENITALIA LUAR (VULVA)

Vulva terbagi atas sepertiga bagian bawah vagina,klitoris, dan labia.Hanya mons dan labia mayora yang dapat terlihat pada genetalia eksterna wanita. Arteri pudenda interna mengalirkan darah ke vulva. Arteri ini berasal dari arteri iliaka interna bagian posterior, sedangkan aliran limfatik dari vulva mengalir ke nodus inguinalis.

Alat genetalia luar terdiri dari :

1). Mons veneris/pubis (Tundun)

Bagian yang menonjol berupa tonjolan lemak yang besar terletak di di atas  simfisis pubis. Area ini mulai ditumbuhi bulu pada masa pubertas (Syaifudin, 1997).

2). Labia Mayora (bibir besar)

Dua lipatan dari kulit diantara kedua paha bagian atas. Labia mayora banyak mengandung urat syaraf (Syaifudin, 1997). Labia mayora merupakan struktur terbesar genetalia eksterna wanita dan mengelilingi organ lainnya, yang berakhir pada mons pubis.

3) Labia Minora (bibir kecil)

Berada di sebelah dalam labia mayora. Jadi untuk memeriksa labia minora, harus membuka labia mayora terlebih dahulu.

4). Klitoris (Kelentit)

Sebuah jaringan ikat erektil kecil kira-kira sebesar biji kacang hijau yang dapat mengeras dan tegang (erectil) yang mengandung urat saraf (Syaifudin, 1997), jadi homolog dengan penis dan merupakan organ perangsang seksual pada wanita.

5). Vestibulum (serambi)

Merpakan rongga yang berada di antara bibir kecil (labia minora), muka belakang dibatasi oleh klitoris dan perineum. Dalam vestibulum terdapat muara-muara dari : liang senggama (introitus vagina),urethra,kelenjar bartolini, dan kelenjar skene kiri dan kanan (Syaifudin, 1997).

6). Himen (selaput dara)

Lapisan/membran tipis yang menutupi sebagian besar dari liang senggama, ditengahnya berlubang supaya kotoran menstruasi dapat mengalir keluar, letaknya mulut vagina pada bagian ini, bentuknya berbeda-beda ada yang seperti bulan sabit. Konsistensinya ada yang kaku, dan ada yang lunak, lubangnya ada yang seujung jari, ada yang dapat dilalui satu jari (Syaifudin,1997). Himen mungkin tetap ada selama pubertas atau saat hubungan seksual pertama kali.

7). Perineum (kerampang)

Merupakan bagian terendah dari badan berupa sebuah garis yang menyambung kedua tuberositas iski, daerah depan segitiga kongenital dan bagian belakang segitiga anal, titik tengahnya disebut badan perineum terdiri dari otot fibrus yang kuat di sebelah depan anus

Terletak diantara vulva dan anus, panjangnya lebih kurang 4 cm (Syaifudin, 1997).

“Penyuluhan Pegaruh Gizi terhadap Daya Tahan Pekerja Batik di Kota Surakarta”

ABSTRAK

Penyuluhan Pegaruh Gizi terhadap Daya Tahan Pekerja Batik di Kota Surakarta

Ipop Syarifah*, Cr. Siti Utari*, Istar Yuliadi*, Sri Hartati H.*

Tujuan Pengabdian ini adalah mengadakan penyuluhan untuk meningkatkan pengetahuan para pekerja perajin batik tulis dalam hal kesehatan pada umumnya dan gizi pada khususnya, seperti kita ketahui untuk produksi satu lembar batik tulis memerlukan suatu proses yang cukup lama, karena memerlukan penanganan khusus dan cermat, pekerjaan yang lama seperti ini jika tidak diimbangi dengan perhatian dari segi gizi dapat mempengaruhi tingkat kesehatan. Salah satu tolok ukur tingkat atau derajat kesehatan manusia adalah dengan mengetahui kadar hemoglobin (Hb), adanya anemia karena kekurangan Hb dapat menurunkan produktivitas dari pekerja.

Metode yang digunakan dalam pengabdian ini adalah berupa penyuluhan tentang pentingnya memperhatikan gizi pekerja.

Diharapkan dengan pengabdian ini dapat diperoleh gambaran secara umum keadaan gizi para pekerja perajin batik tulis.di Surakarta. Diharapkan juga dengan penyuluhan ini dapat dihasilkan rekomendasi untuk memperbaiki keadaan tersebut.

Kata kunci : Pekerja, status gizi, daya tahan pekerja.

“Hubungan antara Kadar Hb dengan Lama Kerja pada Karyawan Pabrik Batik Tulis di Surakarta”

ABSTRAK

Hubungan antara Kadar Hb dengan Lama Kerja pada Karyawan Pabrik Batik Tulis di Surakarta

Ipop Syarifah*, Cr. Siti Utari*, Istar Yuliadi*, Sri Hartati H.*

Tujuan Penelitian ini adalah mengetahui secara kuantitatif hubungan antara kadar Hb dengan lama kerja pada karyawan pabrik tulis di Surakarta, seperti kita ketahui untuk produksi satu lembar batik tulis memerlukan suatu proses yang cukup lama, karena memerlukan penanganan khusus dan cermat, pekerjaan yang lama seperti ini jika tidak diimbangi dengan perhatian dari segi gizi dapat mempengaruhi tingkat kesehatan. Salah satu tolok ukur tingkat atau derajat kesehatan manusia adalah dengan mengetahui kadar hemoglobin (Hb).

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah observasional, dengan pengambilan sampel berupa kadar Hb darah pekerja dikorelasikan dengan lamanya bekerja seorang karyawan.

Diharapkan dengan penelitian ini dapat diketahui adakah hubungan antara kadar Hb dengan lama kerja pada karyawan pabrik batik tulis di Surakarta. Diharapkan dengan adanya data tersebut dapat dihasilkan rekomendasi untuk memperbaiki keadaan tersebut.

Dari hasil penelitian diperoleh bahwa tidak terdapat korelasi yang bermakna antara lama kerja dan kadar Hb (p = 0.317). Dengan nilai koefisien korelasi (r) = -0.127, hal tersebut menunjukkan adanya korelasi yang negatif antara lama kerja dengan kadar Hb. Semakin besar nilai lama kerja maka semakin kecil kadar Hb.

Saran yang dapat diberikan berupa perlu dilakukannya penelitian lanjutan dengan memperhatikan confounding factor yang tidak dianalisis oleh peneliti pada penelitian ini atau dengan jumlah sampel yang lebih besar.

Kata kunci : Pekerja, kadar Hb, lama kerja

Penelitian Mandiri 2

Hubungan Antara Stres dengan Tingkat Penghasilan pada Pria Andropause

Abstraksi

Istar Yuliadi. 2011. Hubungan Antara Stres dengan Tingkat Penghasilan pada Pria Andropause. Penelitian Mandiri. Pusat Studi Kesehatan Seksual (PSKS) Lembaga Penelitian dan Pengabdian pada Masyarakat, Universitas Sebelas Maret Surakarta.

Tujuan Penelitian:

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara stres dengan tingkat penghasilan pada pria andropause.

Metode Penelitian:

Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif epidemiologi observasi analitik dengan pendekatan cross sectional. Penelitian ini dilakukan di Desa Kemiri, Kecamatan Kebakkramat, Kabupaten Karanganyar, subjek penelitian diambil berdasarkan kriteria inklusi (pria usia >40 tahun, memiliki istri yang sah, telah andropause, lama perkawinan minimal > 15 tahun, anak minimal 2, tinggal di Desa Kemiri) dan kriteria ekslusi yang telah ditetapkan. Pengambilan sampel dengan cara purposive sampling yang dilanjutkan random sampling. Screening andropause menggunakan screening stres menggunakan GHQ (General Health Questionnaire), ADAM (Androgen Deficiency in the Aging Male) Questionnaire dan kuesioner untuk mengetahui tingkat penghasilan.

Hasil penelitian:

Dari penelitian di dapatkan 58 subjek penelitian yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi, dari 58 subjek penelitian yang telah andropause di dapatkan 52 orang (89,66%) positif stres dan 6 orang (10,34%) negatif stres berdasarkan screening GHQ. Data hasil penelitian diuji secara statistik dengan Uji Korelasi Spearman (SPSS 17.0 for Windows). Uji statistik dengan tingkat tingkat keyakinan 95%, di dapatkan nilai r tabel= -0,262 dan p=0,047.

Kesimpulan:

Ada hubungan berkebalikan dan signifikan secara statistik antara stres dengan tingkat penghasilan pada pria andropause, dimana semakin rendah tingkat penghasilan maka semakin tinggi skor GHQ (stres) atau semakin tinggi tingkat penghasilan maka semakin rendah skor GHQ (stres).

Kata kunci: Stres, Penghasilan, Pria Andropause

Penelitian Mandiri 1

Hubungan Antara Stres dengan Lama Perkawinan pada Pria Andropause

Abstraksi

Istar Yuliadi. 2011. Hubungan Antara Stres dengan Lama Perkawinan pada Pria Andropause. Penelitian Mandiri. Pusat Studi Kesehatan Seksual (PSKS) Lembaga Penelitian dan Pengabdian  pada Masyarakat, Universitas Sebelas Maret Surakarta.

Tujuan Penelitian:

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara stres dengan lama perkawinan pada pria andropause.

Metode Penelitian:

Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif epidemiologi observasi analitik dengan pendekatan cross sectional. Penelitian ini dilakukan di Desa Kemiri, Kecamatan Kebakkramat, Kabupaten Karanganyar, subjek penelitian diambil berdasarkan kriteria inklusi (pria usia >40 tahun, memiliki istri yang sah, telah andropause, lama perkawinan minimal > 15 tahun, anak minimal 2, tinggal di Desa Kemiri) dan kriteria ekslusi yang telah ditetapkan. Pengambilan sampel dengan cara purposive sampling yang dilanjutkan random sampling. Screening andropause menggunakan screening stres menggunakan GHQ (General Health Questionnaire),  ADAM (Androgen Deficiency in the Aging Male) Questionnaire dan kuesioner untuk mengetahui lama perkawinan.

Hasil penelitian:

Dari penelitian di dapatkan 58 subjek penelitian yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi, dari 58 subjek penelitian yang telah andropause di dapatkan 52 orang (89,66%) positif stres dan 6 orang (10,34%) negatif stres berdasarkan screening GHQ. Data hasil penelitian diuji secara statistik dengan Uji Korelasi Pearson Product Moment (SPSS 17.0 for Windows). Uji statistik dengan tingkat tingkat keyakinan 95%, di dapatkan nilai r tabel= 0,543 dan p=0,000.

Kesimpulan:

Ada hubungan positif dan signifikan secara statistik antara stres dengan lama perkawinan pada pria andropause, dimana semakin pendek lama perkawinan maka semakin rendah skor GHQ (stres) atau semakin panjang lama perkawinan maka semakin tinggi skor GHQ (stres).

Kata kunci: Stres, Lama Perkawinan, Pria Andropause

Renungan Laki-laki…..

Laki-laki sejati bukanlah dilihat dari bahunya yang kekar, tapi dari kasih sayangnya pada orang sekitar..
Laki-laki sejati bukanlah dilihat dari suaranya yang lantang, tapi dari kelembutannya mengatakan kebenaran…
Laki-laki sejati bukanlah dilihat dari jumlah sahabat disekitarnya, tapi dari sikap bersahabatnya pada generasi muda bangsa…
Laki-laki sejati bukanlah dilihat dari bagaimana dia dihormati ditempat bekerja, tetapi bagaimana dia dihormati di dalam rumah tangga….
Laki-laki sejati bukanlah dilihat dari kerasnya pukulan, tetapi dari sikap bijaknya memahami persoalan…
Laki-laki sejati bukanlah dilihat dari dadanya yang bidang, tapi dari hati yang ada dibalik itu…
Laki-laki sejati bukanlah dilihat dari banyaknyta wanita yang memuja, tetapi komitmennya terhadap wanita yang dicintainya…
Laki-laki sejati bukanlah dilihat dari jumlah barbel yang dibebankan, tetapi dari tabahnya dia menghadapi liku-liku kehidupan…
Laki-laki sejati bukanlah dilihat dari kerasnya membaca kitab suci, tetapi dari bagaimana konsistennya dia menjalankan apa yang dia baca….

PSK S..Merenung….

Disaat matahari terbit, kita merasa enggan untuk melihat sinarnya, tetapi setelah dia terbenam barulah kita menyadari betapa kita membutuhkan sinarnya itu. Begitu juga dengan kehidupan kita, rasanya seperti biasa-biasa saja. Namun setelah dia pergi, barulah kita menyadari betapa berartinya dia dalam kehidupan kita. Jadi sayangilah orang yang menyayangimu, karena dia bisa saja pergi secara tiba-tiba, disaat kita mulai menyayanginya. Kasih sayang seseorang terhadap kita sering kali baru kita rasakan saat orang itu tidak bersama kita lagi.

Mari kita komentari kata-kata itu:
1. Suami atau istri itu berguna saat tiada,hehe, setuju nggak?
2. Suami atau istri itu tidak boleh ke lain hati, tetapi kalo ke lain bodi, gimana ya?
3. Selanjutnya terserah anda…..

Free Sex, Masturbasi/Onani, dan Gangguan Orientasi Seksual pada Remaja

Oleh: dr. Istar Yuliadi

Disampaikan dalam Seminar Sehari “Sex Untuk Remaja” 21 Maret 2010

dalam rangka memperingati Dies Natalis UNS ke-34

PENDAHULUAN

Seksualitas adalah bagian yang integral dalam kehidupan manusia. Seksualitas tidak hanya berhubungan dengan reproduksi tetapi juga terkait dengan masalah kebiasaan, agama, seni, moral, dan hukum. Masyarakat adalah suatu yang dinamis dan akan selalu berubah karena memang tidak ada masalah sosial yang statis. Pada era global saat ini, hampir semua informasi dapat diakses oleh siapapun di internet. Hal ini tidak hanya terbatas di Negara-negara maju tetapi di Negara-negara yang berkembang seperti Indonesia juga terjadi.

Melalui internet manusia menyebarkan budaya apapun yang kadang-kadang merefleksikan nilai-nilai yang berbeda dengan pemakainya. Misalnya, ide tentang kebebasan sexual ditayangkan secara explisit dan sangat jelas tanpa ada sensor apapun yang adekuat untuk anak-anak. Penelitian Djaelani yang dikutip Saifuddin (1999) menyatakan, 94 persen remaja menyatakan butuh nasihat mengenai seks dan kesehatan reproduksi. Tetapi sebagian besar remaja justru tidak dapat mengakses sumber informasi yang tepat.

Dipaparkan Elizabeth B Hurlock, informasi tentang sex mereka coba penuhi dengan cara membahas bersama teman-teman, buku-buku tentang seks, atau mengadakan percobaan dengan jalan masturbasi, bercumbu atau berhubungan seksual. Kebanyakan masih ada anggapan, seksualitas dan kesehatan reproduksi dinilai masih tabu untuk dibicarakan remaja. Padahal hal ini salah dan sudah saatnya kita belajar dengan benar tentang seksologi agar terhindar dari seks bebas yang dapat menjerumuskan remaja kapanpun.

FREE SEX

Seksualitas merupakan hal yang sulit untuk didefinisikan karena menyangkut banyak aspek kehidupan dan diekspresikan dalam bentuk perilaku yang beraneka ragam. Sedangkan kesehatan seksual telah didefinisikan oleh WHO (1975) sebagai “pengintegrasian aspek somatik, emosional, intelektual, dengan cara yang positif, memperkaya dan meningkatkan kepribadian, komunikasi, dan cinta”.

Apakah sex dan seksualitas merupakan sesuatu yang sama ?

Ternyata kebanyakan orang memahami sexualitas sebatas istilas sex, padahal antara sex dengan sexualitas merupakan hal yang berbeda. Menurut Zawid (1994), kata sex sering digunakan dalam dua hal, yaitu: (a) aktivitas sexsual genital, dan (b) sebagai label jender (jenis kelamin).

Sedangkan seksualitas memiliki arti yang lebih luas karena meliputi bagaimana seseorang merasa tentang bagaimana seseoarang merasa tentang diri mereka dan bagaimana mereka mengkomunikasikan perasaan tersebut terhadap orang lain melalui tindakan yang dilakukannya seperti, sentuhan, ciuman, pelukan, senggama, atau melalui perilaku yang lebih halus  seperti isyarat gerak tubuh, etiket, berpakaian, dan perbendaharaan kata. Persepsi salah inilah, dan sikap coba-coba untuk mengetahuinya yang menyebabkan terjadinya free sex pada remaja. Dan ketika sudah mencoba hal tersebut, biasanya akan menimbulkan ketagihan atau adiksi untuk mengulanginya lagi.

Michael et al (1994) membagi sikap dan keyakinan individu tentang seksualitas menjadi 3 kategori:

1.       Tradisional : keyakinan keagamaan selalu dijadikan pedoman bagi perilaku seksual mereka. Dengan demikian homoseksual, aborsi, dan hubungan seks pranikah dan diluar nikah selalu dianggap sebagai sesuatu yang salah.

2.       Relasional : berkeyakinan bahwa sex harus menjadi bagian dari hubungan saling mencintai, tetapi tidak harus dalam ikatan pernikahan.

3.       Rekreasional : menyatakan bahwa kebutuhan seks tidak ada kaitannya dengan cinta.

Menurut Wahyudi (2000) perilaku seksual merupakan perilaku yang muncul karena adanya dorongan seksual atau kegiatan mendapatkan kesenangan organ seksual melalui berbagai perilaku. Perilaku seksual yang sehat dan dianggap normal adalah cara heteroseksual, vaginal, dan dilakukan suka sama suka, dan tentu saja dalam ikatan suami istri. Sedangkan yang tidak normal (menyimpang) antara lain Sodomi, homoseksual,lesbian,dll.

Selama ini perilaku seksual sering disederhanakan sebagai hubungan seksual berupa penetrasi dan ejakulasi. Padahal menurut Wahyudi (2000), perilaku seksual secara rinci dapat berupa:

ü  Berfantasi : merupakan perilaku membayangkan dan mengimajinasikan aktivitas seksual yang bertujuan untuk menimbulkan perasaan erotisme.

ü  Pegangan Tangan : Aktivitas ini tidak terlalu menimbulkan rangsangan seksual yang kuat namun biasanya muncul keinginan untuk mencoba aktivitas yang lain.

ü  Cium Kering : Berupa sentuhan pipi dengan pipi atau pipi dengan bibir.

ü  Cium Basah : Berupa sentuhan bibir ke bibir

ü  Meraba : Merupakan kegiatan bagian-bagian sensitif rangsang seksual, seperti leher, breast, paha, alat kelamin dan lain-lain.

ü  Berpelukan : Aktivitas ini menimbulkan perasaan tenang, aman, nyaman disertai rangsangan seksual  (terutama bila mengenai daerah aerogen/sensitif)

ü  Masturbasi (wanita) atau Onani (laki-laki) : perilaku merangsang organ kelamin untuk mendapatkan kepuasan seksual.

ü  Oral Seks : merupakan aktivitas seksual dengan cara memaukan alat kelamin ke dalam mulut lawan jenis.

ü  Petting : merupakan seluruh aktivitas non intercourse (hingga menempelkan alat kelamin).

ü  Intercourse (senggama) : merupakan aktivitas seksual dengan memasukan alat kelamin laki-laki ke dalam alat kelamin wanita.

Perilaku diatas biasanya bertahap dan progresif tingkatannya, jadi jika kita ingin menghindari sex bebas dari awal, mulailah dari pikiran kita.

Sedangkan faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku seksual, menurut Purnawan (2004) yang dikutip dari berbagai sumber antara lain:

a.       Faktor Internal

1.       Tingkat perkembangan seksual (fisik/psikologis)

Perbedaan kematangan seksual akan menghasilkan perilaku seksual yang berbeda pula. Misalnya anak yang berusia 4-6 tahun berbeda dengan anak 13 tahun.

2.       Pengetahuan mengenai kesehatan reproduksi

Anak yang memiliki pemahaman secara benar dan proporsional tentang kesehatan reproduksi cenderung memahami resiko perilaku serta alternatif cara yang dapat digunakan untuk menyalurkan dorongan seksualnya

3.       Motivasi

Perilaku manusia pada dasarnya berorientasi pada tujuan atau termotivasi untuk memperoleh tujuan tertentu. Hersey & Blanchard cit Rusmiati (2001) perilaku seksual seseorang memiliki tujuan untuk memperoleh kesenangan, mendapatkan perasaan aman dan perlindungan, atau untuk memperoleh uang (pada gigolo/WTS)

b.      Faktor Eksternal

1.       Keluarga

Menurut Wahyudi (2000) kurangnya komunikasi secara terbuka antara orang tua dengan remaja dapat memperkuat munculnya perilaku yang menyimpang

2.      Pergaulan

Menurut Hurlock perilaku seksual sangat dipengaruhi oleh lingkungan pergaulannya, terutama pada masa pubertas/remaja dimana pengaruh teman sebaya lebih besar dibandingkan orangtuanya atau anggota keluarga lain.

ONANI/MASTURBASI DAN GANGGUAN ORIENTASI SEKSUAL PADA REMAJA

Sebagaimana kita ketahui dari definisi diatas, bahwa masturbasi (wanita) atau onani (laki-laki) adalah perilaku merangsang organ kelamin untuk mendapatkan kepuasan seksual. Onani/masturbasi adalah hal yang sangat sering dilakukan oleh remaja untuk mendapatkan kepuasan dari hasrat yang biasanya terpendam. Hal ini dianggap lebih aman karena tidak berhubungan dengan lawan jenis, sehingga resiko tertular penyakit seksual juga rendah, tetapi sama seperti efek dari dari perilaku seksual yang lain, ini meneyebabkan ketagihan atau adiksi jika tidak dikendalikan. Onani/masturbasi ini sekarang dianggap lumrah dilakukan di kalangan remaja pada khususnya, diperkirakan 95% pria pernah melakukannya dan 60% pada wanita, tetapi trend pada wanita untuk melakukan masturbasi terus meningkat dari tahun ke tahun, diperkirakan saat ini mencapai angka 80% atau mungkin lebih.

Media yang biasa digunakan untuk melakukan masturbasi/onani adalah media visual, entah itu berupa film ataupun gambar, yang kesemuanya dapat kita kategorikan dalam pornografi.

Dalam seminar mengenai dampak pornografi terhadap perilaku penimpangan seksual dan kerusakan otak di Jakarta, ahli bedah syaraf dari Rumah Sakit San Antonio, Amerika Serikat, Donald L. Hilton Jr, MD mengatakan bahwa adiksi (kecanduan) mengakibatkan otak bagian tengah depan yang disebut Ventral Tegmental Area (VTA) secara fisik mengecil.

“Gangguan orientasi seksual pada remaja saat ini paling banyak disebabkan oleh pornografi yang saat ini begitu mudah di dapat, terutama lewat dunia maya, padahal gangguan ini menimbulkan perubahan konstan pada neorotransmiter dan melemahkan fungsi kontrol. Ini yang membuat orang-orang yang sudah kecanduan tidak bisa lagi mengontrol perilakunya,” kata Hilton serta menambahkan adiksi pornografi juga menimbulkan gangguan memori.

Kondisi itu tidak terjadi secara cepat dalam waktu singkat namun melalui beberapa tahap yakni kecanduan yang ditandai dengan tindakan impulsif, ekskalasi kecanduan, desensitisasi dan akhirnya penurunan perilaku.

“Dan kerusakan otak akibat kecanduan pornografi adalah yang paling berat, lebih berat dari kecanduan kokain,”

Ada 12 fatamorgana tentang pornografi yang terlanjur tercipta secara tidak sengaja oleh otak kita:

1.       Pornografi membuat seseorang terpicu untuk lebih suka melayani diri sendiri dibanding orang lain.

Masturbasi/onani adalah contohnya. Ini adalah tindakan pemenuhan nafsu pribadi yang bisa membuat seseorang sulit menerima dan membari cinta yang sebenarnya pada orang lain. Pornografi biasanya membuat orang kecanduan masturbasi/onani.

2.       Pornografi membuat cara berpikir seseorang menjadi penuh dengan seks semata.

Pikiran seks akan menguasai alam bawah sadar mereka. Gambar berbau seks akan melekat pada otak mereka, sehingga pada saat seseorang memutuskan untuk berhenti melihat pornografi-pun, gambar-gambar yang pernah ia lihat dimasa lalu akan bertahan sampai beberapa tahun bahkan selama-lamanya.

3.       Pornografi menjadi ajang promosi terhadap praktik seksual yang menyimpang.

Contohnya, situs porno internet biasnya terhubung dengan situs porno yang lebih progresif seperti homoseks, pornografi anak, seks dengan hewan, perkosaan, seks dengan kekerasan dan lainnya. Ini akan membuat orang-orang tertentu terganggu secara mental dan tertantang untuk mencoba. Dengan demikian, makin banyaklah perilaku seks menyimpang di masyarakat.

4.       Pornografi akan membawa seseorang terhadap penggunaan waktu dan uang dengan sangat buruk. Sedikit ada waktu luang atau uang lebih, akan dihabiskan untuk memuaskan hawa nafsunya. Padahal situs porno, film, atau majalah porno, biasanya mendukung perkembangan industri pornografi yang dikelola oleh “kejahatan terorganisir” yang mencari dana dengan cara haram.

5.       Pornografi dapat merusak hubungan seksual dengan pasangan karena terbiasa membayangkan orang lain dalam hubungan seksual dan imajinasi adalah salah satu efek pornografi yang sangat kuat. Nilai dan kemurnian seksual sesungguhnya menjadi rusak.

Selain itu terdapat bermacam-macam gangguan orientasi seksual, antara lain:

1.       Homoseksual

Homosexual adalah kelaianan di mana seseorang menyukai ornag lain sesama jenis. Pada laki-laki disebut gay dan pada wanita disebut lesbian / lesbi.

2.       Sadomasokisme dan Masokisme

Sadomasokisme adalah penyimpangan seksual yang mendapat kenikmatan seks setelah menyakiti pasangan seksnya. Sedangkan Masokisme adalah kelianan seks yang menikmati seks jika terlebih dahulu disiksa oleh pasangannya.

3.       Ekshibisionisme
Adalah penyimpangan seks yang senang memperlihatkan alat vital / alat kelamin kepada orang lain. Penderita penyimpangan seksual ini akan suka dan terangsang jika orang lain takjub, terkejut, takut, jijik, dan lain sebagainya.

4.       Fetishisme

Fetishisme adalah suatu perilaku seks meyimpang yang suka menyalurkan kepuasan seksnya dengan cara onani / masturbasi dengan benda-benda mati seperti gaun, bando, selendang sutra, bh, sempak, kancut, kaus kaki, dsb.

5.       Voyeurisme
Pelaku penyimpangan seks ini mendapatkan kepuasan seksual dengan melihat atau mengintip orang lain yang sedang melakukan hubungan suami isteri (Scoptophilia), sedang telanjang, sedang mandi, dan sebagainya.

6.       Pedophilia
Adalah orang dewasa yang suka melakukan hubungan seks / kontak fisik yang merangsang dengan anak di bawah umur.

7.       Gerontophilia

Adalah orang dewasa yang lebih suka dengan orang yang umurnya lebih tua.

8.       Bestially
Bestially adalah manusia yang suka melakukan hubungan seks dengan binatang seperti kambing, kerbau, sapi, kuda, ayam, bebek, anjing, kucing, dan lain sebagainya.

9.       Incest
Adalah hubungan seks dengan sesama anggota keluarga sendiri non suami istri seperti antara ayah dan anak perempuan dan ibu dengan anak cowok.

10.   Necrophilia
Adalah orang yang suka melakukan hubungan seks dengan orang yang sudah menjadi mayat / orang mati.

11.   Sodomi
Sodomi adalah pria yang suka berhubungan seks melalui dubur pasangan seks baik pasangan sesama jenis (homo) maupun dengan pasangan perempuan.

12.   Frotteurisme
Yaitu suatu bentuk kelainan sexual di mana seseorang laki-laki mendapatkan kepuasan seks dengan jalan menggesek-gesek / menggosok-gosok alat kelaminnya ke tubuh perempuan di tempat publik / umum seperti di kereta, pesawat, bis, dll.

Sehingga dapat kita simpulkan dari apa yang telah diuraikan diatas bahwa untuk mempelajari tentang seksualitas, kita harus mendapat dari sumber yang benar, informasi yang kita dapatkan benar, sehingga hasil yang kita dapatkan juga benar.

Humor ala PSKS

Seorang pejabat suka jogging setiap pagi.. dan setiap lewat sebuah jalan dia selalu bertemu dengan seorang penjaja seks yang berdiri di sana. Dan setiap kali pula si cewek tersebut berteriak kepadanya, “Lima ratus ribu mau??”. Yang selalu dengan bercanda si pejabat menjawab, “Nggak ahh.., Lima ribu perak sajaa..!!”

Hal itu sudah menjadi kebiasaan mereka setiap kali berpapasan.. “Lima ratus ribu..??”. “Nggak.. lima ribu!!”

Suatu hari istri si pejabat ngotot mau ikut jogging. meskipun sang suami berusaha mencegahnya dengan segala cara, tetap saja istrinya ngotot mau ikut. Sang suami mengalah sambil hatinya was-was, bakal ada perang dengan bininya kalau si cewek PSK itu berteriak kepadanya. Dia tahu sang nyonya tidak akan percaya bahwa itu cuma selorh saja..

Benar saja.., ketika suami istri itu jogging berdampingan mendekati jalan itu, si PSK sudah berdiri di sana. Pejabat itu mencoba menghindari tatapan mata si cewek dan terus berlari melewatinya..

Sang pejabat sudah merasa tenang, tidak ada insiden. Tiba-tiba dari belakang dia mendengar cewek PSK tersebut berteriak, “Luuu lihat sendiri kann.. Goceng dapet seperti apaa..??”