Category: Publikasi Ilmiah

Free Sex, Masturbasi/Onani, dan Gangguan Orientasi Seksual pada Remaja

Oleh: dr. Istar Yuliadi

Disampaikan dalam Seminar Sehari “Sex Untuk Remaja” 21 Maret 2010

dalam rangka memperingati Dies Natalis UNS ke-34

PENDAHULUAN

Seksualitas adalah bagian yang integral dalam kehidupan manusia. Seksualitas tidak hanya berhubungan dengan reproduksi tetapi juga terkait dengan masalah kebiasaan, agama, seni, moral, dan hukum. Masyarakat adalah suatu yang dinamis dan akan selalu berubah karena memang tidak ada masalah sosial yang statis. Pada era global saat ini, hampir semua informasi dapat diakses oleh siapapun di internet. Hal ini tidak hanya terbatas di Negara-negara maju tetapi di Negara-negara yang berkembang seperti Indonesia juga terjadi.

Melalui internet manusia menyebarkan budaya apapun yang kadang-kadang merefleksikan nilai-nilai yang berbeda dengan pemakainya. Misalnya, ide tentang kebebasan sexual ditayangkan secara explisit dan sangat jelas tanpa ada sensor apapun yang adekuat untuk anak-anak. Penelitian Djaelani yang dikutip Saifuddin (1999) menyatakan, 94 persen remaja menyatakan butuh nasihat mengenai seks dan kesehatan reproduksi. Tetapi sebagian besar remaja justru tidak dapat mengakses sumber informasi yang tepat.

Dipaparkan Elizabeth B Hurlock, informasi tentang sex mereka coba penuhi dengan cara membahas bersama teman-teman, buku-buku tentang seks, atau mengadakan percobaan dengan jalan masturbasi, bercumbu atau berhubungan seksual. Kebanyakan masih ada anggapan, seksualitas dan kesehatan reproduksi dinilai masih tabu untuk dibicarakan remaja. Padahal hal ini salah dan sudah saatnya kita belajar dengan benar tentang seksologi agar terhindar dari seks bebas yang dapat menjerumuskan remaja kapanpun.

FREE SEX

Seksualitas merupakan hal yang sulit untuk didefinisikan karena menyangkut banyak aspek kehidupan dan diekspresikan dalam bentuk perilaku yang beraneka ragam. Sedangkan kesehatan seksual telah didefinisikan oleh WHO (1975) sebagai “pengintegrasian aspek somatik, emosional, intelektual, dengan cara yang positif, memperkaya dan meningkatkan kepribadian, komunikasi, dan cinta”.

Apakah sex dan seksualitas merupakan sesuatu yang sama ?

Ternyata kebanyakan orang memahami sexualitas sebatas istilas sex, padahal antara sex dengan sexualitas merupakan hal yang berbeda. Menurut Zawid (1994), kata sex sering digunakan dalam dua hal, yaitu: (a) aktivitas sexsual genital, dan (b) sebagai label jender (jenis kelamin).

Sedangkan seksualitas memiliki arti yang lebih luas karena meliputi bagaimana seseorang merasa tentang bagaimana seseoarang merasa tentang diri mereka dan bagaimana mereka mengkomunikasikan perasaan tersebut terhadap orang lain melalui tindakan yang dilakukannya seperti, sentuhan, ciuman, pelukan, senggama, atau melalui perilaku yang lebih halus  seperti isyarat gerak tubuh, etiket, berpakaian, dan perbendaharaan kata. Persepsi salah inilah, dan sikap coba-coba untuk mengetahuinya yang menyebabkan terjadinya free sex pada remaja. Dan ketika sudah mencoba hal tersebut, biasanya akan menimbulkan ketagihan atau adiksi untuk mengulanginya lagi.

Michael et al (1994) membagi sikap dan keyakinan individu tentang seksualitas menjadi 3 kategori:

1.       Tradisional : keyakinan keagamaan selalu dijadikan pedoman bagi perilaku seksual mereka. Dengan demikian homoseksual, aborsi, dan hubungan seks pranikah dan diluar nikah selalu dianggap sebagai sesuatu yang salah.

2.       Relasional : berkeyakinan bahwa sex harus menjadi bagian dari hubungan saling mencintai, tetapi tidak harus dalam ikatan pernikahan.

3.       Rekreasional : menyatakan bahwa kebutuhan seks tidak ada kaitannya dengan cinta.

Menurut Wahyudi (2000) perilaku seksual merupakan perilaku yang muncul karena adanya dorongan seksual atau kegiatan mendapatkan kesenangan organ seksual melalui berbagai perilaku. Perilaku seksual yang sehat dan dianggap normal adalah cara heteroseksual, vaginal, dan dilakukan suka sama suka, dan tentu saja dalam ikatan suami istri. Sedangkan yang tidak normal (menyimpang) antara lain Sodomi, homoseksual,lesbian,dll.

Selama ini perilaku seksual sering disederhanakan sebagai hubungan seksual berupa penetrasi dan ejakulasi. Padahal menurut Wahyudi (2000), perilaku seksual secara rinci dapat berupa:

ü  Berfantasi : merupakan perilaku membayangkan dan mengimajinasikan aktivitas seksual yang bertujuan untuk menimbulkan perasaan erotisme.

ü  Pegangan Tangan : Aktivitas ini tidak terlalu menimbulkan rangsangan seksual yang kuat namun biasanya muncul keinginan untuk mencoba aktivitas yang lain.

ü  Cium Kering : Berupa sentuhan pipi dengan pipi atau pipi dengan bibir.

ü  Cium Basah : Berupa sentuhan bibir ke bibir

ü  Meraba : Merupakan kegiatan bagian-bagian sensitif rangsang seksual, seperti leher, breast, paha, alat kelamin dan lain-lain.

ü  Berpelukan : Aktivitas ini menimbulkan perasaan tenang, aman, nyaman disertai rangsangan seksual  (terutama bila mengenai daerah aerogen/sensitif)

ü  Masturbasi (wanita) atau Onani (laki-laki) : perilaku merangsang organ kelamin untuk mendapatkan kepuasan seksual.

ü  Oral Seks : merupakan aktivitas seksual dengan cara memaukan alat kelamin ke dalam mulut lawan jenis.

ü  Petting : merupakan seluruh aktivitas non intercourse (hingga menempelkan alat kelamin).

ü  Intercourse (senggama) : merupakan aktivitas seksual dengan memasukan alat kelamin laki-laki ke dalam alat kelamin wanita.

Perilaku diatas biasanya bertahap dan progresif tingkatannya, jadi jika kita ingin menghindari sex bebas dari awal, mulailah dari pikiran kita.

Sedangkan faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku seksual, menurut Purnawan (2004) yang dikutip dari berbagai sumber antara lain:

a.       Faktor Internal

1.       Tingkat perkembangan seksual (fisik/psikologis)

Perbedaan kematangan seksual akan menghasilkan perilaku seksual yang berbeda pula. Misalnya anak yang berusia 4-6 tahun berbeda dengan anak 13 tahun.

2.       Pengetahuan mengenai kesehatan reproduksi

Anak yang memiliki pemahaman secara benar dan proporsional tentang kesehatan reproduksi cenderung memahami resiko perilaku serta alternatif cara yang dapat digunakan untuk menyalurkan dorongan seksualnya

3.       Motivasi

Perilaku manusia pada dasarnya berorientasi pada tujuan atau termotivasi untuk memperoleh tujuan tertentu. Hersey & Blanchard cit Rusmiati (2001) perilaku seksual seseorang memiliki tujuan untuk memperoleh kesenangan, mendapatkan perasaan aman dan perlindungan, atau untuk memperoleh uang (pada gigolo/WTS)

b.      Faktor Eksternal

1.       Keluarga

Menurut Wahyudi (2000) kurangnya komunikasi secara terbuka antara orang tua dengan remaja dapat memperkuat munculnya perilaku yang menyimpang

2.      Pergaulan

Menurut Hurlock perilaku seksual sangat dipengaruhi oleh lingkungan pergaulannya, terutama pada masa pubertas/remaja dimana pengaruh teman sebaya lebih besar dibandingkan orangtuanya atau anggota keluarga lain.

ONANI/MASTURBASI DAN GANGGUAN ORIENTASI SEKSUAL PADA REMAJA

Sebagaimana kita ketahui dari definisi diatas, bahwa masturbasi (wanita) atau onani (laki-laki) adalah perilaku merangsang organ kelamin untuk mendapatkan kepuasan seksual. Onani/masturbasi adalah hal yang sangat sering dilakukan oleh remaja untuk mendapatkan kepuasan dari hasrat yang biasanya terpendam. Hal ini dianggap lebih aman karena tidak berhubungan dengan lawan jenis, sehingga resiko tertular penyakit seksual juga rendah, tetapi sama seperti efek dari dari perilaku seksual yang lain, ini meneyebabkan ketagihan atau adiksi jika tidak dikendalikan. Onani/masturbasi ini sekarang dianggap lumrah dilakukan di kalangan remaja pada khususnya, diperkirakan 95% pria pernah melakukannya dan 60% pada wanita, tetapi trend pada wanita untuk melakukan masturbasi terus meningkat dari tahun ke tahun, diperkirakan saat ini mencapai angka 80% atau mungkin lebih.

Media yang biasa digunakan untuk melakukan masturbasi/onani adalah media visual, entah itu berupa film ataupun gambar, yang kesemuanya dapat kita kategorikan dalam pornografi.

Dalam seminar mengenai dampak pornografi terhadap perilaku penimpangan seksual dan kerusakan otak di Jakarta, ahli bedah syaraf dari Rumah Sakit San Antonio, Amerika Serikat, Donald L. Hilton Jr, MD mengatakan bahwa adiksi (kecanduan) mengakibatkan otak bagian tengah depan yang disebut Ventral Tegmental Area (VTA) secara fisik mengecil.

“Gangguan orientasi seksual pada remaja saat ini paling banyak disebabkan oleh pornografi yang saat ini begitu mudah di dapat, terutama lewat dunia maya, padahal gangguan ini menimbulkan perubahan konstan pada neorotransmiter dan melemahkan fungsi kontrol. Ini yang membuat orang-orang yang sudah kecanduan tidak bisa lagi mengontrol perilakunya,” kata Hilton serta menambahkan adiksi pornografi juga menimbulkan gangguan memori.

Kondisi itu tidak terjadi secara cepat dalam waktu singkat namun melalui beberapa tahap yakni kecanduan yang ditandai dengan tindakan impulsif, ekskalasi kecanduan, desensitisasi dan akhirnya penurunan perilaku.

“Dan kerusakan otak akibat kecanduan pornografi adalah yang paling berat, lebih berat dari kecanduan kokain,”

Ada 12 fatamorgana tentang pornografi yang terlanjur tercipta secara tidak sengaja oleh otak kita:

1.       Pornografi membuat seseorang terpicu untuk lebih suka melayani diri sendiri dibanding orang lain.

Masturbasi/onani adalah contohnya. Ini adalah tindakan pemenuhan nafsu pribadi yang bisa membuat seseorang sulit menerima dan membari cinta yang sebenarnya pada orang lain. Pornografi biasanya membuat orang kecanduan masturbasi/onani.

2.       Pornografi membuat cara berpikir seseorang menjadi penuh dengan seks semata.

Pikiran seks akan menguasai alam bawah sadar mereka. Gambar berbau seks akan melekat pada otak mereka, sehingga pada saat seseorang memutuskan untuk berhenti melihat pornografi-pun, gambar-gambar yang pernah ia lihat dimasa lalu akan bertahan sampai beberapa tahun bahkan selama-lamanya.

3.       Pornografi menjadi ajang promosi terhadap praktik seksual yang menyimpang.

Contohnya, situs porno internet biasnya terhubung dengan situs porno yang lebih progresif seperti homoseks, pornografi anak, seks dengan hewan, perkosaan, seks dengan kekerasan dan lainnya. Ini akan membuat orang-orang tertentu terganggu secara mental dan tertantang untuk mencoba. Dengan demikian, makin banyaklah perilaku seks menyimpang di masyarakat.

4.       Pornografi akan membawa seseorang terhadap penggunaan waktu dan uang dengan sangat buruk. Sedikit ada waktu luang atau uang lebih, akan dihabiskan untuk memuaskan hawa nafsunya. Padahal situs porno, film, atau majalah porno, biasanya mendukung perkembangan industri pornografi yang dikelola oleh “kejahatan terorganisir” yang mencari dana dengan cara haram.

5.       Pornografi dapat merusak hubungan seksual dengan pasangan karena terbiasa membayangkan orang lain dalam hubungan seksual dan imajinasi adalah salah satu efek pornografi yang sangat kuat. Nilai dan kemurnian seksual sesungguhnya menjadi rusak.

Selain itu terdapat bermacam-macam gangguan orientasi seksual, antara lain:

1.       Homoseksual

Homosexual adalah kelaianan di mana seseorang menyukai ornag lain sesama jenis. Pada laki-laki disebut gay dan pada wanita disebut lesbian / lesbi.

2.       Sadomasokisme dan Masokisme

Sadomasokisme adalah penyimpangan seksual yang mendapat kenikmatan seks setelah menyakiti pasangan seksnya. Sedangkan Masokisme adalah kelianan seks yang menikmati seks jika terlebih dahulu disiksa oleh pasangannya.

3.       Ekshibisionisme
Adalah penyimpangan seks yang senang memperlihatkan alat vital / alat kelamin kepada orang lain. Penderita penyimpangan seksual ini akan suka dan terangsang jika orang lain takjub, terkejut, takut, jijik, dan lain sebagainya.

4.       Fetishisme

Fetishisme adalah suatu perilaku seks meyimpang yang suka menyalurkan kepuasan seksnya dengan cara onani / masturbasi dengan benda-benda mati seperti gaun, bando, selendang sutra, bh, sempak, kancut, kaus kaki, dsb.

5.       Voyeurisme
Pelaku penyimpangan seks ini mendapatkan kepuasan seksual dengan melihat atau mengintip orang lain yang sedang melakukan hubungan suami isteri (Scoptophilia), sedang telanjang, sedang mandi, dan sebagainya.

6.       Pedophilia
Adalah orang dewasa yang suka melakukan hubungan seks / kontak fisik yang merangsang dengan anak di bawah umur.

7.       Gerontophilia

Adalah orang dewasa yang lebih suka dengan orang yang umurnya lebih tua.

8.       Bestially
Bestially adalah manusia yang suka melakukan hubungan seks dengan binatang seperti kambing, kerbau, sapi, kuda, ayam, bebek, anjing, kucing, dan lain sebagainya.

9.       Incest
Adalah hubungan seks dengan sesama anggota keluarga sendiri non suami istri seperti antara ayah dan anak perempuan dan ibu dengan anak cowok.

10.   Necrophilia
Adalah orang yang suka melakukan hubungan seks dengan orang yang sudah menjadi mayat / orang mati.

11.   Sodomi
Sodomi adalah pria yang suka berhubungan seks melalui dubur pasangan seks baik pasangan sesama jenis (homo) maupun dengan pasangan perempuan.

12.   Frotteurisme
Yaitu suatu bentuk kelainan sexual di mana seseorang laki-laki mendapatkan kepuasan seks dengan jalan menggesek-gesek / menggosok-gosok alat kelaminnya ke tubuh perempuan di tempat publik / umum seperti di kereta, pesawat, bis, dll.

Sehingga dapat kita simpulkan dari apa yang telah diuraikan diatas bahwa untuk mempelajari tentang seksualitas, kita harus mendapat dari sumber yang benar, informasi yang kita dapatkan benar, sehingga hasil yang kita dapatkan juga benar.

Makalah 4

PERAWATAN DIRI DAN ROMANTISME KELUARGA

dr. Moerbono Mochtar, Sp.KK

•I. KULIT SECARA UMUM

•a. Konsep perawatan kulit

Titik berat perawatan kulit kini telah mengalami pergeseran dari sekedar langkah kamuflase untuk menutupi kekurangan kulit, menjadi sebuah seni komprehensif, mencakup perawatan kulit secara preventif dan korektif. Hal ini dilandasi dengan prinsip bahwa kecantikan sejati terletak pada kondisi kulit yang sehat (Husain,  2000).

  • Usia

Hasrat manusia untuk menghambat munculnya tanda - tanda penuaan selama mungkin. Organ tubuh manusia yang paling langsung menunjukkan tanda - tanda penuaan adalah kulit. Kondisi ini sangat tergantung pada faktor keturunan, dan bukan obat obatan tertentu.

  • Mencegah lebih baik daripada mengobati

Mencegah tentu saja lebih mudah dan tidak terlalu memakan waktu. Terdapat 2 faktor yang menyebabkan dan memperparah masalah kulit yakni pengabaian dan penganiayaan. Hal yang perlu diperhatikan adalah kebutuhan kulit setiap orang tidak sama.

  • Kelembaban

Ciri kulit tua dan mengalami penuaan dini, yakni kurangnya kelembaban. Kulit yang masih muda akan terasa lembut dan lembab, yang menunjukkan betapa pentingnya kelembaban bagi kulit. Terpaan sinar matahari dalam waktu lama juga akan mengurangi kemampuan kulit untuk mempertahankan kelembabannya.

  • Waspada terhadap metode yang salah

Faktor ketidaktahuan menyebabkan orang terus menggunakan produk yang memiliki efek samping berbahaya terhadap kulit, namun efeknya tidak langsung terlihat.

  • Wajah

Wajah adalah bagian paling penting dari kepribadian anda. Wajah memberikan informasi tentang diri anda, kondisi kesehatan serta kondisi kejiwaan anda. Kulit wajah dapat menunjukkan bagaimana anda menjaga kesehatan dan kondisi kulit anda. Kulit memotret kondisi kejiwaan, tubuh serta pikiran anda.  (Husain, 2000).

•b. Faktor yang mempengaruhi kulit

Beberapa peneliti menemukan hubungan kuat bahwa beberapa faktor eksternal menyebabkan terjadinya penuaan pada kulit. Diantaranya paparan sinar matahari, kebiasaan merokok dan minum - minuman beralkohol, serta asupan sehari hari yang buruk.

Hasil dari penelitan pada tahun 1998 menunjukkan bahwa merokok mempunyai resiko yang lebih besar dalam pembentukan keriput pada wajah, dimana hal ini tidak dapat diubah dengan terapi hormon sekalipun. (Baumann dam Saghari, 2002).

•c. Jenis kulit

Jenis kulit sangat ditentukan oleh aktivitas kelenjar minyak. Umumnya dibagi berdasarkan 4 parameter utama, yaitu:

  • 1. Kulit normal

Adalah kulit yang seimbang, tidak terlalu berminyak, tidak juga terlalu kering. Memiliki tekstur halus dan berwarna terang berseri- seri.

  • 2. Kulit kering

Kelenjar minyak pada jenis kulit ini kurang aktif. Kulit kekurangan minyak,dan kelembaban, tekstur kulit sangat tipis dan mudah rusak, serta rentan  akan pengaruh perubahan suhu dan kelembaban. Tipe kulit ini mudah mengelupas, dan lebih cepat terjadi keriput dan kerut.

  • 3. Kulit berminyak

Kelenjar minyak pada jenis kulit ini terlalu aktif. Kulit tampak berkilat, tekstur kasar karena pembesaran pori-pori. Hal ini mengakibatkan pori-pori tersebut mudah tersumbat, dan cenderung timbul komedo, jerawat dan bisul.

  • 4. Kulit campuran

Jenis kulit ini mempunyai bagian yang berminyak, sementara daerah-daerah sekitarnya kering. Terdapat zona T terdiri dari kening, hidung, dan dagu yang biasanya berminyak, sedang bagian pipi dan mata kering. Jenis kulit ini yang paling banyak ditemui (Husain, 2000)

Terdapat klasifikasi jenis kulit yang dikembangkan menurut Baumann Skin Typing System berdasarkan 4 tipe kulit dasar tersebut diatas yaitu :

  • 1. Berminyak vs Kering
  • 2. Sensitif vs Resisten

•3. Pigmented vs Nonpigmented

  • 4. Berkerut vs Kencang (tanpa kerut)

•d. Perawatan kulit rutin

Bercak-bercak, keriput, kekusaman kulit  atau jerawat yang terdapat di kulit tidak akan mungkin hilang dalam tempo semalam. Tapi ada jalan yang memungkinkan untuk memperbaiki kulit, memulihkan kesehatannya, bahkan membuatnya muda kembali.

Para ahli dermatologi sepakat, bahwa melakukan perawatan yang teratur merupakan satu-satunya cara untuk menghindari masalah kulit serta memperlambat proses penuaan kulit.

Kulit harus dibersihkan dengan seksama apapun jenis kulit dan teksturnya. Pada dasarnya ada 4 cara pembersihan kulit yaitu dengan air, dengan minyak, dengan bahan padat yang menyerap kotoran, dan dengan penggosokan secara mekanis (Tranggono, 2007). Pilih prosedur pembersihan kulit yang dapat menjalankan tiga fungsi:  menghilangkan endapan debu di permukaan kulit; membersihkan kulit tanpa mengganggu keseimbangan kulit; menjaga permukaan kulit bebas dari tumpukan sel- sel kulit mati (Husain, 2000).

Beberapa contoh produk perawatan kulit menurut bahan dasarnya antara lain :

  • Sabun dan detergen
  • Pembersih bebas lemak
  • Cold creams
  • Toner
  • Pembersih exfoliant
  • Pembersih abrasif
  • Masker wajah

Hal yang perlu untuk diperhatikan adalah apapun konsep pembersihan kulit, kita harus yakin bahwa pembersihan yang kita lakukan bebas dari bakteri dan jamur, karena banyak sekali penyakit kulit yang muncul disebabkan oleh adanya mikroorganisme tersebut (Tranggono, 2007).

•e. Reaksi  negatif kosmetik pada kulit

Terjadinya reaksi negatif kosmetik pada kulit telah lama ditemukan. Pada sebuah penelitian (Sidi, 1956) sebanyak 20 % dari semua kasus kerusakan kulit di Perancis adalah akibat dari kosmetik (Tranggono, 2007).

Ada berbagai reaksi kulit yang muncul akibat pemakaian kosmetik yang tidak aman, diantaranya yaitu :

  • 1. Iritasi

Iritasi yang timbul pada pemakaian pertama kosmetik,dalam istilah kedokteran, hal ini dinamakan dermatitis kontak iritan. Ditandai dengan adanya eritem (kemerahan ) rasa terbakar, dan gatal pada daerah yang terkena kosmetik, serta terjadinya kerusakan pada stratum korneum kulit  (Draelos, 2000).

  • 2. Alergi

Reaksi negatif kulit yang timbul setelah paparan yang berulang ulang oleh kosmetik. Merupakan suatu fenomena imunologis dengan gejala eritem dan gatal. Dapat terjadi bertahun tahun setelah paparan kosmetik (Draelos, 2000).

  • 3. Fotosensitisasi
  • 4. Acne ( Tranggono, 2007).

•II. MASALAH KULIT WAJAH SECARA UMUM

•a. Jerawat

Adalah salah satu masalah kulit yang paling sering dijumpai. Jerawat dapat timbul ketika tubuh mengalami perubahan yang berhubungan dengan aktivitas kelenjar. Perubahan hormon selama masa puber menyebabkan kelenjar sebaseus mengeluarkan sebum dalam jumlah yang besar yanga dapat menggumpal di pori- pori,mengeras dan mendoroong timbulnay komedo. Bila jaringna sekitar pori- pori yang tersumabt teriritasi dan mengalami peradangan, muncullah jerawat. Jerawat biasanya ditandai oleh adanya komedo hitam, papul, dan pustul. Pada umumnya menyerang wajah, namun dapat juga menyebar ke bahu dan punggung.

•b. Pigmentasi

Pigmentasi terkadang dikaitkan dengan kasus jerawat, elektrolisis, efek polusi zat- zat kimia, parfum, atau bahan kosmetik wangi, ketidakseimbangan hormon, kondisi patologi internal, serta proses penuaan.

•c. Kekeringan kulit / dehidrasi

Kulit kering denagn bercak kasar kemerah- merahan yang mudah terkelupas adalah ciri- ciri kulit yang mengalami dehidrasi. Hal ini disebakan oleh hilangnya kelembaban di kulit. Kondisi ini menjadi lebih buruk pada cuaca yang kering dan dingin, sengatan matahari, terpaan angin, alat penyejuk atau pemanas ruangan. Pelembab perlu di kenakan tertama pada kulit kering atau kulit normal yang cenderung kering terutama jika pemakai akan lama berada di dalam lingkungan yang mengeringkan kulit, misalnya ruangan ber AC.

•d. Pembesaran pori

Kelenjar sebaseus yang terlalu aktif akan menyebabkan produksi minyak yang berlebihan, dan penyumbatan minyak pada pori- pori setelah beberapa saat akan menyebabkan pori- pori membesar dan menjadi tebal. Kulit mulai nampak kasar dan tidak lagi halus.

•e. Penurunan hormon dan kulit menua

Tubuh memiliki ratusan hormon dimana terdapat beberapa hormon penting yang berguna untuk memperlambat penuaan, yaitu : kortisol, DHEA, estrogen, growth hormon, melatonin dan beberapa hormon lainnya (Djuanda, 2005).

Pada manusia terjadi penurunan level hormon DHEA dan DHEAS ( hormon yang berhubungan dengan aging skin), dimana pada usia 70 -80 tahun konsentrasi hormon ini berkisar 10-20% saja (Baumann dan Saghari, 2002).

•f. Kerut

Salah satu tanda adanya proses menua (aging) dimana terjadi pengurangan kolagen, degradasi elastin pada kulit yang dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti faktor genetik, paparan sinar matahari dan kebiasaan merokok (Baumann dan Saghari, 2002)

•g. Bedah kosmetik

•III. RAMBUT DAN KUKU

Rambut merupakan mahkota yang merepresentasikan berbagai macam hal. Kekuatan dan kekuasaan,  kecantikan,  strata sosial sampai dengan simbol status.  Keadaan rambut yang tidak sehat menjadi momok bagi setiap orang, sehingga kesehatan rambut merupakan hal yang tidak boleh disepelekan (Parish dan Lask, 1991).

Rambut  termasuk salah satu dari adneksa kulit yang tumbuh berasal dari kulit. Trichologi membagi rambut manusia ke dalam dua jenis yaitu :

  • 1. Rambut terminal, yang umumnya kasar, misalnya rambut kepala, alis, ketiak
  • 2. Rambut vellus yang berupa rambut halus pada pipi, dahi, punggung dan lengan (Tranggono, 2007).

Masalah rambut yang sering terjadi berhubungan dengan rambut kepala. Dimana pemakaian shampo yang bertujuan untuk menghilangkan sebum, dan kotoran - kotoran dari luar yang menempel pada rambut menyebabkan rambut tampak kasar dan berantakan, serta sulit diatur (Draelos, 2000). Untuk itu diperlukan pemakaian konditioner yang bersifat menyerupai sebum, sehingga rambut  menjadi lebih lembut dan mudah diatur dalam jangka waktu tertentu (Draelos, 2000).

Kuku juga merupakan adneksa kulit, merupakan modifikasi dari struktur epidermis, dengan kecepatan pertumbuhan 0.1 mm per hari atau 1 mm per 10 hari, dimana kecepatan itu semakin lama semakin berkurang seiiring dengan pertambahan usia. Kesehatan seseorang juga dapat dilihat dari keadaan kukunya, baik dari warna, garis - garis pada kuku, dan tebal tipisnya kuku (Tranggono, 2007).

Masalah pada kuku dapat diatasi dengan berbagai teknik perawatan kuku seperti manicure, atau pemakaian kosmetik kuku seperti nail polish, nail hardener, maupun dengan nail prostheses (Draelos, 2000).

•IV. PAYUDARA

Penting bagi kita untuk merawat payudara agar tetap indah, terutama bagi ibu - ibu yang pernah hamil dan menyusui. Payudara yang mengendur akibat menyusutnya kelenjar susu, melemahnya jaringan ikat penyangga payudara dan elastisitas kulit payudara yang berkurang mempengaruhi keindahannya.

Ada lima langkah mudah untuk merawat payudara yaitu :

  • 1. Perhatikan konsumsi makanan
  • 2. Hindari gesekan terlalu keras

Kulit payudara mengandung sedikit kolagen. Sehingga gesekan benda kasar dapat membuat payudara mengendur.

  • 3. Berikan pelembab
  • 4. Olahraga rutin
  • 5. Gunakan bra yang sesuai

•V. VAGINA

Kekurangpahaman mengenai organ seks ini mengakibatkan tidak sedikit wanita kurang mempedulikan perawatannya. dimana sesungguhnya perawatan vagina diperlukan agar vagina tetap bersih sehingga bebas dari infeksi dan pemicu radang, serta tetap dalam keadaan lembab alami, bukan kering.

Cara merawat organ ini yang paling mudah adalah dengan membersihkan bagian intim secara menyeluruh, bukan hanya bagian dalam vagina,namun selangkanganpun perlu untuk diperhatikan. Terdapat metode permbersihan vagina yang tergolong aman, metode ini dinamakan vagina spa.

Vagina spa dapat mengatasi keputihan, menjaga daya tahan terhadap infeksi, menimbulkan sensasi, dan meningkatkan gairah seksual. Baik dilakukan menjelang pernikahan untuk melemaskan otot dan saraf yang tegang, baik dilakukan pada masa nifas untuk mengembalikan kelenturan, serta menguatkan otot dasar panggul. Konsep inti dari vagina spa sebenarnya aroma terapi khusus berupa pembasuhan dan penguapan dengan ramuan herbal yang dilakukan maksimal satu bulan 2 kali, yaitu usai menstruasi dan dua minggu sesudahnya.

Masalah yang sering terjadi pada vagina adalah berlebihnya populasi candida albicans, flora normal dalam tubuh kita.

Untuk mencegah hal ini terjadi yang dapat kita lakukan adalah dengan menjaga vagina dalam kondisi tidak lembab dan basah. Diantaranya dengan cara memakai celana dalam berbahan katun dan mudah menyerap keringat, menghindari jeans yang terlalu ketat, mengganti celana dalam minimal 2 kali sehari, atau bila celana dalam mulai terasa basah. Basuh vagina dengan air bersih kemasan dari arah depan ke belakang ( air yang mengalir dari keran di toilet umum mengandung 10 - 20 % jamur pemicu rasa gatal dan keputihan ). Menghindari douching (menggunakan cairan khusus pembersih vagina saat membasuh organ intim), serta gunakan panty liners hanya di hari hari terakhir menstruasi.

•VI. SEKS, ROMANTISME KELUARGA

Seks merupakan aktifitas yang bermanfaat untuk mempertahankan seseorang menjadi awet muda. Seks merangsang pengeluaran hormon -hormon yang berhubungan dengan hormon - hormon anti aging. Peran hormon dalam hubungan seks diawali dengan ketertarikan terhadap lawan jenis. Tubuh akan mengeluarkan pheromones yang dibuat di kelenjar axilla dan kelenjar lipat paha, dimana pheromones ini muncul dalam bentuk “bau” dari tubuh kita.

Pada saat intim, tubuh akan mengeluarkan estrogen, dimana estrogen ini akan mengkomando otak untuk melepaskan lebih banyak pheromones. Setelah rangsangan meningkat dengan adanya pheromones yang lebih, tubuh akan meningkatkan produksi DHEA (dehydroepiandrosterone ) dan testosteron. DHEA merupakan pembangun sistem imun yang kuat, bila kita kekurangan DHEA kulit akan tampak lelah, kering dan rapuh, dan  rambut kusam tidak bercahaya (Djuanda, 2005).

Makalah 3

STRES DAN DISFUNGSI SEKSUAL

Pror. Dr. dr. M. Fanani, Sp.KJ(K)

PENDAHULUAN

Salah satu aspek penting yang ikut menentukan kualitas hidup manusia ialah kehidupan seksual. Karena itu aktivitas seksual menjadi salah satu bagian dalam penilaian kualitas hidup manusia. Kehidupan seksual yang menyenangkan memberikan pengaruh positif bagi kualitas hidup. Sebaliknya, kalau kehidupan seksual tidak menyenangkan, maka kualitas hidup terganggu (Pangkahila, 2007).

Dalam perkawinan, fungsi seksual mempunyai beberapa peran, yaitu sebagai sarana untuk reproduksi (memperoleh keturunan), sebagai saranan untuk memperoleh kesenangan atau rekreasi, serta merupakan ekspresi rasa cinta dan sebagai saranan komunikasi yang penting bagi pasangan suami-istri. Fungsi seksual merupakan bagian yang turut menentukan warna, kelekatan dan kekompakan pasangan suami-istri (Elvira, 2006).

Suatu penelitian di Amerika. Pada wanita, dilaporkan 33% mengalami penurunan hasrat seksual, 19% kesulitan dalam lubrikasi, dan 24% tidak dapat mencapai orgasme. Statistik pada pria juga bermakna. Kesulitan yang umum dilaporkan pada pria meliputi ejakulasi dini (29%), kecemasan terhadap kemampuan seksual (17%), dan rendahnya hasrat seksual (16%). Selain itu 10% dari pria yang disurvei melaporkan kesulitan ereksi bermakna, angka prevalensi menurut usia-lebih dari 20% pria berusia di atas 50 tahun melaporkan masalah ereksi (Cyranoswki et al., 2009).

Etiologi penyebab disfungsi seksual secara umum dibagi tiga yaitu fisiologis atau biologis, psikologis dan hubungan interpersonal. Stres dapat mempengaruhi ketiga hal di atas karena stres menimbulkan gejala dan tanda baik fisik, kognisi, dan emosi sehingga dapat menimbulkan disfungi seksual dalam setiap fase respons seksual. Di Amerika, stres menjadi masalah besar karena 43% orang dewasa mengalami gangguan kesehatan akibat dari stres, 75-90% kunjungan ke pusat kesehatan berkaitan dengan stres dan 60-80% kecelakaan industri berkaitan dengan masalah stress (Jaffe-Gill et al., 2007; Cyranoswki et al., 2009).

STRES

Istilah stres telah akrab bagi masyarakat. Sebenarnya istilah stres pertama kali digunakan oleh Hans Selye tahun 1936 dalam laporan penelitiannya, didefinisikan sebagai “respon tidak spesifik dari tubuh terhadap tuntutan perubahan”. Dwight Carlson mengatakan bahwa stres adalah suatu “perasaan ragu terhadap kemampuannya untuk mengatasi sesuatu, suatu anggapan bahwa persediaan yang ada tidak dapat memenuhi permintaan yang didapat.” Menurut The American Institute of Stress tahun 2006, stres adalah “perasaan tidak mempunyai kendali atau hanya sedikit kendali”. Stresor atau sumber stress, dapat dalam berbagai bentuk meliputi fisik, psikologis dan social-budaya; masa lalu, sekarang dan masa datang; positif dan negatif; serta akut dan kronis (The American Institute of Stress, 2006).

Selye, seorang endokrinologis yang telah  memperkenalkan stres berdasarkan suatu riset ilmiah, merumuskan bahwa ada tiga tingkat respon individu terhadap stres yang disebut “general adaptation syndrome” yang meliputi: (1) tingkat alarm yang mengaktifkan respon individu terhadap lawan atau membentuk defense mechanism; (2) tingkat resistensi, di mana kemampuan organism untuk merespon dapat ditingkatkan dan (3) tingkat kelelahan, di mana respon untuk beradaptasi sangat merosot tajam. Menurut Selye, istilah stres dapat digunakan baik untuk pengertian secara positif (eustress) maupun negative (distress) (The American Institute of Stress, 2006).

GEJALA DAN TANDA STRES

Stres mempengaruhi manusia baik secara fisik, kognitif, emosi dan perilaku sehingga gejala dan tanda stres dapat dibagi berdasarkan fisik, kognitif, emosi dan perilaku. Gejala dan tanda ini berbeda-beda untuk setiap orang karena faktor biologis dan pembawaan yang berbeda dari setiap individu (Jaffe-Gill et al., 2007).

Gejala dan tanda fisik dapat berupa nyeri kepala atau nyeri punggung, ketegangan atau kekakuan otot, mual, pusing, sulit tidur, mencret atau sembelit, gangguan tidur, nyeri dada, jantung berdebar cepat, penambahan atau pengurangan berat badan, gangguan kulit, hilangnya dorongan seksual, sering meriang (Jaffe-Gill et al., 2007).

Gejala dan tanda kognitif dapat berupa gangguan daya ingat, kesulitan konsentrasi, sulit berpikir jernih, sulit mengambil keputusan, hanya berpikiran yang buruk, pikiran kecemasan, kekawatiran yang menetap, kehilangan objektivitas, antisipasi ketakutan (Jaffe-Gill et al., 2007).

Gejala dan tanda emosional dapat berupa tergantung mood, marah, gampang emosi, gampang terpancing, tidak sabar, tidak dapat tenang, merasa di ujung tanduk, merasa terancam, merasa sendiri dan tersingkir, sedih (Jaffe-Gill et al., 2007)..

Tanda perilaku dapat berupa tidur berlebihan atau kurang, menghindari orang lain, menolak bertanggung jawab, penggunaan zat untuk santai, gugup, menggertakkan gigi, aktivitas berlebihan, bersikap berlebihan terhadap suatu masalah, bertengkar dengan orang lain (Jaffe-Gill et al., 2007).

PERBEDAAN PSIKOLOGIS ANTARA WANITA DAN PRIA

Menurut hasil survei komunitas di Amerika Serikat, wanita dibandingkan pria selama perjalanan hidupnya secara bermakna lebih tinggi kemungkinannya untuk mengalami gangguan panik (7,7% dan 2,9%), Generalized Anxiety Disorders (6,6% dan 3,6%), atau Post Traumatic Stress Disorders (12,5% dan 6,2%). Meskipun kurang nyata seperti yang disebutkan di atas, survei juga menunjukkan ada perbedaan menurut jenis kelamin dalam risiko mengalami  Obsessive Compulsive Disorders (3,1% wanita dan 2.0% pria) dan SAD (15,5% wanita dan 11,1% pria). Penyebab meningkatnya risiko pada wanita untuk mengalami gangguan kecemasan dalam hidupnya belum dimengerti (Kinrys dan Wygant, 2005).

Wanita dengan gangguan kecemasan memiliki gejala berat lebih tinggi dan cenderung disertai dengan satu atau lebih kondisi komorbid dibandingkan pria. Perbedaan ini dapat menyebabkan komplikasi gangguan dan dapat mengahasilkan perjalanan penyakit yang lebih kronis serta hambatan fungsional yang lebih besar pada wanita. Bukti berbagai penelitian menunjukkan bahwa faktor genetik dan hormon reproduksi wanita mempunyai peranan penting dalam menghasilkan perbedaan menurut jenis kelamin ini (Kinrys dan Wygant, 2005).

Hormon reproduksi  wanita dan siklus  yang berhubungan mempunyai peranan potensial dalam timbulnya, perjalanan, dan akibat gangguan anxietas wanita. Data menunjukkan jenis kelamin berbeda dalam absorpsi, bioavailibilitas, dan distribusi obat psikotropik, yang akan memainkan peranan penting pada metode pengobatan di masa mendatang untuk wanita dengan gangguan kecemasan. Penemuan terbaru penelitian pencitraan otak menunjukkan bahwa korteks cingulat anterior pada wanita lebih besar dan aktif dalam respon ketakutan dan penghindaran terhadap ancaman dibandingkan pria dengan karekteristik serupa (Kinrys dan Wygant, 2005).

SIKLUS RESPON SEKSUAL

Siklus respons seksual yang normal, merupakan suatu rangkaian proses, yang dialami setiap orang, baik perempuan maupun laki-laki pada saat melakukan hubungan seksual dengan pasangannya (Elvira, 2006). DSM IV-TR menggambarkan 4 siklus fase respon yaitu hasrat/birahi (desire), perangsangan (excitement), orgasme, dan resolusi.

Fase satu yaitu hasrat. Ditandai oleh khayalan seksual dan hasrat untuk melakukan aktivitas seksual. Berbeda dari tiap fase lainnya yang dikenali semata-mata melalui fisiologi. Mencerminkan permasalahan dasar psikiatrik tentang motivasi, dorongan, dan kepribadian (DSM IV-TR).

Fase dua yaitu perangsangan. Disebabkan oleh stimuli psikologis atau stimulasi fisiologis atau kombinasi keduanya. Mengandung perasaan kenikmatan subjektif. Perangsangan awal dapat berlangsung beberapa menit sampai beberapa jam. Rangsangan yang meninggi berlangsung 30 detik sampai beberapa menit. Fase dua pada laki-laki, ditandai kekakuan penis yang menyebabkan ereksi, puting payudara mengeras, testis bertambah besar 50% dan terangkat, kontraksi volunter kelompok otot-otot besar terjadi, kecepatan denyut jantung dan pernapasan meningkat, tekanan darah naik. Fase dua pada wanita, ditandai lubrikasi vagina, puting payudara mengeras, klitoris mengeras dan membesar, labiya mayora menjadi lebih tebal, kontriksi saluran vagina 1/3 luar (pelataran orgasme/orgasm platform), klitoris terangkat dan beretraksi ke belakang simfisis pubis, ukuran payudara membesar 25%, labia mayora menjadi berwarna merah terang atau gelap, kontraksi volunter kelompok otot-otot besar, kecepatan denyut jantung dan pernapasan meningkat, tekanan darah naik (DSM IV-TR).

Fase tiga yaitu orgasme. Mengandung puncak kenikmatan seksual. Pelepasan ketegangan seksual. Kontraksi ritmik pada otot-otot perineal dan organ reproduktif pelvis. Kontraksi involunter pada sfingter internal dan eksternal. Semua kontraksi selama orgasme terjadi dengan interval 0,8 detik. Gerakan volunter dan involunter pada kelompok otot-otot besar (seringai wajah dan spasme karpopedal). Tekanan darah meningkat 20-40 mm (baik sistolik maupun diastolik), kecepatan denyut jantung naik sampai 160 denyutan permenit. Orgasme berlangsung 3-25 detik dan disertai sedikit pengaburan kesadaran. Fase tiga pada laki-laki ditandai dengan perasaan subjektif ejakulasi mencetuskan orgasme diikuti semprotan semen yang kuat dan disertai 4-5 kali spasme ritmik pada prostat, vesikula seminalis, vas, dan uretra. Fase tiga pada wanita ditandai 3-15 kali kontraksi involunter pada 1/3 bagian bawah vagina dan kontraksi uterus yang kuat dan lama, berjalan dari fundus turun ke serviks (DSM IV-TR).

Periode refrakter. Pada laki-laki mungkin berlangsung beberapa menit sampai berjam-jam; dalam periode ini tidak dapat dirangsang untuk orgasme lebih lanjut. Bertambah panjang dengan bertambahnya umur. Pada wanita tidak terjadi sehingga mampu mengalami orgasme multipel dan berurutan. Beberapa wanita mampu mencapai 20-30 orgasme bila rangsangan terus berlanjut (DSM IV-TR).

DISFUNGSI SEKSUAL

Disfungsi seksual atau malfungsi seksual adalah kesulitan selama stadium aktivitas seksual (termasuk minat, rangsangan, orgasme dan resolusi) yang menghalangi individu atau pasangan dalam menikmati hubungan seksual (Wikipedia, 2009). Bila didefiniskan secara luas, disfungsi seksual adalah ketidakmampuan untuk menikmati secara penuh hubungan seks. Secara khusus, disfungsi seksual adalah gangguan yang terjadi pada salah satu atau lebih dari keseluruhan siklus respons seksual yang normal (Elvira, 2006).

Pada pria, disfungsi seksual diklasifikasikan sebagai berikut: 1) Gangguan dorongan seksual, berupa dorongan seksual hipoaktif dan gangguan aversi seksual; 2) Gangguan ereksi, berupa disfungsi ereksi dan ereksi berkepanjangan; 3) Gangguan ejakulasi, berupa ejakulasi dini dan ejakulasi terhambat; 4) Hambatan orgasme. Klasifikasi disfungsi seksual pada wanita sebagai berikut: 1) Gangguan dorongan seksual, berupa dorongan seksual hipoaktif dan ganggua aversi seksual; 2) Gangguan bangkitan seksual; 3) Hambatan orgasme; 4) Gangguan sakit seksual, berupa dispareunia dan vaginismus serta gangguan sakit seksual non koitus (Pangkahila, 2007).

STRESS DAN DISFUNGSI SEKSUAL

Respon seksual pada orang dewasa ditandai oleh perasaan subjektif dari hasrat atau nafsu seksual dan perubahan fisiologis pada tubuh, termasuk sistem kardiovaskuler dan genetalia, dan kecendrungan, khususnya pada pria, untuk mendapatkan stimulasi seksual sampai terjadi orgasme. Proses ini merupakan interaksi yang rumit antara kognitif (pemrosesan informasi), mekanisme saraf pusat, termasuk hasrat seksual dan keadaan emosional lainnya, dan proses fisiologis perifer seperti ereksi penis pada pria. Untuk kemudahan maka hal ini disebut “psychosomatic circle” di mana kepekaan terhadap perubahan pada genetalia memberikan umpan balik  untuk mempengaruhi proses saraf pusat baik pada dalam bentuk mencetuskan, meningkatkan atau mengahambat. Aktifasi dari sistem psikosomatis ini dapat dimulai pada titik yang bervariasi dari siklus, seperti terjadinya pikiran yang membangkitkan seksualitas, gambar yang merangsang secara seksual, atau perangsangan rabaan terhadap bagian tubuh yang sensitif secara erotis. Komponen pemrosesan informasi mengidentifikasikan  seksualitas, suatu proses yang sanga dipengaruhi oleh faktor pembelajaran dan budaya. Mekanisame saraf pusat mengaktifkan sinyal saraf yang berjalan turun melalui batang spinal, sepanjang jalur yang meliputi pusat reflek pada tingkat tertentu dari batang spinal, untuk mencetuskan respon seksual perifer. Input sensoris dari respons perifer ini dan rangsangan perabaan lebih lanjut, menghasilkan peningkatan derajat hasrat di saraf pusat dan memicu sampai pada titik di mana orgasme dapat dicetuskan. Sebaliknya, jika proses yang sedang berlangsung diinterpretasikan sebagai bentuk negative seperti penyiksaan, bahaya, ketakutan pada kegagalan, atau beberapa dampak negatif lainnya, maka proses ini akan menyebabkan penghambatan terhadap respons seksual selanjutnya (Bancroft J, 2002).

Faktor multipel telah diajukan untuk menjelaskan etiologi dari gangguan fungsi seksual. Saat ini, hampir semua peneliti dan klinisi menyepakati pendekatan interaksional untuk memahami perkembangan dan menetapnya disfungsi seksual. Kemungkinan faktor etiologi dapat dikelompokkan dalam tiga kategori umum: fisiologis, psikologis, dan interpersonal. Faktor fisiologis atau biologis telah lama dipandang berperan penting dalam menyebabkan disfungsi seksual, khususnya pada pria. Faktor risiko biologis meliputi penyakit kronis, seperti diabetes mellitus, nyeri kronis, dan penyakit paru obstruktif menahun, begitu juga, kanker, penyakit kardiovaskuler, dan penyakit ginjal. Daftar untuk faktor psikologis cukup panjang, meliputi masalah pendidikan dalam keluarga, trauma seksual, dan variasi kepribadian (contohnya erotofobia-erotofilia, rasa bersalah terhadap hubungan seks), dan lain sebagainya. Faktor hubungan interpersonal sebagian besar lebih difokuskan pada konflik pernikahan atau pasangan dan distres (Cyranoswki et al., 2009).

Sudah jelas, banyak literatur yang membahas etiologi yang potensial memberi kontribusi terhadap disfungsi seksual. Banyak yang berpendapat bahwa peran berbagai faktor meliputi: (a) predisposisi atau yang sesuatu yang menyebabkan berkembangnya disfungsi seksual di kemudian hari, (b) presipitasi atau sesuatu yang menjadi onset disfungsi seksual, (c) menetap atau sesuatu yang menyebabkan disfungsi seksual terus terjadi. Sebagai contoh, faktor psikologis seperti gangguan neurotik atau perasaan berdosa terhadap seks telah dibahas sebagai faktor predisposisi untuk berkembangnya kesulitan seksual. Sebaliknya, kejadian interpersonal akut atau fisiologis akut seperti masalah pernikahan dan penyakit fisik sebagai pemicu terjadinya disfungsi seksual. Akhirnya, faktor psikologis seperti adanya anxietas dan gangguan proses kognitif serta perhatian telah terbukti mempunyai dampak sebagai faktor yang dapat menyebabkan tidak sembuhnya disfungsi seksual atau menyebabkan kambuhnya disfungsi seksual (Cyranoswki et al., 2009).

PENGOBATAN DISFUNGSI SEKSUAL

Tatalaksana disfungsi seksual diberikan sesuai dengan penyebabnya, apakah faktor organik, faktor psikologik, atau gabungan antara keduanya. Tatalaksana terhadap disfungsi seksual harus bersifat menyeluruh, yaitu memperhatikan berbagai aspek yang mempengaruhi terjadinya disfungsi seksual tersebut, artinya bukan hanya memperhatikan salah satu faktor semata (Elvira, 2006; Pangkahila, 2007).

Tatalaksana tersebut terdiri atas beberapa jenis yaitu farmakoterapi (obat-obatan), operasi, psikoterapi dan terapi seks. Untuk farmakoterapi disesuaikan dengan penyebabnya, apakah biologik atau psikologik. Operasi hanya bila penyebabnya adalah faktor organik yang hanya dapat disembuhkan dengan operasi, misalnya terdapat tumor pada leher rahim. Psikoterapi adalah pengobatan yang dilakukan dengan cara-cara psikologik, dapat diberikan secara individual atau bersama dengan pasangan tergantung kepada permasalahannya. Terapi seks tujuannya adalah dicapainya rasa nyaman dan puas dalam melakukan hubungan seksual pada pasangan suami istri (Elvira, 2006; Pangkahila, 2007).

DISFUNGSI EREKSI

Disfungsi ereksi merupakan suatu gangguan yang sangat umum dari sekian banyak keluhan seksual pada laki-laki. Data epidemiologis terpercaya menunjukkan bahwa 1 dari 3 laki-laki dewasa menderita berbagai derajat disfungsi ereksi. Prevalensi dan beratnya disfungsi ereksi meningkat sesuai umur, walaupun tidak ada usia di mana dianggap normal untuk menderita disfungsi ereksi (Grispoon dan Seely E, 2006). Setelah umur 40, sekitar 90% laki-laki pernah mengalami kesulitan mencapai atau mempertahankan ereksi yang cukup untuk penetrasi paling sedikit satu kali. Setelah umur 50, lebih dari 50% laki-laki melaporkan disfungsi ereksi ringan sampai sedang (BABCP, 2008). Disfungsi ereksi jumlahnya sekitar 80-85% dari pasien yang mencari bantuan medis untuk disfungsi seksual.

Disfungsi ereksi didefinisikan sebagai ketidakmampuan untuk mencapai atau mempertahankan ereksi untuk waktu yang cukup dan kokoh untuk memberikan kepuasan menyeluruh saat hubungan seksual melalui penetrasi vagina. Kriteria ini menggarisbawahi fakta bahwa laki-laki normal juga terkadang mengalami kegagalan ereksi (Guay, 2003). Disfungsi ereksi merupakan kondisi yang sering terjadi dan dikenal sebagai penanda penting untuk keadaan penyakit vaskular atau penyakit lain yang mendasari. Gangguan depresi berat dan kecemasan sering berperan pada disfungsi ereksi. Intervensi multifaktorial sering dibutuhkan untuk penyembuhan maksimal dari gejala. (Kevan, 2007).

Dahulu dipercaya bahwa 90% penyebab disfungsi ereksi adalah faktor psikogenik. Anggapan ini berubah sejak banyak ditemukan alat penditeksi kelainan organik penyebab disfungsi ereksi. Diperkirakan bahwa kurang lebih 50% penyebabnya adalah organik (Purnomo, 2007, cit. Wibowo dan Gofir, 2007). Jika masalah ereksi tidak pulih dalam enam bulan, laki-laki (dan pasangan) menjadi terperangkap dalam lingkaran kecemasan antisipatorik, kegagalan kemampuan, dan penghindaran seksual (BABCP, 2008). Ini memberikan kenyataan bahwa hampir semua laki-laki dengan disfungsi ereksi memiliki kondisi campuran yang dapat berupa predominan fungsional atau predominan fisik (Dean dan Lue, 2005).

Penyebab terjadinya disfungsi ereksi adalah penuaan, gangguan psikologis (depresi, ansietas), gangguan neurologis (penyakit serebral, trauma spinal, penyakit medula spinalis, neuropati, trauma nervus pudendus), penyakit hormonal/libido menurun (hipogonadism, hiperprolaktinemi, hiper/hipotiroidism, sindrom Cushing’s, penyakit Addison), penyakit vaskuler (ateroskeloris, penyakit jantung iskemik, penyakit vaskuler perifer, inkompetensi vena, penyakit kavernosus), obat-obatan (antihipertensi, antidepresan, estrogen, antiandrogen, digoxin), kebiasaan (pemakai marijuana, alkohol, narkotik, merokok), penyakit-penyakit lain (diabetes melitus, gagal ginjal, hiperlipidemi, hipertensi, penyakit paru obstruksi kronis) (Fazio dan Brock, 2004, cit.Wibowo dan Gofir, 2007).

Dua kategori utama disfungsi ereksi adalah psikologis dan organik. Sering disfungsi merupakan campuran dari dua kategori penyebab ini, kedua faktor ini sama pentingnya. Semua laki-laki yang mempunyai masalah dengan fungsi ereksi berkembang menjadi bentuk kecemasan, dan memisahkan apakah faktor psikologis merupakan masalah utama atau hanya masalah sampingan menjadi sulit (Andre T, 2003). Banyak klasifikasi telah dibuat untuk Disfungsi Ereksi. Beberapa berdasarkan penyebab (diabetik, iatrogenik, traumatik) dan beberapa berdasarkan mekanisme neurovaskuler dari proses ereksi (kegagalan untuk memulai [neurogenik], kegagalan untuk mengisi [arterial], dan kegagalan untuk menyimpan [vena])(Dean dan Lue, 2005). Klasifikasi yang lain membagi dalam dua kelompok besar berdasarkan kategori penyebab yaitu psikogenik dan organik, organik dibagi menjadi neurogenik, vaskuler, hormonal, farmakologis, traumatik atau pasca operasi (Miller, 2000, cit. Wibowo dan Gofir, 2007).

TERAPI DISFUNGSI EREKSI

Berdasarkan penyebab disfungsi ereksi yang beragam, pengobatan disfungsi ereksi harus ditujukan kepada penyebab terjadinya. Tanpa pengobatan terhadap penyebab, pengobatan disfungsi ereksi tidaklah rasional dan tidak mengatasi masalah sebenarnya. Setelah dilakukan pengobatan terhadap penyebab, langkah selanjutnya adalah pengobatan untuk membantu terjadinya ereksi, yang dapat dilakukan melalui tiga tahap, yaitu pengobatan lini pertama, kedua dan ketiga (Pangkahila, 2007).

Peengobatan lini pertama adalah terapi seks, obat minum, dan pompa vakum. Terapi seks adalah suatu bentuk pengobatan yang memadukan komponen biomedik, psikososial, dan cultural. Dalam pelaksanaannya, terapi seksual antara lain berupa latihan seksual yang ditujukan untuk mengatasi disfungsi seksual yang disebabkan oleh faktor psikis atau kalau faktor psikisnya sangat dominan. Pada kelompok lini kedua termasuk injeksi bahan yang mengaktifkan pembuluh darah yang disuntikkan langsung pada penis atau melalui saluran kencing. Pengobatan yang termasuk lini ketiga ialah operasi pemasangan protesis (Pangkahila, 2007).

GANGGUAN DORONGAN SEKSUAL

Gangguan dorongan seksual (GDS) dapat berupa dorongan seksual hipoaktif dan munculnya perasaaan tidak senang atau takut terhadap aktivitas seksual sehingga cenderung menolak (gangguan aversi seksual) (Pangkahila, 2007). Dorongan seksual hipoaktif didefinisikan sebagai “berkurangnya (atau hilangnya) hasrat atau pikiran atau fantasi seksual yang menetap atau berulang untuk melakukan aktivitas seksual yang menyebabkan distres pada seseorang”. Gangguan aversi seksual didefinisikan sebagai “ketakutan tidak normal yang menetap atau berulang sehingga menyebabkan penolakan terhadap aktivitas seksual dengan pasangan yang menyebabkan distres pada seseorang” (Brown dan Luisi, 2006).

Dorongan seksual dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu hormon seks, faktor psikis, keadaan kesehatan tubuh, dan pengalaman seksual sebelumnya. Bila faktor-faktor tersebut mendukung, maka dorongan seksual akan tetap berfungsi, tetap bertahan, bahkan mungkin semakin baik. Sebaliknya bila faktor-faktor tersebut tidak mendukung bahkan menghambat, maka dorongan seksual akan menurun atau bahkan lenyap sama sekali. Keadaan kesehatan tubuh yang tidak baik, seperti dalam keadaan lelah dan astenia, dapat menyebabkan dorongan seksual menurun bahkan lenyap. Wanita yang tidak pernah mencapai orgasme berarti mempunyai pengalaman seksual yang tidak menyenangkan. Kalau ini terus berlangsung dapat menyebabkan dorongan seksual wanita menjadi hilang dan wanita menjadi tidak senang melakukan hubungan seksual. Dalam keadaan begini wanita sama sekali tidak tertarik untuk melakukan aktivitas seksual apapun. Karena hambatan psikis, wanita mungkin kehilangan dorongan seksual terhadap suaminya, tetapi tidak demikian terhadap pria lain. Kejemuan terhadap suasana yang monoton dapat juga menekan dorongan seksual (Pangkahila, 2007).

TERAPI GANGGUAN DORONGAN SEKSUAL

Penanganan  gangguan dorongan seksual harus sesuai dengan jenisnya dan ditujukan terhadap penyebabnya. Untuk mengembalikan fungsi seksual, dapat dilakukan dengan cara konseling, pemberian obat, alat bantu, dan terapi seks (Pangkahila, 2007).

Terapi kognitif perilaku dapat diberikan  pada perempuan yang mempunyai pikiran atau pandangan irasional tentang seks atau fungsi seks dalam perkawinan, atau karena adanya persepsi yang kurang tepat tentang hubungan seksual. Terapi dengan pendekatan psikodinamik diberikan bila yang mendasari disfungsi seksualnya adalah kepribadian yang terlalu kaku atau kurang fleksibel atau kurang matang atau mempunyai konflik masa lalu yang belum terselesaikan. Apabila problem utamanya adalah hubungan interpersonal antara suami dan istri, antara lain dalam komunikasi, kedekatan psikologik, kurangnya toleransi karena pelbagai perbedaan, maka dapat diberikan konseling perkawinan atau terapi marital sebelum atau bersamaan dengan terapi seks (Elvira, 2006).

Teknik terapi seks yang digunakan terdiri atas sensate focus, edukasi, stimulus control, cognitive restructuring, dan latihan komunikasi. Sensate focus pada prinsipnya membantu perempuan dan pasangannya mengembangkan kesadaran akan dan berfokus pada sensasi dan tidak pada keberhasilan. Edukasi atau pemberian informasi yang dilakukan antara lain mengenai anatomi dan fisiologi organ seksual, tentang fungsi seksual dalam perkawinan, juga melakukan koreksi secara bertahap mitos-mitos yang tidak tepat mengenai fungsi seks dalam perkawinan, baik yang disadari maupun yang tidak disadari oleh perempuan. Stimulus control yaitu upaya untuk mempersiapkan atau menyediakan lingkungan yang nyaman, santai dan bersifat erotis, yang kondusif untuk pengekspresian seks dan meminimalisasi gangguan dari lingkungan atau hal-hal yang terkait. Cognitive restructuring untuk mengubah pandangan dan perilaku negatif, juga menurunkan pikiran-pikiran yang mempengaruhi. Latihan komunikasi untuk menyingkirkan masalah komunikasi seperti mudahnya beralih topik pembicaraan, menerka maksud tanpa konfirmasi, mendengarkan tetapi tetap menyalahkan, saling berargumentasi tanpa pemecahan (Elvira, 2006).

KESIMPULAN

Stres dapat menyebabkan disfungsi seksual baik melalui gejala dan keluhan fisik maupun kognitif dan emosional serta perilaku. Disfungsi seksual sendiri dapat menyebabkan stres yang selanjutnya akan memperberat disfungsi seksual itu sendiri dan menciptakan lingkaran setan bagi yang penderitanya.

Penanganan disfungsi seksual dilakukan secara holistik tidak hanya memperhatikan faktor tertentu saja. Pengobatan yang diberikan disesuaikan dengan penyebabnya dan keluhan yang menyertainya.

Makalah 2

JIWA SEHAT, SEKS OK

Aris Sudiyanto

PUSAT STUDI KESEHATAN SEKSUAL LPPM UNS

Pendahuluan

Gangguan kesehatan jiwa menjadi masalah kesehatan global yang serius dan mahal, mempengaruhi semua lapisan umur dan budaya serta status sosial ekonomi  masyarakat. Depresi major berada di urutan ke empat dalam menyebabkan ketidakmampuan menjalani kehidupan dan segera akan menjadi urutan ke dua karena semakin meluas. Diperkirakan 450 juta orang di dunia mengalami gangguan jiwa dan hanya kurang dari separuhnya yang mendapat pengobatan yang memadai.  Gangguan jiwa tidak dibedakan berdasarkan budaya atau usia, dan kesehatan jiwa individu merupakan aspek integral dari seluruh kesehatan dan keberadaan manusia. Worl Health Organization (WHO) menyatakan bahwa kesehatan individu dan komunitasnya dipengaruhi oleh faktor kontribusi yang luas. Baik atau buruknya kesehatan ditentukan oleh lingkungan dan situasi  apa yang terjadi dan apa yang telah terjadi terhadap individu atau komunitas.

Kesehatan jiwa dapat mempengaruhi kehidupan seksual. Terdapat beberapa faktor psikologik yang dapat memicu terjadinya gangguan dalam kehidupan seksual seseorang, antara lain kepribadian yang kaku, adanya problem psikologik masa lampau, atau sedang mengalami stres, depresi, cemas berlebihan tentang hubungan seksual, atau mengalami problem citra tubuh dan harga diri, atau merupakan akibat menyalahgunakan zat psikoaktif (napza) yang dialami setelah penggunaan jangka waktu tertentu.

Pernyataan bahwa “tidak ada kesehatan tanpa jiwa yang sehat” telah dibuktikan melalui penelitian mendalam dan klinis selama lebih dari 50 tahun. Kehidupan seksual yang menyenangkan hanya dapat dinikmati bila seseorang memiliki tubuh dan jiwa yang sehat, tidak ada kehidupan seksual yang menyenangkan tanpa jiwa yang sehat. Ini berarti jika jiwa sehat maka kehidupan seksual pun “OK”.

Kehidupan seksual merupakan salah satu aspek penting dalam kualitas hidup manusia. Kehidupan seksual yang memuaskan memberi pengaruh positif bagi kualitas hidup. Sebaliknya, kalau kehidupan seksual tidak memuaskan, maka kualitas hidup terganggu. Karena itu aktivitas seksual menjadi salah satu bagian dalam penilaian kualitas hidup manusia.

Kesehatan Jiwa

Menurut pengertian kesehatan yang diberikan WHO, kesehatan adalah keadaan sejahtera dari badan, jiwa, dan sosial yang memungkinkan setiap orang hidup produktif secara sosial dan ekonomis, tidak sekedar bebas dari penyakit, cacat, atau kelemahan. Atas dasar definisi “kesehatan” tersebut, maka manusia selalu dilihat sebagai satu kesatuan yang utuh yang terdiri dari unsur badan (organo-biologik), jiwa (psiko-edukatif), sosial (sosio-kultural), yang tidak dititik beratkan pada penyakit tetapi pada kualitas hidup ( well being) dan produktivitas sosial ekonomi (produktivitas). Jadi tersirat bahwa “kesehatan jiwa” adalah suatu bagian yang tidak terpisahkan dari “kesehatan” atau bagian yang integral serta merupakan unsur utama dalam menunjang terwujudnya kualitas hidup manusia yang utuh.

Kesehatan jiwa merupakan suatu kondisi mental yang sejahtera (mental wellbeing) yang memungkinkan hidup harmonis dan produktif, sebagai bagian yang utuh dari kualitas hidup seseorang dengan memperhatikan semua segi kehidupan manusia. Upaya kesehatan jiwa diselenggarakan untuk mewujudkan jiwa yang sehat secara optimal baik intelektual maupun emosional. Individu dipandang sehat dari aspek ke jiwaan jika mereka berhubungan dengan realitas dan cukup bebas dari kekhawatiran sehingga mereka secara bermakna memiliki kemampuan fungsional, sosial, atau biologis untuk periode waktu yang cukup panjang.

Karakteristik apa yang ditemukan dalam diri seseorang yang sehat jiwanya? Pertama, tentu saja kemampuan untuk berfungsi secara fisik, intelek, dan emosi dalam kapasitas sepenuhnya. Mempertahankan keseimbangan dalam kehidupan akan mendatangkan kesehatan jiwa. Karakteristik kedua yang penting adalah kemampuan untuk beradaptasi terhadap situasi yang berubah dengan kontrol diri dan disiplin. Orang yang memiliki kepribadian yang kuat memiliki kemampuan untuk menahan stres dan menghadapi berbagai situasi lingkungan. Orang yang sehat menunjukkan bahwa mereka mampu berhubungan dengan realitas dengan bereaksi terhadap semua situasi secara realistis. Meskipun kita semua menghadapi stres dan berubah dari waktu ke waktu, orang yang jiwanya sehat mampu bereaksi dengan tepat dengan mempraktekkan pengendalian diri. Karena mampu menerima apa yang tidak dapat diubah, mereka terlepas dari kekhawatiran yang berlebihan dan berlangsung lama saat menghadapi perubahan. Karakteristik ketiga seseorang yang jiwanya sehat adalah sikap keyakinan, yang biasanya disertai dengan perasaan humor. Tentu saja keyakinan seperti itu harus berakar pada kehidupan keagamaan yang sehat. Karakteristik yang lain yang ditemukan dalam diri orang-orang yang sehat secara mental adalah tujuan yang kokoh dalam kehidupannya.

Orang-orang yang sehat secara kejiwaan dapat menjalin relasi dengan berbagai orang dengan baik. Karena mereka dapat menerima otoritas dari orang-orang atau lembaga yang sah, mereka mampu berprestasi dalam pekerjaan mereka. Mereka dapat menjalin dan mempertahankan  persahabatan,  mengasihi dan dikasihi. Kamampuan  menjalin keakraban dalam hubungan antarpribadi yang intim merupakan pertanda kesehatan jiwa. Karakteristik kesehatan jiwa lainnya yang penting adalah keseimbangan. Kemampuan untuk berfungsi dalam peranan yang dependen dan independen, untuk diperhatikan dan memperhatikan orang lain, untuk mengikuti pimpinan dan memimpin (tergantung situasinya) merupakan pertanda kesehatan. Tanda lainnya adalah keseimbangan antara persaingan dan kompromi, antara kemampuan untuk mengejar tujuan seorang diri dan bekerja sama dengan orang lain secara efektif. Orang yang sehat  jiwanya tahu bagaimana menciptakan keseimbangan antara menuruti aturan dengan bersikap kreatif.  Tanda kesehatan jiwa yang lain adalah sikap dapat diandalkan. Orang harus dapat dipercaya. Standar  pribadi  yang diperlukan adalah harus mampu menahan tekanan dari lingkungan yang kadang-kadang melanggar moral atau bertindak secara impulsif. Kriteria kesehatan jiwa lainnya adalah kemampuan bersama dan berpusat pada orang lain. Orang yang terlalu tenggelam dan asik dalam “dunia” dan keinginan sendiri yang egois, kemarahan, kecemburuan, kecurigaan, dan bermasalah sendiri, tidak dapat berperan atau memberikan sumbangsih yang berarti bagi orang lain.

Kemampuan untuk mengungkapkan dan mengendalikan emosi merupakan aspek lain dari kesehatan jiwa. Orang-orang yang dapat mengendalikan emosi  memiliki kekuatan ego yang baik. Orang yang sehat tidak menghindar dari situasi yang membangkitkan emosi yang kuat atau menggunakan mekanisme isolasi dan disosiasi untuk melindungi perasaannya. Emosi mereka tidak ditekan tetapi perilaku mereka tetap terkendali.

Seksualitas

Seks berasal dari bahasa latin sexus yang berarti pembagian. Seks dapat berarti pembagian jenis kelamin, laki-laki dan perempuan. Jenis kelamin dari sisi biologi molekuler hanyalah perbedaan dalam satu kromosom yaitu kromosom Y. Laki-laki  mempunyai dua seks kromosom, yaitu X dan Y sedangkan wanita mempunyai dua kromosom X. Bagian spesifik dari kromosom Y, SRY (bagian gen penentu seks pada kromosom Y) bertanggung jawab untuk diferensiasi laki-laki. Seks yang membagi laki-laki dan perempuan dan seks juga yang mempersatukan laki-laki dan perempuan. Diferensiasi biologis menjadi laki-laki dan perempuan memberikan kemampuan reproduksi seksual. Seks dapat diartikan secara luas berhubungan dengan fertilisasi sebagai proses reproduksi, orgasme, sampai hubungan antar indvidu. Ada juga peneliti yang memandang seks dan seksualitas manusia terutama lebih sebagai fungsi kenikmatan dibandingkan reproduksi.

Hasrat seksual merujuk kepada fenomena subjektif dan perilaku fantasi seksual, impian seksual, rangsangan awal sampai tercapainya orgasme, perilaku seksual awal dengan pasangan, penerimaan terhadap perilaku seksual, sensasi genital, dan tanggung jawab yang besar terhadap masalah erotis dalam masyarakat. Hasrat seksual menjadi semakin kompleks karena mempunyai tiga bagian utama yaitu biologi, psikologi, dan sosial yang secara berkesinambungan berinteraksi dalam bentuk yang berubah-ubah.

Dorongan seksual adalah aspek biologi dari hasrat seksual. Dorongan untuk melakukan aktivitas seksual tanpa stimulasi eksternal kemungkinan hasil dari aktivitas jaringan saraf pusat. Reseptor dopamin D4 diketahui berhubungan dengan perilaku seksual pada binatang dan varian dari gen ini pada manusia ditemukan mempunyai hubungan dengan tingkat hasrat dan keinginan seksual. Penemuan ini menyimpulkan bahwa perbedaan perilaku seksual pada manusia sebagian disebabkan variasi gen reseptor D4, dan sebab itu berhubungan dengan kadar protein D4 yang dikeluarkan pada area otak tertentu. Setelah masa peningkatan pada remaja dan dewasa muda, manifestasi dorongan seksual secara bertahap menghilang sampai hampir tidak tampak pada usia lanjut.

Motif seksual adalah aspek psikologis dari hasrat seksual. Motif diketahui sebagai keinginan seseorang untuk mendapatkan seks. Keinginan meliputi prakarsa, penerimaan, atau keduanya. Umumnya prakarsa secara stereotip merupakan karakteristik laki-laki dan penerimaan merupakan karakteristik wanita, setiap orang, menurut jenis kelamin, memiliki momen prakarsa dan penerimaan langsung dan tersirat. Motif secara sederhana adalah keinginan untuk menjadikan seseorang sebagai pasangan untuk tujuan seksual. Perbedaan motif dan dorongan secara klinis dapat dengan melihat adanya dorongan seksual pada seseorang tetapi tidak ingin melakukannya dengan yang bukan pasangannya, walaupun secara logika bisa diterima.

Harapan seksual adalah dimensi sosial dari hasrat seksual. Sejarawan, sosiolog, filsuf, rohaniawan, dan antropolog mengingatkan klinisi bahwa kehidupan seksual dipengaruhi oleh kekuatan yang mengelilingi seseorang dan lebih penting dari pada masalah biologi atau psikologis dari kehidupan seseorang. Semua perilaku seksual terjadi dalam lingkup sosial yang ditentukan oleh keluarga, pasangan, komunitas, agama, bangsa, dan waktu sejarah. Pengaruh sosial ini secara misteri menemukan jalannya pada harapan seseorang tentang perilaku seksual.

Cinta adalah hasrat seksual yang mengandung ketiga komponen di atas dan ketiga kompenen tersebut selaras. Dorongan seksual tanpa keinginan dan harapan seksual bukanlah cinta, tidak berbeda mahluk hidup rendah yang memuaskan dorongan biologisnya. Keinginan seksual tanpa dorongan seksual dan harapan seksual bukanlah cinta, hanya pikiran dan perasaan yang tidak diungkapkan. Harapan seksual tanpa dorongan seksual dan keinginan seksual hanyalah perilaku mengikuti norma tanpa memiliki jiwa.

Jiwa sehat, seks OK

Orang yang sehat biasanya puas dengan kejantanan dan keperempuanannya. Mereka secara relatif lepas/terbebas dari ketakutan dan kebencian yang tidak berdasar, termasuk dalam hal seksualitas dan jika menikah mereka mampu menikmati kehidupan seks yang aktif (memberi) dan pasif (menerima) secara memuaskan.

Faktor kejiwaan yang dapat menyebabkan masalah dalam seksualitas meliputi semua faktor dalam semua periode kehidupan yaitu periode masa anak-anak, remaja dan dewasa. Beberapa contoh faktor kejiwaan adalah trauma seksual pada masa anak-anak, pandangan keluarga yang negatif tentang seks, misalnya tentang perilaku masturbasi yang dilakukan oleh remaja, kecemasan, ketidakmengertian tentang seksualitas, kejemuan/kebosanan, tiadanya komunikasi, dan hilangnya daya tarik.

Kondisi emosi dan psikologik merupakan hal yang amat penting dan mempengaruhi rasa sejahtera dalam fungsi seksual seseorang. Stres emosional atau psikologik karena sebab apapun dapat menyebabkan terjadinya disfungsi seksual, walaupun seseorang tidak mengalami gangguan jiwa tertentu. Tidak ada tipe kepribadian tertentu yang lebih rentan mengalami disfungsi seksual. Namun tipe kepribadian yang cukup banyak mengalami masalah dalam seksualitas adalah tipe kepribadian anankastik (cenderung perfeksionis, moralis, taat aturan). Tipe kepribadian ini mengakibatkan mereka tidak mudah untuk memulai dan melakukan hubungan seks. Ciri yang mereka miliki antara lain: sangat rapi, bersih, teratur, dan tertata dalam segala hal. Bila hal ini masih cukup lentur (fleksibel) untuk menyesuaikan diri dalam hubungan sosial (termasuk penyesuaian dan penerimaan akan kepribadian pasangannya) tentu tidak akan menimbulkan disfungsi seksual, namun bila cenderung kaku dan sulit menyesuaikan diri, maka dapat timbul problem (disebut sebagai gangguan kepribadian anankastik); mereka sulit menerima dan menyesuaikan dengan kepribadian pasangannya. Bila pasangan mereka dapat menyesuaikan diri serta bersedia memenuhi permintaan mereka, tentu tidak timbul masalah. Problem akan muncul apabila pasangannya mempunyai kepribadian yang berbeda atau bahkan bertolak belakang namun kurang atau tidak dapat saling toleransi terhadap kepribadian pasangannya, misalnya seseorang yang cenderung tidak acuh, tidak memperdulikan kerapian atau kebersihan secara kaku dan mutlak.

Persepsi dan pandangan tentang seksualitas dan hubungan seks. Hal-hal konfliktual yang berasal dari pesan budaya dan agama yang dipelajari tentang seksualitas. Misalnya suatu pesan ditanamkan secara terus menerus sejak kecil dalam bentuk ancaman atau secara keras sehingga membuat seseorang merasa takut dan tertekan yang mengakibatkan timbulnya persepsi yang tidak tepat tentang seks dan fungsi seksual dalam perkawinan (misalnya pandangan banwa seks itu sesuatu yang tabu untuk dibicarakan, seks itu “kotor”, dll). Pandangan tentang citra tubuh, citra diri dan harga diri. Pembentukan citra diri dan citra tubuh berlangsung sejak dini, yaitu sejak masa bayi dan kanak serta berlangsung terus sampai dewasa. Pada seseorang yang pembentukan citra diri dan citra tubuhnya positif, akan merasa yakin pada diri sendiri dan merasa mampu berespons seksual secara optimal, namun sebaliknya seseorang dengan citra tubuh dan citra dirinya negatif, akan kurang yakin bahwa ia mampu berespons seksual secara optimal.

Pengalaman hidup tidak mengenakkan atau tidak menyenangkan atau traumatik (yaitu mengakibatkan stres)  tentang hubungan seks pada masa lalu (misalnya mengalami perkosaan atau pelecehan seksual), maka fungsi seksualnya pada masa kini dapat terganggu atau terpengaruh. Kebanyakan dari mereka akan mengalami kesulitan atau bahkan takut melakukan hubungan seksual.

Kondisi jiwa yang sedang dalam keadaan stres, atau mengalami gangguan tertentu (misalnya depresi, cemas). Stres dapat dialami oleh semua orang, bila stres bersifat eustres, artinya dapat memotivasi agar seseorang bersemangan mengatasi problemnya, justru diperlukan oleh seseorang sebagai pendorong dan pembangkit semangat; tetapi bila bersifat distres, yaitu membuat seseorang menjadi terganggu dan tidak dapat melakukan fungsi sosial dan pekerjaannya seperti biasanya, maka dapat mempengaruhi fungsi kehidupan yang lain, termasuk fungsi seksual.

Penyebab yang juga sering menimbulkan gangguan dalam fungsi seksual adalah problem dalam hubungan interpersonal suami-istri. Perbedaan kebiasaan, sifat dan kepribadian, perbedaan latar belakang keluarga dan budaya, merupakan hal yang dialami oleh hampir semua pasangan suami istri. Sebagia besar pasangan suami-istri dapat mengatasi perbedaan tersebut, dalam arti dapat memberikan toleransi dan dapat menerima pasangan dengan segala kelebihan dan kekurangannya, namun tidak sedikit pula pasangan yang sulit untuk saling memberikan toleransi, sehingga sering mengalami konflik, dan akhirnya dapat mempengaruhi pula hubungan seksual mereka. Sebagian pasangan mengalami kesulitan untuk mengekspresikan ketidaksetujuan, kejengkelan, kemarahan, bahkan rasa benci dan dendam mereka, dan menyimpannya dalam alam nirsadar. Secara nirsadar pula perasaan-perasaan tersebut dapat bermanifestasi dalam bentuk berkurangnya minat, berkurangnya bahkan sampai hilangnya perasaan terangsang secara seksual (yang ditandai dengan sedikit atau bahkan tidak timbulnya cairan lubrikasi) sehingga mengalami nyeri saat berhubungan seksual, atau hilangnya orgasme yang sebelumnya pernah dicapai.

Kesimpulan

Beberapa faktor dan kondisi psikologik yang telah diuraikan tersebut, dapat mempengaruhi kondisi fisik seseorang termasuk kehidupan seksualnya. Jiwa yang sehat akan memberikan kehidupan seksual yang memuaskan/menyenangkan dan selanjutnya dapat meningkatkan kualitas hidup seseorang

Makalah 1

MITOS-MITOS DALAM SEKSUALITAS

Prof. Dr. dr. Muchammad Syamsulhadi, Sp.KJ (K)

Pendahuluan

Seks saat ini telah menjadi suatu hal yang secara terbuka menarik untuk dibicarakan, karena tidak dapat dipungkiri seks adalah salah satu kebutuhan dasar manusia. Hal ini sangat jauh berbeda dengan beberapa dekade lalu.

Disaat arus informasi dan komunikasi tidak sederas sekarang, tidak setiap orang mau membicarakannya secara terbuka, sebab tidak sedikit masyarakat yang menganggap seks adalah masalah tabu untuk dibicarakan.

Sejak masa remaja manusia sangat penasaran dan haus akan informasi tentang berbagai hal yang berkaitan dengan seksualitas. Keingintahuan yang besar membuat manusia berusaha terus untuk mencari informasi dari berbagai sumber. Hampir semua orang mendapat pengetahuan tentang seksualitas melalui berbagai cara formal maupun informal. Sumber informal tersebut bisa berasal dari teman sebaya, lingkungan keluarga atau media massa. Sayangnya informasi yang didapat tidak selalu benar dan sering tidak dapat dipertanggungjawabkan.  Informasi tersebut juga sangat diyakini dan dipercaya untuk menjadi pedoman berperilaku seksual. Informasi-informasi yang salah mengenai seks inilah yang disebut dengan mitos-mitos seks, yang tentu saja sekali lagi tidak benar.

Mitos adalah informasi yang salah tetapi dianggap benar yang telah diyakini, beredar dan populer di masyarakat. Mitos cepat sekali berkembang di masyarakat karena menarik untuk dibahas dan masyarakat sulit mendapatkan informasi yang benar. Sebagai akibatnya, banyak mitos dan salah pengertian yang beredar di dalam masyarakat. Tidak diragukan bahwa sejumlah besar masalah dan gangguan seks muncul sebagai akibat dari mitos-mitos ini, baik pria maupun wanita. Mitos seperti ini seharusnya dihentikan dengan pemahaman yang baik tetapi sering orang mengabaikannya. Beberapa mitos ini demikian melekat dalam benak masyarakat sehingga sulit untuk dihapuskan.

Sebenarnya mitos seks secara tidak langsung berhubungan dengan kesehatan seksual sebab orang yang meragukan kebenaran mitos seks berupaya mencari kebenaran sesungguhnya. Setelah mendapatkan keterangan sebenarnya, maka orang itu secara otomatis mengetahui tentang kesehatan seksual yang mengandung pengertian kemampuan untuk mengungkapkan seksualitas yang bebas resiko penyakit, kehamilan yang tidak diinginkan, paksaan, kekerasan dan diskriminasi.

Mitos-mitos yang beredar di dalam masyarakat  sering tidak diketahui sumbernya,  sudah menjadi bagian dari masyarakat, dan diperkuat oleh faktor sugesti masyarakat dan oleh perilaku yang mendukungnya. Bahkan media masa juga ikut memperkuat tertanamnya mitos-mitos dengan  memberitakanya dalam budaya daerah tertentu. Berikut ini akan dibicarakan beberapa mitos seks yang umum dan mitos perilaku seksual yang banyak terdapat di masyarakat.

•A.     Mitos seks yang umum di dalam masyarakat

Mitos Seks Tentang Pria

•1.      Mitos tentang penis

Mitos ukuran penis besar menentukan kenikmatan seksual sangat popular di masyarakat. Informasi salah ini beranggapan semakin besar penis semakin nikmat. Akibatnya banyak pria merasa penisnya kecil menjadi malu, kurang percaya diri, bahkan takut berhubungan hingga tidak mampu melakukannya. Padahal besar kecilnya penis tidak berkaitan dengan potensi seksual dan tidak menjamin meningkatkan kepuasan seksual. Sebenarnya kepuasan seksual wanita tidak ditentukan dari besar kecilnya penis, melainkan oleh kemampuan penis untuk ereksi, kemampuannya mengontrol ejakulasi dan komunikasi yang baik antara suami-istri.

Pemikiran bahwa pasangan wanita akan lebih terangsang dan terpuaskan oleh penis yang besar perlu mendapat penjelasan bahwa semakin besar ukuran penis tidak penting untuk kepuasan seksual selama masih dalam ukuran normal. Hanya dua inci bagian luar vagina yang sentsitif terhadap sentuhan jadi penis dengan panjang sekitar dua inci sudah cukup untuk memberikan rangsangan pada pasangan wanita.

Penis juga tidak harus lurus saat ereksi. Sedikit melengkung, tidak akan mengganggu saat insersi normal dan jangan menyebabkan kekuatiran. Penis seharusnya menjadi sumber kenikmatan bukan menyebabkan kekuatiran.

•2.      Mitos tentang testis

Banyak kekuatiran tentang letak testis yang tidak sejajar saat berdiri begitu juga dalam ukurannya. Kedua testis tidak harus sama tinggi, biasanya testis kiri terletak lebih rendah dari yang kanan dan biasanya ukuran testis tidak sama besar antara kiri dan kanan.

•3.      Mitos tentang cairan semen

Banyak yang percaya bahwa cairan semen yang terbuang dibentuk dari cairan darah sehingga untuk mengembalikannya membutuhkan banyak zat gizi. Juga terdapat kepercayaan yang salah bahwa pri terlahir dengan jumlah semen yang terbatas sehingga kehilangan semen sejak usia dini dan sering akan menyebabkan mandul dan impoten. Sebagian lagi percaya bentuk visual dari semen harus kental dan putih susu. Perubahan pada keenceran atau perubahan warna kekuningan merupakan bencana besar. Kehilangan semen saat onani atau mimpi basah ditanggapi dengan kepanikan. Bahkan keluarnya cairan kental yang sering terjadi saat berkemih atau buang air besar menunjukkan tanda-tanda seseorang mengalami depresi dan akan bunuh diri.

Penting untuk menanamkan dalam pikiran bahwa semen diproduksi memang untuk dikeluarkan. Menahan semen tidak memberikan keuntungan apapun. Jika seorang pria menikah dan melakukan aktivitas seksual, dia akan mengeluarkan semen dan tetap dapat menikmati kehidupan yang sehat. Sehingga yang menjadi masalah bukanlah kehilangan semen tetapi perilaku terhadap kehilangan semen, yang menimbulkan gejala atau efek fisik.

•4.      Mitos tentang orgasme

Pria dan wanita sama-sama mempunyai peran dalam hubungan seksual. Oleh karena itu keduanya harus sama-sama terpuaskan. Anggapan kepuasan hubungan intim tergantung dari kepiawaian pria tidaklah benar, karena hubungan menjadi seru dan lebih mengasyikan bila kedua belah pihak sama-sama cerdas, pintar, bisa mengimbangi lawannya di atas ranjang. Pada pria, orgasme terjadi bersamaan dengan ejakulasi, sehingga banyak beranggapan kenikmatan seksual dirasakan karena sperma dikeluarkan. Padahal kenikmatan seksual yang dirasakan itulah yang disebutkan orgasme. Sama seperti wanita, pria juga bisa mengalami multi orgasme yaitu dengan latihan mengontrol untuk menunda ejakulasi. Memang memerlukan waktu untuk latihan, tetapi tidak ada pengaruh buruk akibat menahan ejakulasi.

•5.      Mitos tentang vasektomi

Pria yang telah divasektomi tidak kehilangan nasfu seksualnya, sebab pada vasektomi testis/buah zakar tidak dibuang dan tidak dilukai, sehingga testis tetap memproduksi sperma dan hormon testosteron yaitu hormon yang berfungsi sebagai pemberi sifat jantan pria dan juga libido. Vasektomi berbeda dengan kebiri, dimana pada kebiri kedua testis dibuang.

Mitos Seks Tentang Wanita

•1.      Mitos tentang vagina

Normalnya wanita yang mengalami rangsangan seksual memberikan reaksi seksual berupa keluarnya cairan/lendir dari dinding vagina. Cairan ini berfungsi sebagai lubrikan/pelicin. Bila vagina wanita masih kering berarti dia belum mengalami reaksi seksual dan belum siap berhubungan seksual. Bila dalam keadaan demikian hubungan seksual tetap dilakukan, maka akan terjadi gangguan rasa nyeri pada pria maupun wanita yang selanjutnya dapat terjadi lecet, luka dan peradangan vagina. Jadi mitos seks tentang vagina kering dapat memberikan kepuasan lebih adalah tidak benar. Sehingga sangat disayangkan bila pria meminta pasangannya untuk membuat vaginanya agar selalu kering.

•2.      Mitos tentang keperawanan

Mitos mengenai perawan yang harus mengeluarkan darah ketika pertama kali berhubungan sebenarnya timbul karena zaman dulu perempuan hanya dianggap obyek seksual pria. Sehingga ketika melakukan hubungan seks biasanya wanita dalam keadaan tidak terangsang dan sering kali hubungan seksual terjadi dalam keadaan terpaksa. Akibatnya terjadilah robekan pada kelamin yang menyebabkan pendarahan. Padahal bila keadaan terangsang dan siap maka wanita dapat melakukan hubungan seksual dengan lancar tanpa rasa nyeri dan tanpa perdarahan.

Banyak pernikahan hancur karena malam pertama tidak mengeluarkan darah setelah insersi. Mitos bahwa bila tidak ada perdarahan berarti tidak perawan banyak tertanam secara mendalam pada beberapa budaya. Himen atau selaput dara dapat sangat elastic sehingga tidak robek. Selaput dara dapat juga robek akibat aktivitas olah raga atau karena kecelakaan oleh objek yang mengenainya.

•3.      Mitos tentang orgasme

Sebuah riset mengatakan wanita justru lebih besar kemungkinannya mendapatkan orgasme dibandingkan sebelum menopause dan lebih besar kemungkinannya mendapatkan multiorgasme setelah masa menopause. Hal tersebut dikarenakan setelah menopause wanita cenderung lebih bisa mengenyahkan kekhawatiran terjadinya kehamilan, wanita di atas 50 tahun telah memiliki keahlian dan pengalaman memadai dalam berhubungan, sebagian besar telah mengenal baik pola permainan pasangannya ketika berhubungan. Kenikmatan melakukan seks setelah menopause juga akan bertambah bila suami menggunakan kondom, sebab pada wanita menopause sekresi/produksi carian vagina biasanya menjadi berkurang akibatnya wanita sering merasa nyeri saat berhubungan seksual.

•4.      Mitos tentang menstruasi

Dalam beberapa kebudayaan, ada pendapat umum bahwa wanita menjadi kotor dan tidak suci selama menstruasi sehingga tidak diperbolehkan bekerja dan diasingkan selama menstruasi.  Ini perlu dihapuskan karena menstruasi merupakan proses tubuh yang normal pada wanita.

•B.     Mitos perilaku seksual yang banyak terdapat di masyarakat

  • 1. Masturbasi

Mitos tentang masturbasi dapat menyebabkan kemandulan, ejakulasi dini, rambut rontok, lutut keropos adalah salah. Masturbasi biasanya dilakukan oleh orang yang belum mempunyai istri atau jauh dari pasangan. Masturbasi wajar dilakukan oleh seorang pria karena hasrat seksual sedang menggebu, tapi sering melakukan masturbasi akan berdampak negatif pada kesehatan, karena dapat mengurangi produktivitas.

Masturbasi biasanya dilakukan pada kondisi tertentu, misalnya belum memiliki pasangan atau ketika jauh dari pasangan, sementara hasrat seksual sedang mengebu. Sejumlah kalangan agama ada yang mengharamkannya, tetapi ada sebagian kalangan memperbolehkannya. Secara alamiah masturbasi tidak ada hubungannya dengan kemandulan, ejakulasi dini, impotensi, rambut rontok atau lutut keropos. Tetapi frekuensi masturbasi terlalu sering kurang baik dampaknya sebab dapat mengurangi produktivitas.

Walaupun masturbasi tidak menimbulkan masalah yang serius dan tidak merusak tubuh, tetapi bila dilakukan secara konstan akan ada kemungkinan kesulitan mencapai kepuasan ketika melakukan hubungan seks vaginal apalagi ketika terbiasa melakukan dengan tangan yang kering atau kasar maka vagina yang basah dan lembut tidak akan memberikan sensasi seperti yang diinginkan.

  • 2. Ejakulasi

Dalam berhubungan seksual, banyak pria menganggap bahwa orgasme terjadi bersamaan dengan ejakulasi, padahal hal ini salah. Seorang pria dapat mengalami orgasme lebih dari satu kali saat melakukan hubungan intim, hal ini tergantung pada daya tahan seseorang untuk menahan ejakulasi. Semakin bagus daya tahan seorang pria, maka akan lebih nikmat dalam melakukan hubungan seksual

  • 3. Pria aktif dan wanita pasif.

Ada yang beranggapan bahwa hanya pria saja yang aktif dan si wanita pasif akan memberikan kenikmatan yang lebih adalah salah. Kenikmatan yang maksimal akan lebih cepat tercapai apabila keduanya sama-sama aktif melakukan gerakan-gerakan yang membuat lawan main terangsang, jadi dalam hal ini tergantung kecerdasan masing-masing orang untuk memanjakan lawan mainnya di ranjang.

  • 4. Cinta untuk menikmati seks

Cinta dibutuhkan untuk menikmati seks adalah mitos yang menyesatkan. Yang benar adalah cinta  tidak berkaitan dengan kepuasan seksual. Tentu saja saat seseorang jatuh cinta dan memiliki perasaan kuat pada pasangannya, pengalaman seksualnya menjadi lebih baik. Namun hal ini tak bisa diterjemahkan dalam orgasme yang luar biasa. Banyak pasangan bingung bahwa seks yang mereka nikmati tidak seindah seperti kehidupan cinta mereka. Setiap pasangan harus menyadari bahwa belajar untuk menikmati satu sama lain akan menjadi mahir seperti halnya memainkan alat musik, butuh latihan kerja keras, kesabaran, sebelum musik yang dihasilkan sempurna dan manis.

Single lebih sering ngesek dari pada yang berpasangan. Namun mereka yang telah menikah atau hidup bersamalah yang yang justru menjadi pemenang dalam hal ini, disebabkan dua hal yakni modal dan kemudahan dan tercapainya jumlah seks yang optimal bila hidup dengan pasangan yang dicintai, akan memiliki kehidupan seks yang nikmat daripada saat masih single. Menurut penelitian, kualitas seks yang lebih tinggi akan dicapai seseorang bila telah memiliki pasangan dalam ikatan pernikahan. Hal ini terjadi karena model relasi seperti ini biasanya menawarkan komponen-komponen kunci dari eksplorasi seksual dan kesenangan yakni kepercayaan dan keterikatan.

  • 5. Hubungan seks dengan anak muda bikin awet muda

Hubungan seks dengan anak muda membuat awet muda ? Sering berhubungan seks membuat awet muda ? Menelan dan mengoleskan sperma ke wajah membuat awet muda ? Itu semua hanya mitos. Tidak benar sama sekali.

  • 6. Mencabut adalah aman

Mencabut adalah aman baik dari penyakit menular seksual maupun kehamilan, adalah mitos yang salah. Yang benar, pria mengeluarkan cairan bahkan sebelum ejakulasi, dan vagina mengeluarkan cairan juga. Ketika seseorang menyentuh dengan cairan tersebut, penyakit seks menular dapat ditularkan bahkan jika pria menarik penis sebelum ejakulasi penuh kehamilan dapat terjadi sejak sperma masih dalam pra ejakulasi.

•7.      Seks selama hamil menyakiti janin

Seks selama kehamilan akan menyakiti janin. Justru sebagian besar ahli menganjurkan lebih meningkatkan frekuensi hubungan seks selama kehamilan karena dapat memudahkan nantinya dalam persalinan. Yang harus diperhatikan bila berhubungan dalam periode ini yaitu menjaga agar janin tidak tertindih selama berhubungan.

•8.      Obat kuat

Tangkur Buaya, Purwaceng, Torpedo Kambing, sebagian dari obat kuat pria yang ditengarai mampu menambah stamina agar si lemah berubah kuat dan gesit. Pada yang beginian ini, pria-pria ‘putus asa’ mengharap ke-digdaya-an. Berharap si loyo kembali tegak berdiri, sambil manggut-manggut berkata ’siap menyodok!’

Obat dan ramuan untuk meningkatkan seksualitas tidak direkomendasikan jika tidak diperlukan. Jika di malam pertama, suami sudah menggunakan obat-obatan ini maka bisa dipastikan kalau secara psikologis dia belum siap melakukan hubungan seks di malam pertama.

Di antara berbagai obat kuat ala Tiongkok terdapat pil Jinqiang Budaowan atau “Pil Tombak Emas tak Pernah Tumbang” yang konon dapat memperlama ejakulasi selama mungkin. Ada juga serbuk Yiduosan yang membuat orang jadi awet muda dan tetap gagah. Ada lagi Changyinfang si obat “Pemanjang” yang konon dapat memperpanjang dan memperbesar ukuran.

•9.      Alkohol perbaiki kemampuan seksual

Alkohol sejak lama dipertimbangkan sebagai aphrodisiac. Dahulu, manusia kerap dibayang-bayangi oleh kemampuan dan kekuatan alkohol, yang diduga mampu memperbaiki dan meningkatkan kenikmatan seksual.Alkohol justru akan membuat mandul fungsi-fungsi otak yang lebih tinggi, yang biasanya mengontrol atau menghambat impuls seksual. Lebih jauh lagi , meskipun minuman keras dapat meningkatkan gairah seks, namun juga dapat menurunkan kemampuan Anda atau secara negatif mempengaruhi respon seksual Anda.

•10.  Malam pertama

Banyak orang beranggapan bahwa seks itu nikmat sehingga saat malam pertama pasti akan dilewati dengan perasaan yang bahagia. Fakta menyebutkan, tidak sedikit pasangan yang merasa kecewa di malam pertama mereka. Keindahan seks yang mereka bayangkan dikarenakan ketidak pahaman terhadap seksualitas secara benar.

Darah perawan, adalah hal yang ditunggu-tunggu banyak pria di malam pertama mereka. Bila istri tidak mengeluarkan darah dianggap tidak perawan lagi. Mitos ini sangat menyesatkan. Keperawanan tidak ada hubungannya darah yang keluar. Mitos ini membuat banyak wanita menjadi khawatir di malam pertamanya. mereka takut tidak mengeluarkan darah dan takut dianggap tidak perawan lagi.

Bisa Menyobek selaput dara adalah tanda keberhasilan. Belum tentu selaput dara bisa sobek dimalam pertama. Menurut Nugroho, justru menyobek selaput dara saat malam pertama merupakan tanda terjadinya kegagalan respon seksual pada istri. Artinya, sebetulnya istri belum terangsang sempurna saat penetrasi terjadi.

Malam pertama Selalu menyakitkan. Anggapan ini salah. Berhubungan seks pertama kali tidak selalu menyakitkan. Kekhawatiran  banyak wanita di malam pertama adalah kuatir vagina mereka tidak bisa menampung penis yang berukuran besar ketika ereksi. Rasa sakit ketika berhubungan biasanya terjadi karena secara seksual si wanita belum siap dan vagina masih terlalu kencang untuk menerima penetrasi. Solusi terbaik adalah dengan melakukan foreplay terlebih dahulu agar wanita menjadi rileks dan teransang sehingga vagina menjadi lebih bisa menerima penetrasi.

Malam Pertama dianggap sebagai penentu keberhasilan berhubungan seks di malam berikutnya. Seringkali kegagalan di malam pertama menyebabkan kekuatiran akan gagal di malam berikutnya.

Ejakulasi dini atau rasa sakit pada wanita akan terbayang di malam-malam berikutnya. Pengalaman buruk di malam pertama memang mempengaruhi perasaan saat akan melakukan hubunga seks lagi tetapi malam pertama bukanlah penentu keberhasilan hubungan seks di malam selanjutnya.

•11.  Hubungan seks pada menopause menyebabkan mata rabun dan perut busung

Menopause adalah saat dimana seorang wanita tidak lagi memperoleh haid dan aktivitas indung telur untuk menghasilkan telur sudah hilang untuk selamanya. Menopause dianggap berlangsung secara sempurna bila seorang wanita sudah tidak lagi mendapatkan periode haid selama satu tahun Menopause bukan tanda akhir dari aktivitas seksual seorang wanita.

Pada wanita ataupun pria lanjut usia ada suatu mitos tentang hubungan seks pada lanjut usia menyebabkan mata rabun dan perut busung. Adalah berupa sebuah fakta bilamana bagi sebagian wanita aktivitas keintiman menjadi lebih baik pada masa pertengahan usia.

Pada sebagian pria dan wanita lanjut usia terjadi perubahan secara fisiologis baik fisik maupun hormonal, misalnya terjadi presbiopy atau rabun dekat karena axis lensa mata yang cenderung pipih, terjadi katarak oleh karena kekeruhan lensa mata dan berhentinya menstruasi karena pengaruh hormon estrogen yang berkurang.

Meskipun menopause mendatangkan perubahan fisiologi yang dapat mengganggu aktivitas seksual, 70 sampai 80% wanita menopause tidak mengalami penurunan aktivitas dan kepuasan seksual.

Bagaimana cara anda menerima perubahan yang terjadi saat menopause, hal itulah yang akan memberikan dampak berarti dalam kesehatan dan kenikmatan seksual. Beberapa wanita menopause mengalami peningkatan gairah seksual mereka manakala mereka menyadari bahwa mereka tak perlu lagi cemas dengan terjadinya kehamilan akibat hubungan seksual dan pula, anak-anak mereka sudah dewasa dan tak lagi memerlukan perhatian mereka.

Perubahan saat menopause yang mempengaruhi kehidupan seksual

Perubahan fisiologis akibat menopause kadang-kadang mengganggu aktivitas dan gairah seksual pada sejumlah wanita. Perubahan dapat terjadi pada lubrikasi, dinding vagina gairah seksual, dorongan seksual dan orgasme yang mengakibatkan kegiatan seksual menjadi kurang mengenakkan dan kurang menyenangkan.

Kekeringan vagina dan nyeri saat hubungan seksual.

Masalah yang paling sering terjadi adalah vagina yang kering, meskipun sebenarnya hanya 20% wanita yang merasakannya. Dinding vagina menjadi tipis dan kurang lentur. Terdapat rasa pedih, panas dan kadang nyeri atau berdarah saat melakukan sanggama.  Lubrikasi dengan bahan dasar air dapat mengatasi kekeringan vagina yang terjadi. Jangan gunakan lubrikan dengan bahan dasar petroleum (vaselin). Vitamin E atau krim pelembab juga dapat digunakan sebagai lubrikan. Bila lubrikan atau pelembab masih kurang menolong maka dapat diberikan krim estrogen vagina untuk mengatasi masalah kekeringan vagina.

Stimulasi dan orgasme

Beberapa orang wanita mengalami orgasme yang lebih jarang dan kurang kuat saat menopause. Pada mereka diperlukan waktu yang lama untuk meningkatkan gairah seksual. Hampir pada semua wanita, hubungan seksual yang teratur atau masturbasi dapat membantu meningkatkan respon dan kenikmatan seksual. Aktivitas tersebut dapat mempertahankan fungsi atau peranan rahim, vagina serta kandung kemih serta meningkatkan lubrikasi vagina. Kegel Exercise, latihan ini meningkatkan kontraksi otot panggul sekitar vagina yang memembantu penguatan otot-otot vagina.

Hasrat seksual

Hilangnya gairah seksual secara temporer atau jangka panjang terjadi pada sejumlah wanita selama dan sesudah menopause. Penyebab dari keadaan ini antara lain:

  • - Lelah
  • - Stress
  • - Penyakit
  • - Masalah hubungan pribadi
  • - Masalah psikologis
  • - Efek samping terapi medikamentosa
  • - Perubahan hormon

Rasa tidak enak akibat perubahan fisik yang terjadi selama menopause.

Gangguan hubungan suami istri seringkali menjadi kambuh akibat adanya perubahan-perubahan selama menopause. Gangguan hubungan ini memerlukan penanganan dari seorang ahli seksologi. Bila masalahnya terletak pada faktor hormonal maka pemberian estrogen akan dapat dengan mudah menyelesaikan masalah yang terjadi. Tidak ada kaitan langsung antara kadar estrogen dengan gairah seksual. Masalah yang utama adalah akibat keringnya vagina dan rasa nyeri saat hubungan seksual. Kadar hormon, derajat kesehatan umum dan perubahan sosial sehubungan dengan usia serta efek mental dan emosional bekerja sama dalam perubahan seksual selama menopause. Menurunnya kadar testosteron diduga berperan dalam penurunan gairah seksual. Hal ini masih belum terbukti secara ilmiah. Hormon estrogen terdapat dalam bentuk pil atau injeksi serta krim. Namun dalam penggunaannya perlu diingat adanya efek samping.

Peningkatan keintiman

Perubahan yang terjadi pada usia pertengahan memungkinkan untuk melakukan eksplorasi pengalaman seksual yang baru dan berbeda. Laki-laki juga mengalami perubahan seperti misalnya agar dapat mengalami ereksi diperlukan waktu yang lama. Permainan pendahuluan yang lebih lama akan dapat meningkatakan kesiapan seksual pada wanita. Memusatkan perhatian pada sensualitas, keintiman dan komunikasi dapat memperbaiki hubungan seksual. Terdapat berbagai cara untuk memperlihatkan perasaan cinta anda selain hanya sekedar sanggama. There are many ways of expressing your love besides intercourse:

  • - Pelukan, belaian dan ciuman
  • - Sentuhan, mengusap, memijat , “sensual baths”
  • - Rangsangan manual
  • - Oral sex

Hubungan seksual pasca menopause dapat benar-benar memuaskan bila anda mampu untuk melakukan adaptasi perubahan yang terjadi.

Catatan mengenai pengendalian kesuburan dan seks aman

Bila anda melakukan sanggama, anda harus menggunakan pencegahan kehamilan sebelum anda-anda benar tidak mendapatkan haid selama 12 bulan berturut-turut. Pencegahan terhadap penyakit menular seksual harus tetap diperhatikan. Kecuali bila anda hanya mempunyai satu pasangan seksual, anda harus menggunakan kondom.

Disfungsi Seksual

1. Pengertian Disfungsi Seksual

a) Definisi Disfungsi Seksual

Istilah disfungsi seksual menunjukkan adanya gangguan pada salah satu atau lebih aspek fungsi seksual (Pangkahila, 2006). Bila didefinisikan secara luas, disfungsi seksual adalah ketidakmampuan untuk menikmati secara penuh hubungan seks. Secara khusus, disfungsi seksual adalah gangguan yang terjadi pada salah satu atau lebih dari keseluruhan siklus respons seksual yang normal (Elvira, 2006). Sehingga disfungsi seksual dapat terjadi apabila ada gangguan dari salah satu saja siklus respon seksual.

b) Siklus respon seksual (Kolodny, Master, Johnson, 1979)

1) Fase Perangsangan (Excitement Phase)

Perangsangan terjadi sebagai hasil dari pacuan yang dapat berbentuk fisik atau psikis. Kadang fase perangsangan ini berlangsung singkat, segera masuk ke fase plateau. pada saat yang lain terjadi lambat dan berlangsung bertahap memerlukan waktu yang lebih lama.

Pemacu dapat berasal dari rangsangan erotik maupun non erotik, seperti  pandangan, suara, bau, lamunan, pikiran, dan mimpi.

2) Fase Plateau

Pada fase ini, bangkitan seksual mencapai derajat tertinggi yaitu sebelum mencapai ambang batas yang diperlukan untuk terjadinya orgasme.

3) Fase Orgasme

Orgasme adalah perasaan kepuasan seks yang bersifat fisik dan psikologik dalam aktivitas seks sebagai akibat pelepasan memuncaknya ketegangan seksual (sexual tension) setelah terjadi fase rangsangan yang memuncak pada fase plateau.

4) Fase Resolusi

Pada fase ini perubahan anatomik dan faal alat kelamin dan luar alat kelamin yang telah terjadi akan kembali ke keadaan asal.

Sehingga adanya hambatan atau gangguan pada salah satu siklus respon seksual diatas dapat menyebabkan terjadinya disfungsi seksual.

2. Etiologi Disfungsi Seksual

Pada dasarnya disfungsi seksual dapat terjadi baik pada pria ataupun wanita, etiologi disfungsi seksual dapat dibagi menjadi dua kelompok, yaitu:

a) Faktor fisik

Gangguan organik atau fisik dapat terjadi pada organ, bagian-bagian badan tertentu atau fisik secara umum. Bagian tubuh yang sedang terganggu dapat menyebabkan disfungsi seksual dalam berbagai tingkat (Tobing, 2006).

Faktor fisik yang sering mengganggu seks pada usia tua sebagian karena penyakit-penyakit kronis yang tidak jelas terasa atau tidak diketahui gejalanya dari luar. Makin tua usia makin banyak orang yang gagal melakukan koitus atau senggama (Tobing, 2006). Kadang-kadang penderita merasakannya sebagai gangguan ringan yang tidak perlu diperiksakan dan sering tidak disadari (Raymond Rosen., et al, 1998).

Dalam Product Monograph Levitra (2003) menyebutkan berbagai faktor resiko untuk menderita disfungsi seksual sebagai berikut:

1) Gangguan vaskuler pembuluh darah, misalnya gangguan arteri koronaria.

2) Penyakit sistemik, antara lain diabetes melitus, hipertensi (HTN), hiperlipidemia (kelebihan lemak darah).

3) Gangguan neurologis seperti pada penyakit stroke, multiple sklerosis.

4) Faktor neurogen yakni kerusakan sumsum belakang dan kerusakan saraf.

5) Gangguan hormonal, menurunnya testosteron dalam darah (hipogonadisme) dan hiperprolaktinemia.

6) Gangguan anatomi penis seperti penyakit peyronie (penis bengkok).

7) Faktor lain seperti prostatektomi, merokok, alkohol, dan obesitas.

Beberapa obat-obatan anti depresan dan psikotropika menurut penelitian juaga dapat mengakibatkan terjadinya disfungsi seksual, antara lain: barbiturat, benzodiazepin, selective serotonin seuptake inhibitors (SSRI), lithium, tricyclic antidepressant (Tobing, 2006).

b) Faktor psikis

Faktor psikoseksual ialah semua faktor kejiwaan yang terganggu dalam diri penderita. Gangguan ini mencakup gangguan jiwa misalnya depresi, anxietas (kecemasan) yang menyebabkan disfungsi seksual. Pada orang yang masih muda, sebagian besar disfungsi seksual disebabkan faktor psikoseksual. Kondisi fisik terutama organ-organnya masih kuat dan normal sehingga jarang sekali menyebabkan terjadinya disfungsi seksual (Tobing, 2006).

Tetapi apapun etiologinya, penderita akan mengalami problema psikis, yang selanjutnya akan memperburuk fungsi seksualnya. Disfungsi seksual pria yang dapat menimbulkan disfungsi seksual pada wanita juga ( Abdelmassih, 1992, Basson, R, et al., 2000).

Masalah psikis meliputi perasaan bersalah, trauma hubungan seksual, kurangnya pengetahuan tentang seks, dan keluarga tidak harmonis (Susilo, 1994, Pangkahila, 2001, 2006, Richard, 1992).

3. Macam-Macam Disfungsi Seksual

a) Gangguan Dorongan Seksual (GDS)

1) Pengertian

Dorongan seksual dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu hormon testosteron, kesehatan tubuh, faktor psikis dan pengalaman seksual sebelumnya. Jika di antara faktor tersebut ada yang menghambat atau faktor tersebut terganggu, maka akan terjadi GDS (Pangkahila, 2007), berupa:

(a) Dorongan seksual hipoaktif

The Diagnostic and Statistical Manual-IV memberi definisi dorongan seksual hipoaktif ialah berkurangnya atau hilangnya fantasi seksual dan dorongan secara persisten atau berulang yang menyebabkan gangguan yang nyata atau kesulitan interpersonal.

(b) Gangguan eversi seksual

Timbul perasaaan takut pada semua bentuk aktivitas seksual sehingga menimbulkan gangguan.

2) Prevalensi dan manifestasi

Diduga lebih dari 15 persen pria dewasa mengalami dorongan seksual hipoaktif. Pada usia 40-60 tahun, dorongan seksual hipoaktif merupakan keluhan terbanyak. Pada dasarnya GDS disebabkan oleh faktor fisik dan psikis, antara lain adalah kejemuan, perasaan bersalah, stres yang berkepanjangan, dan pengalaman seksual yang tidak menyenangkan (Pangkahila, 2006).

b) Gangguan ereksi

1) Disfungsi ereksi

(a) Pengertian

Disfungsi ereksi (DE) berarti ketidakmampuan mencapai atau mempertahankan ereksi penis yang cukup untuk melakukan hubungan seksual dengan baik (Pangkahila, 2007).

Disfungsi ereksi disebut primer bila sejak semula ereksi yang cukup unutuk melakukan hubungan seksual tidak pernah tercapai. Sedang disfungsi ereksi sekunder berarti sebelumnya pernah berhasil melakukan hubungan seksual, tetapi kemudian gagal karena sesuatu sebab yang mengganggu ereksinya (Pangkahila, 2006).

(b) Penyebab dan manifestasi

Pada dasarnya DE dapat disebabkan oleh faktor fisik dan faktor psikis. Penyebab fisik dapat dikelompokkan menjadi faktor hormonal, faktor vaskulogenik, faktor neurogenik, dan faktor iatrogenik (Pangkahila, 2007).

Faktor psikis meliputi semua faktor yang menghambat reaksi seksual terhadap rangsangan seksual yang diterima. Walaupun penyebab dasarnya adalah faktor fisik, faktor psikis hampir selalu muncul dan menyertainya (Pangkahila, 2007).

c) Gangguan ejakulasi (Pangkahila, 2007)

1) Ejakulasi dini

(a) Pengertian

Ada beberapa pengertian mengenai ejakulsi dini (ED). ED merupakan ketidakmampuan mengontrol ejakulasi sampai pasangannnya mencapai orgasme, paling sedikit 50 persen dari kesempatan melakukan hubungan seksual. Berdasarkan waktu, ada yang mengatakan penis yang mengalami ED bila ejakulasi terjadi dalam waktu kurang dari 1-10 menit.

Untuk menentukan seorang pria mengalami ED harus memenuhi ketentuan sebagai berikut : ejakulasi terjadi dalam waktu cepat, tidak dapat dikontrol, tidak dikehendaki oleh yang bersangkutan, serta mengganggu yang bersangkutan dan atau pasangannya (Pangkahila, 2007).

(b) Prevalensi dan manifestasi

ED merupakan disfungsi seksual terbanyak yang dijumpai di klinik, melampaui DE. Survei epidemiologi di AS menunjukkan sekitar 30 persen pria mengalami ED.

Ada beberapa teori penyebab ED, yang dapat dibagi menjadi dua bagian, yaitu penyebab psikis dan penyebab fisik. Penyebab fisik berkaitan dengan serotonin. Pria dengan 5-HT rendah mempunyai ejaculatory threshold yang rendah sehingga cepat mengalami ejakulasi. Penyebab psikis ialah kebiasaan ingin mencapai orgasme dan ejakulasi secara tergesa-gesa sehingga terjadinya ED (Pangkahila, 2006).

2) Ejakulasi terhambat

(a) Pengertian

Berlawanan dengan ED, maka pria yang mengalami ejakulasi terhambat (ET) justru tidak dapat mengalami ejakulasi di dalam vagina. Tetapi pada umumnya pria dengan ET dapat mengalami ejakulasi dengan cara lain, misalnya masturbasi dan oral seks, tetapi sebagian tetap tidak dapat mencapai ejakulasi dengan cara apapun.

(b) Prevalensi dan manifestasi

Dalam 10 tahun terakhir ini hanya 4 pasien datang dengan keluhan ET. Sebagian besar ET disebabkan oleh faktor psikis, misalnya fanatisme agama sejak masa kecil yang menganggap kelamin wanita adalah sesuatu yang kotor, takut terjadi kehamilan, dan trauma psikoseksual yang pernah dialami.

d) Disfungsi orgasme (Pangkahila, 2007)

1) Pengertian

Disfungsi orgasme adalah terhambatnya atau tidak tercapainya orgasme yang bersifat persisten atau berulang setelah memasuki fase rangsangan (excitement phase) selama melakukan aktivitas seksual.

2) Penyebab dan manifestasi

Hambatan orgasme dapat disebabkan oleh penyebab fisik yaitu penyakit SSP seperti multiple sklerosis, parkinson, dan lumbal sympathectomy. Penyebab psikis yaitu kecemasan, perasaan takut menghamili, dan kejemuan terhadap pasangan. Pria yang mengalami hambatan orgasme tetap dapat ereksi dan ejakulasi, tapi sensasi erotiknya tidak dirasakan.

e) Dispareunia (Pangkahila, 2007)

1) Pengertian

Dispareunia berarti hubungan seksual yang menimbulkan rasa sakit pada kelamin atau sekitar kelamin.

2) Penyebab dan manifestasi

Salah satu penyebab dispareunia ini adalah infeksi pada kelamin. Ini berarti terjadi penularan infeksi melalui hubungan seksual yang terasa sakit itu. Pada pria,  dispareunia hampir pasti disebabkan oleh penyakit atau gangguan fisik berupa peradangan atau infeksi pada penis, buah pelir, saluran kencing, atau kelenjar prostat dan kelenjar kelamin lainnya.

4. Terapi dan Pengobatan Disfungsi Seksual

Disfungsi seksual baik yang terjadi pada pria ataupun wanita dapat dapat mengganggu keharmonisan kehidupan seksual dan kualitas hidup, oleh karena itu perlu penatalaksanaan yang baik dan ilmiah.

Prinsip penatalaksanaan dari disfungsi seksual pada pria dan wanita adalah sebagai berikut (Susilo, 1994; Pangkahila, 2001; Richardson, 1991):

a) Membuat diagnosa dari disfungsi seksual

b) Mencari etiologi dari disfungsi seksual tersebut

c) Pengobatan sesuai dengan etiologi disfungsi seksual

d) Pengobatan untuk memulihkan fungsi seksual, yang terdiri dari pengobatan bedah dan pengobatan non bedah (konseling seksual dan sex theraphy, obat-obatan, alat bantu seks, serta pelatihan jasmani).

Pada kenyataannya tidak mudah untuk mendiagnosa masalah disfungsi seksual. Diantara yang paling sering terjadi adalah pasien tidak dapat mengutarakan masalahnya semua kepada dokter, serta perbedaan persepsi antara pasien dan dokter terhadap apa yang diceritakan pasien. Banyak pasien dengan disfungsi seksual membutuhkan konseling seksual dan terapi, tetapi hanya sedikit yang peduli (Philips, 2000).

Oleh karena masalah disfungsi seksual melibatkan kedua belah pihak yaitu pria dan wanita, dimana masalah disfungsi seksual pada pria dapat menimbulkan disfungsi seksual ataupun stres pada wanita, begitu juga sebaliknya, maka perlu dilakukan dual sex theraphy. Baik itu dilakukan sendiri oleh seorang dokter ataupun dua orang dokter dengan wawancara keluhan terpisah (Barry, Hodges, 1987).

Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa terapi atau penanganan disfungsi seksual pada kenyataanya tidak mudah dilakukan, sehingga diperlukan diagnosa yang holistik untuk mengetahui secara tepat etiologi dari disfungsi seksual yang terjadi, sehingga dapat dilakukan penatalaksanaan yang tepat pula.

Seminar sehari dengan tema”Hangatnya Ranjang, Bahagianya Keluarga”

PSKS bersama  LPPM UNS Solo dan bekerja sama dengan sponsor-sponsor lainnya mengadakan seminar sehari dengan tema “Hangatnya Ranjang, Bahagianya Keluarga”

Pelaksanaan seminar , Sabtu 14 November 2009 jam 08.00 - 14.00 WIB bertempat di Hailai International Club.

KEHIDUPAN SEKSUAL WANITA SAAT MEMASUKI USIA MENOPAUSE

Pada saat wanita memasuki usia menopouse maka wanita mengalami penurunan jumlah kadar hormon estrogen dalam darah. Seperti kita ketahui secara definisi bahwa menopause adalah berhentinya siklus menstruasi untuk selamanya, keadaan yang demikian dipahami oleh sebagian masyarakat kita terutama para generasi tua bahwa pada keadaan menopause, wanita sudah tidak boleh melakukan hubungan seks. Mitos yang demikian ini di sisi lain di pahami oleh para wanita bahwa sperma yang masuk melalui vaginanya tidak akan dapat keluar lagi sehingga dapat menyebabkan penyakit busung, juga karena penurunan kadar estrogen dan progesteron tadi maka akan terjadi sulitnya keluar cairan vagina ataupun hanya sedikit mengeluarkan cairan yang dapat berfungsi sebagai rubrikan tersebut sehingga akan menyebabkan rasa nyeri yang sangat pada saat penetrasi sehingga baik suami ataupun istri tersebut merasakan tidak nyaman pada saat melakukan hubungan seks. Hal ini pula lah yang di jadikan dasar bagi para laki-laki untuk menjustifikasi kebolehannya melakukan hubungan seks ekstra marital dengan wanita lain ataupun menikah lagi.

Menopause (Klimakterium) adalah suatu masa peralihan dalam kehidupan wanita, dimana:

- ovarium (indung telur) berhenti menghasilkan sel telur

- aktivitas menstruasi berkurang dan akhirnya berhenti

- pembentukan hormon wanita (estrogen dan progesteron) berkurang.

Menopause sebenarnya terjadi pada akhir siklus menstruasi yang terakhir. Tetapi kepastiannya baru diperoleh jika seorang wanita sudah tidak mengalami siklusnya selama minimal 12 bulan. Menopause rata-rata terjadi pada usia 50 tahun, tetapi bisa terjadi secara normal pada wanita yang berusia 40 tahun. Biasanya ketika mendekati masa menopause, lama dan banyaknya darah yang keluar pada siklus menstruasi cenderung bervariasi, tidak seperti biasanya.

Pada beberapa wanita, aktivitas menstruasi berhenti secara tiba-tiba, tetapi biasanya terjadi secara bertahap (baik jumlah maupun lamanya) dan jarak antara 2 siklus menjadi lebih dekat atau lebih jarang. Ketidakteraturan ini bisa berlangsung selama 2-3 tahun sebelum akhirnya siklus berhenti.

PENYEBAB

Menopause terjadi sejalan dengan pertambahan usia, ovarium menjadi kurang tanggap terhadap rangsangan oleh LH dan FSH, yang dihasilkan oleh kelenjar hipofisa. Akibatnya ovarium melepaskan lebih sedikit estrogen dan progesteron dan pada akhirnya proses ovulasi (pelepasan sel telur) berhenti. Ada 2 macam menopause, antara lain:

1. Menopause dini adalah menopause yang terjadi sebelum usia 40 tahun. Kemungkinan penyebabnya adalah faktor keturunan, penyakit autoimun dan rokok.

2. Menopause buatan terjadi akibat campur tangan medis yang menyebabkan berkurangnya atau berhentinya pelepasan hormon oleh ovarium. Campur tangan ini bisa berupa pembedahan untuk mengangkat ovarium atau untuk mengurangi aliran darah ke ovarium serta kemoterapi atau terapi penyinaran pada panggul untuk mengobati kanker. Histerektomi (pengangkatan rahim) menyebabkan berakhirnya siklus menstruasi, tetapi selama ovarium tetap ada hal tersebut tidak akan mempengaruhi kadar hormon dan tidak menyebabkan menopause.

GEJALA

Beberapa wanita hanya mengalami sedikit gejala, sedangkan wanita yang lain mengalami berbagai gejala yang sifatnya ringan sampai berat. Hal ini adalah normal.

Berkurangnya kadar estrogen secara bertahap menyebabkan tubuh secara perlahan menyesuaikan diri terhadap perubahan hormon, tetapi pada beberapa wanita penurunan kadar estrogen ini terjadi secara tiba-tiba dan menyebabkan gejala-gejala yang hebat. Hal ini sering terjadi jika menopause disebabkan oleh pengangkatan ovarium.

Gejala-gejala yang mungkin ditemukan pada wanita menopause adalah:

1. Hot flashes terjadi akibat peningkatan aliran darah di dalam pembuluh darah wajah, leher, dada dan punggung. Kulit menjadi merah dan hangat disertai keringat yang berlebihan. Hot flashes dialami oleh sekitar 75% wanita menopause. Kebanyakan hot flashes dialami selama lebih dari 1 tahun dan 25-50% wanita mengalaminya sampai lebih dari 5 tahun. Hot flashes berlangsung selama 30 detik sampai 5 menit.

2. Vagina menjadi kering karena penipisan jaringan pada dinding vagina sehingga ketika melakukan hubungan seksual bisa timbul nyeri.

3. Gejala psikis dan emosional (kelelahan, mudah tersinggung, susah tidur dan gelisah) bisa disebabkan oleh berkurangnya kadar estrogen. Berkeringat pada malam hari menyebabkan gangguan tidur sehingga kelelahan semakin memburuk dan semakin mudah tersinggung.

3.

4. Pusing, kesemutan dan palpitasi (jantung berdebar).

5. Hilangnya kendali terhadap kandung kemih (beser).

6. Peradangan kandung kemih atau vagina.

7. Penyakit jantung dan pembuluh darah.Penurunan kadar estrogen menyebabkan meningkatnya kadar kolesterol LDL (kolesterol jahat) dan menurunnya kadar kolesterol HDL (kolesterol baik). Estrogen bertanggungjawab terhadap pembentukan lapisan epitel pada rongga rahim. Selama masa reproduktif, pembentukan lapisan rahim diikuti dengan pelepasan dinding rahim pada setiap siklus menstruasi. Berkurangnya kadar estrogen pada menopause menyebabkan tidak terjadinya pembentukan lapisan epitel pada rongga rahim. Tetapi hormon androgenik yang dihasilkan oleh kelenjar adrenal diubah menjadi estrogen dan kadang hal ini menyebabkan perdarahan pasca menopause.

8. Osteoporosis (pengeroposan tulang). Resiko tinggi terjadinya osteoporosis ditemukan pada wanita yang:

a) kurus

b) merokok

c) mengkonsumsi alkohol secara berlebihan

d) mengkonsumsi kortikosteroid

e) memiliki asupan kalsium yang rendah

f) jarang berolah raga.

Cedera ringan bisa menyebabkan fraktur (patah tulang). Fraktur paling sering terjadi pada tulang belakang, pinggul dan pergelangan tangan.

Hal ini tidak perlu dirisaukan, tetapi karena perdarahan pasca menopause bisa merupakan petunjuk adanya suatu kelainan (termasuk kanker), maka dokter selalu memeriksa setiap perdarahan yang terjadi setelah menopause.

DIAGNOSA

Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala dan hasil pemeriksaan fisik. Pada pemeriksaan Pap smear bisa diketahui adanya perubahan pada lapisan vagina akibat perubahan kadar estrogen. Pemeriksaan darah dan air kemih bisa digunakan untuk mengukur kadar estrogen, progestero serta estron dan estradiol plasma.

PENGOBATAN

Tidak semua wanita pasca menopause perlu menjalani Terapi Sulih Hormon (TSH). Setiap wanita sebaiknya mendiskusikan resiko dan keuntungan yang diperoleh dari TSH dengan dokter pribadinya.

Banyak ahli yang menganjurkan TSH dengan tujuan untuk:

1. Mengurangi gejala menopause yang tidak diinginkan

2. Membantu mengurangi kekeringan pada vagina

3. Mencegah terjadinya osteoporosis.

Beberapa efek samping dari TSH:

- perdarahan vagina

- nyeri payudara

- mual

- muntah

- perut kembung

- kram rahim.

Untuk mengurangi resiko dari TSH dan tetap mendapatkan keuntungan dari TSH, para ahli menganjurkan:

- Menambahkan progesteron terhadap estrogen

- Menambahkan testosteron terhadap estrogen

- Menggunakan dosis estrogen yang paling rendah.

- Melakukan pemeriksaan secara teratur, termasuk pemeriksan panggul, dan Pap smear sehingga kelainan bisa ditemukan sedini mungkin.

Estrogen tersedia dalam bentuk alami dan sintetis (dibuat di laboratorium).

Estrogen sintetis ratusan kali lebih kuat dibandingkan estrogen alami sehingga tidak secara rutin diberikan kepada wanita menopause.

Untuk mencegah hot flashes dan osteoporosis hanya diperlukan estrogen alami dalam dosis yang sangat rendah. Dosis tinggi cenderung menimbulkan masalah, diantaranya sakit kepala migren.

Estrogen bisa diberikan dalam bentuk tablet atau tempelan kulit (estrogen transdermal).

Krim estrogen bisa dioleskan pada vagina untuk mencegah penipisan lapisan vagina (sehingga mengurangi resiko terjadinya infeksi saluran kemih dan beser) dan untuk mencegah timbulnya nyeri ketika melakukan hubungan seksual.

Wanita pasca menopause yang mengkonsumsi estrogen tanpa progesteron memiliki resiko menderita kanker endometrium. Resiko ini berhubungan dengan dosis dan lamanya pemakaian estrogen.

Jika terjadai perdarahan abnormal dari vagina, dilakukan biopsi lapisan rahim.

Mengkonsumsi progesteron bersamaan dengan estrogen dapat mengurangi resiko terjadinya kanker endometrium.

Biasanya terapi sulih hormon estrogen tidak dilakukan pada wanita yang menderita:

- atau pernah menderita kanker payudara atau kanker endometrium stadium lanjut

- perdarahan kelamin dengan penyebab yang tidak pasti

- penyakit hati akut

- penyakit pembekuan darah

- porfiria intermiten akut.

Kepada wanita tersebut biasanya diberikan obat anti-cemas, progesteron atau klonidin untuk mengurangi hot flashes. Untuk mengurangi depersi, kecemasan, mudah tersinggung dan susah tidur bisa diberikan anti-depresi.

Pemberian progesteron dengan estrogen

Progesteron diberikan bersamaan dengan estrogen untuk mengurangi resiko terjadinya kanker endometrium.

Biasanya estrogen dan progesteron diberikan setiap hari. Jadwal pemberian ini biasanya akan menyebabkan perdarahan vagina yang tidak teratur pada 2-3 bulan pertama dari terapi, akan tetapi sesudahnya perdarahan biasanya akan berhenti.

Atau pemberian estrogen dan progesteron bisa dilakukan secara bergantian; selama 2 minggu setiap hari minum estrogen lalu selama beberapa hari minum progesteron dan estrogen, kemudian beberapa hari di akhir bulan sama sekali tidak minum estrogen maupun progesteron. Dengan jadwal ini, perdarahan vagina terjadi pada hari dimana hormon tidak diminum. Progesteron tersedia dalam bentuk tablet atau suntikan melalui otot.Efek samping dari progesteron adalah perut kembung, sakit payudara, sakit kepala, perubahan suasana hati dan jerawat.